Presiden Belarusia, Lukashenko, mau digulingkan lewat Revolusi Warna

Oleh: F. William Engdahl

21 Agustus 2020

 

Kekuatan Globalis sepertinya mau menggulingkan Presiden Belarusia, Alexander Lukashenko. Tapi, kenapa baru sekarang? Barangkali salah satu alasannya adalah karena dia membangkang dalam kasus Covid-19. Kini, Belarusia sedang diserang dengan kekuatan penuh Revolusi Warna yang dipimpin Barat. Aksi unjuk rasa yang terjadi selama pemilu 9 Agustus menunjukkan setiap tanda dari proses destabilisasi Revolusi Warna yang biasa, yang dibuat oleh LSM Barat yang biasa, serta kontraktor swasta yang menggunakan media sosial dalam mengarahkan aksi unjuk rasa.

Di rezim Lukashenko, Belarusia menentang WHO dan menolak untuk menerapkan kebijakan lockdown. Pada tanggal 13 Agustus, di Belarusia mencatat 617 kematian terkait Covid-19. Belarusia berdiri bersama dengan Swedia dan Negara Bagian Dakota Selatan, Amerika Serikat, sebagai wilayah yang berhasil menghindari kebijakan global lockdown dalam mengendalikan pandemi. Belarusia memerintahkan untuk tidak menerapkan lockdown agar sebagian besar industri terus berjalan. Sekola tetap dibuka selain 3 minggu selama Paskah. Tidak ada persyaratan penggunaan masker, meskipun kelompok sukarelawan mendistribusikan masker dan pada bulan Juni Uni Eropa mengirim APD termasuk masker ke pejabat Kesehatan untuk didistribusikan. Sepak bola dan parade Kemenangan 9 Mei berjalan seperti biasa. Dan sekarang Belarusia berdiri sebagai contoh yang tidak diinginkan oleh WHO, dan kawan-kawan.

Satu hal yang sangat penting adalah bahwa Kementerian Kesehatan Belarusia mengabaikan rekomendasi WHO yang sangat cacat yang mana mengklasifikasikan “kecurigaan” yang ada sebagai kematian akibat Covid-19.

Semua ini tidak sesuai dengan keinginan para Kekuatan globalis. WHO yang korup, yang donor swasta utamanya adalah Gates Foundation, mengkritik pemerintah Lukashenko karena kurangnya karantina dan pada bulan Juni, ketika mengumumkan akan memberikan pinjaman kepada Belarusia sebesar 940 juta USD, IMF mengatakan bahwa pinjaman itu tergantung pada negara yang memberlakukan karantina, isolasi dan perbatasan tertutup, serta tuntutan yang ditolak Lukashenko sebagai “tidak masuk akal”. Dia mencatat dalam pernyataan yang dikutip secara luas, “IMF terus menuntut kami untuk melakukan karantina, isolasi, dan jam malam. Ini tidak masuk akal. Kami tidak akan menari mengikuti irama siapa pun.”

Revolusi Warna Dimulai

Jelas kalau NATO dan lingkaran globalis Barat telah bekerja untuk berusaha menggulingkan Lukashenko jauh sebelum peristiwa Covid-19. Barat dan LSM “demokrasi”-nya telah lama menargetkan Lukashenko. Selama Pemerintahan Bush pada tahun 2008, Menteri Luar Negeri A.S, Condoleezza Rice, mengecam Lukashenko sebagai “dictator terakhir” Eropa. Setelah itu, Rusia membentuk Uni Ekonomi Eurasia Bersama (EAEU) dengan Kazakhstan dan Belarusia menjadi anggotanya. Hingga saat ini Lukashenko telah menolak usulan Putin untuk bergabung dengan Rusia dalam satu Negara Persatuan yang besar. Mungkin suatu saat bisa berubah.

Aksi unjuk rasa pecah di Belarusia setelah pemilu 9 Agustus yang memberi Lukashenko sekitar 80% suara melawan kandidat oposisi pada menit-menit terakhir, kandidat ‘barat’ Svetlana Tikhanovskaya. Aksi unjuk rasa tersebut dijalankan dengan menggunakan model yang sama dengan CIA dan berbagai LSM “demokrasi”, yang dipimpin oleh National Endowment for Democracy (NED) yang dikembangkan di Serbia, Ukraina, Rusia, dan banyak negara lain yang pemimpinnya menolak tunduk pada perintah globalis. Salah satu pendiri NED, Allen Weinstein, membuat pernyataan di Washington Post pada tahun 1991, “Banyak dari apa yang kita lakukan hari ini dilakukan secara diam-diam 25 tahun yang lalu oleh CIA.” NED mendapatkan pembiayaannya dari pemerintah AS, tetapi bertindak di seluruh dunia sebagai LSM yang mempromosikan demokrasi “swasta”, di mana NED berperan penting dalam hamper semua destabilisasi perubahan rezim yang didukung Washington sejak runtuhnya Uni Soviet pada awal tahun 1990-an.

Pada tahun 2019, NED mencantumkan, di situs webnya, sekitar 34 proyek hibah NED di Belarus. Semuanya diarahkan untuk membina dan melatih serangkaian kelompok oposisi anti-Lukashenko dan LSM domestik. Hibah diberikan untuk proyek-proyek seperti, “Penguatan LSM: Untuk meningkatkan keterlibatan masyarakat lokal dan regional … untuk mengidentifikasi masalah lokal dan mengembangkan strategi advokasi.” Cara lainnya adalah “memperluas penyimpanan online untuk publikasi yang tidak dapat diakses dengan mudah di negara ini, termasuk karya tentang politik, masyarakat sipil, sejarah, hak asasi manusia, dan budaya independen”. Kemudian, hibah NED lainnya diberikan, “Untuk membela dan mendukung jurnalis dan media independen.” Dan satu lagi, “Penguatan LSM: Untuk mendorong keterlibatan masyarakat muda.” Hibah NED besar lainnya diberikan untuk, “melatih partai-partai demokrasi dan gerakan dalam kampanye advokasi yang efektif.” Di balik proyek NED yang terdengar tidak bersalah adalah pola menciptakan oposisi yang terlatih secara khusus sesuai dengan model NED CIA.

The Murky Nexta

Peran kunci dalam mengkoordinasikan aksi unjuk rasa “spontan” dimainkan oleh saluran teks dan video yang berbasis di Warsawa yang disebut “Nexta”, berdasarkan aplikasi chatting Telegram. Nexta, berasal dari bahasa Belarusia untuk “seseorang”, secara nominal dipimpin oleh seseorang pengasingan Belarusia berusia 22 tahun yang berbasis di Polandia bernama Stepan Putila. Ketika internet Belarusia ditutup oleh pemerintah sejak beberapa hari, Nexta, yang beroperasi dari Polandia, telah memposting banyak video aksi protes dan perlakuan keras polisi dan mengklaim telah memiliki 2 juta pengikut. Ini merupakan aksi cepat yang menjadi jantung Revolusi Warna setelah Belarusia menutup akses internetnya.

Stepan Putila juga dikenal dengan nama Stepan Svetlov. Putila sebelumnya bekerja untuk seluran Belsat yang berbasis di Warsawa yang menyiarkan propaganda ke Belarusia dan didanai oleh Kementerian Luar Negeri Polandia dan USAID. Salah satu pendiri dan Pemimpin Redaksi di Nexta sejak Maret 2020 adalah seorang pengasingan Belarusia bernama Roman Protasevich yang pernah bekerja untuk media propaganda Pemerintah AS, Radio Free Europe/Radio Liberty. Protasevich juga bekerja untuk Euroradio yang berbasis di Polandia yang Sebagian didanai oleh USAID. Dia aktif dalam demostrasi CIA di Lapangan Maidan 2013-14 di Kiev dan menurut kesukaannya di Facebook, dia dekat dengan Detasemen neo-nasi Pahonia Ukraina. Pada April 2018, Protasevich berakhir di Departemen Luar Negeri AS di Washington. Di Facebook-nya, dia menulis, “Minggu terpenting dalam hidupku dimulai.” Pada hari yang sama dia memposting foto dirinya di dalam Departemen Luar Negeri AS, menyatakan “Tidak pernah mengalami begitu banyak pertemuan penting dan menarik dalam hidupku.” Setelah meninggalkan Washington, dia bekerja untuk radio yang didanai USAID di Belarus Euroradio.fm pada tanggal 31 Agustus 2018. Dua tahun kemudian Protasevich mengkoordinasikan acara anti-Lukashenko dari Warsawa melalui Nexta. Apakah ini kebetulan?

Nexta yang menggunakan Telegram yang terdaftar di London, dan berada di Polandia yang merupakan anggota NATO, di luar negeri, sejauh ini telah menghindari penutupan. Melalui media sosial, Nexta mengirimkan informasi seperti rencana unjuk rasa, kapan dan di mana berkumpul untuk unjuk rasa, kapan memulai aksi mogok, di mana polisi berkumpul, dan sebagainya. Nexta juga telah mengedarkan teks tuntutan pengunjuk rasa, pembaruan tentang penangkapan, lokasi penangkapan oleh polisi anti huru-hara, dan kontak untuk pengacara dan pembela hak asasi manusia serta peta yang menunjukkan di mana polisi berada dan alamat bagi pengunjuk rasa untuk bersembunyi.

Nexta juga menyarankan pelanggan cara melewati pemblokiran internet dengan menggunakan proxy dan cara lain. Seperti yang dijelaskan oleh Maxim Edwards, jurnalis Inggris pro-oposisi di Global Voices, Nexta, “Jelas bahwa saluran tersebut tidak hanya melaporkan aksi unjuk rasa, tetapi telah memainkan peran penting dalam mengorganisirnya.”

Tidak diragukan lagi, koordinasi seperti itu yang berasal dari luar negeri tidak akan mungkin terjadi kecuali Nexta mendapat bantuan yang sangat canggih dari badan intelijen tertentu. Nexta mengklaim itu tergantung pada “sumbangan” dan iklan untuk pendanaan, tetapi mengklaim tidak mendapatkan “hibah” dari pemerintah atau Yayasan. Benar atau tidak, itu adalah jawaban yang memberikan sedikit kejelasan. Apakah USAID salah satu “donor” mereka atau Open Society Foundations? Poin yang relevan adalah bahwa Nexta menggunakan teknologi dunia maya yang tidak dapat ditutup oleh Belarusia. Pada tahun 2018, pemerintah Rusia gagal mencoba untuk melarang Telegram karena menolak mengungkapkan source code mereka.

Taruhan Global

Kandidat politik oposisi untuk Lukashenko juga secara mengejutkan pintar dalam taktik, menunjukkan bahwa mereka dibimbing oleh para professional. Svetlana Tikhanovskaya, tersangka “pemula politik” yang turun tangan ketika suaminya ditangkap dan dilarang mencalonkan diri, mengklaim dirinya memenangkan pemilu berdasarkan exit pollers. Pada tanggal 14 Agustus, Tikhanovskaya mengumumkan bahwa dirinya sedang membentuk sebuah “dewan koordinasi” untuk mengamankan transfer kekuasaan secara damai. Kejadian ini menggemakan seruan sebelumnya oleh kandidat oposisi lainnya, Valery Tsepkalo, mantan Duta Besar Belarusia untuk Washington yang dilarang mencalonkan diri sebagai presiden, seperti suami Tikhanovskaya. Tsepkalo menyebutnya sebagai “fron keselamatan nasional”.

Meskipun Belarusia adalah negara kecil dengan penduduk kurang dari 10 juta, taruhan dari upaya destabilisasi Barat ini sangat besar. Pada tahun 2014, kepada CIA Obama, John Brennan, memimpin kudeta yang didukung AS di Ukraina untuk mencegah Ukraina bergabung dengan persatuan ekonomi Rusia (EAEU). Kudeta itu tidak memberi Ukraina sesuatu yang positif. Sebaliknya menghasilkan aturan yang bersahabat dengan Washington, terutama di bawah kepemimpinan Obama.

NED mencoba mengguncang Armenia pada tahun 2018, bagian lain dari Uni Ekonomi Eurasia. Jika mereka kini hendak mematahkan Belarusia, maka konsekuensi militer dan politik bagi Rusia bisa sangat parah. Terlepas apakah pembangkangan yang dilakukan Lukashenko tentang virus corona WHO punya peran atau tidak dalam upaya Revolusi Warna di Minsk yang sedang berlangsung, jelas beberapa kekuatan yang ada di Barat, termasuk Uni Eropa dan Washington akan senang untuk meruntuhkan Belarusia seperti yang mereka lakukan di Ukraina bertahun-tahun lalu. Jika mereka berhasil, kami yakin mereka akan lebih berani untuk mencoba Rusia selanjutnya.

Catatan Admin:

  • Tulisan ini diambil dari artikel yang berjudul, “Can China Silk Road Survive Coronavirus?” yang ditulis oleh F. William Engdahl yang merupakan seorang dosen dan konsultan risiko strategis, dan dia memegang gelar dalam bidang politik dari Universitas Princeton. Dia merupakan penulis terlaris terkait minyak dan geopolitik, khususnya untuk majalah online “New Eastern Outlook”.
  • Ketika mengambil atau mengutip segala materi baik dalam bentuk tulisan maupun hasil terjemahan dari website Eskatogi Islam ini, mohon masukkan tautan ke artikel asli.

Sumber: F. William Engdahl, America’s Own Color Revolution, http://www.williamengdahl.com/englishNEO16Jun2020.php

 

Download

Terkait

Leave a Comment