Bisakah Jalur Sutra Baru Tiongkok Selamat dari Virus Corona?

Oleh: F. William Engdahl

1 Juni 2020

 

Tujuh tahun setelah diumumkan pada tahun 2013, Mega-Proyek Infrastruktur yang menjadi prioritas Negara Tiongkok, Belt and Road Initiative (BRI), menghadapi masalah besar. Masalah dan tuduhan serius mulai muncul ketika Tiongkok dituduh membujuk negara-negara miskin ke dalam apa yang disebut oleh seorang analis India terkemuka sebagai “diplomasi perang hutang” yang muncul pada tahun 2018 ketika Malaysia dan Pakistan – di bawah pemimpin baru – menuntut negosiasi ulang dengan Beijing. Kini virus corona SARS-CoV-2 telah memberi dampak pada ekonomi global, dengan runtuhnya ekonomi secara serentak mulai dari Tiongkok, Amerika Serikat, Uni Eropa hingga ke negara-negara berkembang di dunia, dan hal ini memberikan tantangan baru yang cukup mengejutkan bagi proyek berharga Tiongkok yang satu ini.

Ketika Xi Jinping pertama kali mengumumkan tentang proyek BRI Tiongkok yang cukup ambisius, yang kemudian dikenal sebagai Economic Silk Road pada tahun 2013, proyek ini disambut dengan sangat baik sebagai bentuk dorongan yang sangat dibutuhkan dalam membangun infrastruktur dunia yang memberikan harapan untuk mengangkat ratusan juta jiwa di seluruh Eurasia dan lainnya dari kemiskinan. Banyak pihak yang melihat mega-proyek ini sebagai upaya untuk meniru model ekonomi yang telah membuat Tiongkok menjadi negara dengan pertumbuhan industri paling luar biasa dari negara mana pun dalam sejarah modern.

Meskipun sejauh ini informasi detail masih bersifat anekdot 1), namun cukup jelas bahwa lockdown global di sekitar Covid-19 memiliki dampak yang besar bagi banyak negara anggota Mega-Proyek BRI (Belt and Road Initiative). Masalah utamanya adalah jalur utama BRI Tiongkok untuk infrastruktur kereta dan perkapalan telah melibatkan perjanjian dengan beberapa negara dengan ekonomi termiskin di dunia dan beberapa risiko kredit terbesar.

Pada awalnya, sebagian besar pendanaan berasal dari bank-bank pemerintah Tiongkok, demi memulai konsep BRI dengan cepat. Meskipun jumlah yang pasti tidak tersedia dari badan dan instansi Tiongkok, namun perkiraan terbaik dari Bank Dunia adalah bahwa pada tahun 2018 Beijing telah mengeluarkan total dana sebanyak 575 miliar Dolar dalam komitmen investasi luar negeri dalam proyek-proyek BRI. Secara resmi Beijing telah menyatakan rencana untuk berinvestasi hingga 1 triliun Dolar selama beberapa dekade dan berharap dapat memikat penyandang dana lainnya hingga 8 triliun Dolar.

Menurut berbagai penelitian, sebagian besar dukungan keuangan Tiongkok untuk proyek infrastruktur di negara anggota BRI berbentuk pinjaman dengan ketentuan yang bersifat perdagangan, pendanaan proyek di mana pendapatan yang dihasilkan dari rel atau pelabuhan digunakan untuk membayar kembali pinjaman. Karena banyak penerima pinjaman dana seperti Sri Lanka sudah berada dalam status ekonomi yang genting, maka risiko gagal bayar jadi lebih tinggi, bahkan sebelum terjadinya krisis global COVID-19. Saat ini, keadaan jauh lebih buruk.

Di antara 50 negara yang punya hutang paling banyak dengan Tiongkok adalah negara Pakistan, Venezuela, Angola, Ethiopia, Malaysia, Kenya, Sri Lanka, Afrika Selatan, Indonesia, Kamboja, Bangladesh, Zambia, Kazakhstan, Ukraina, Pantai Gading, Nigeria, Sudan, Kamerun, Tanzania, Bolivia, Zimbabwe, Aljazair dan Iran. Jelas kalau ini bukan negara dengan peringkat kredit AAA. Sebelum kebijakan lockdown Covid-19, negara-negara tersebut sedang berjuang. Kini beberapa negara pengutang BRI meminta Beijing untuk memberikan keringanan.

Negara-negara dengan tingkat kredit berdasarkan Standard & Poor’s Foreign Rating (Maret 2019)

Keringanan hutang?

Sampai sekarang Tiongkok sudah bereaksi atas tuntutan Malaysia dan Pakistan untuk meringankan hutang sebelumnya secara pragmatis 2), perubahan ketentuan perjanjian hutang sebelumnya. Bagaimanapun saat ini, pertumbuhan ekonomi Tiongkok secara resmi berada di level terendah selama 30 tahun terakhir, dan masih jauh di bawah kapasitas penuh setelah lockdown Virus Corona bulan Januari-Maret, dan bank-bank Tiongkok menghadapi krisis hutang internasional yang belum pernah dialami sebelumnya, dalam beberapa hal mirip dengan Amerika Latin dan negara-negara Afrika pada akhir tahun 1970-an. Tiongkok tidak siap untuk melangkah saat ini, dengan masalah perbankan domestik utama dan hutang bank yang cukup mengejutkan.

Semua negara anggota BRI bergantung pada pendapatan ekspor ke ekonomi industri untuk membayar hutang BRI kepada Tiongkok. Kehancuran inilah yang terjadi selama lockdown dunia. Negara-negara penghasil minyak seperti Angola atau Nigeria mengalami pendapatan minyak yang turun drastis karena transportasi udara, darat dan laut terhenti sejak Februari. Selain itu, karena lockdown-nya ekonomi industri Uni Eropa dan Amerika Utara, mereka tidak lagi mengimpor bahan baku dari negara-negara mitra BRI Tiongkok. Kembalinya keadaan menjadi normal, bahkan, masih belum terlihat. Perusahaan pertambangan Afrika yang memproduksi lithium, kobalt, tembaga dan bijih besi mengalami penurunan permintaan dari Tiongkok.

Pakistan dan Indonesia

Pakistan, salah satu dari negara mitra BRI, adalah negara yang paling strategis bagi Tiongkok. Koridor Ekonomi BRI Tiongkok-Pakistan, yang semula memproyeksikan total dana 61 miliar Dolar, dikurangi menjadi lebih mudah dikelola sebesar 50 miliar Dolar pada tahun 2018 ketika Imran Khan menjadi Perdana Menteri. Kemudian ekonomi Pakistan jatuh lagi pada tahun 2019. Sekarang, tahun 2020, dengan menyebarnya kasus Covid-19 di seluruh Pakistan, pemerintah mereka melaporkan penurunan 54% dalam perdagangan ekspor pada bulan April. Laporan bulan Maret Konferensi PBB untuk Perdagangan dan Pembangunan (UNCTAD) memperkirakan bahwa Pakistan akan menjadi salah satu negara yang paling terpukul akibat dari wabah Covid-19 bersamaan dengan negara mitra BRI sub-Sahara Afrika. Keadaan ini menghadapi sebuah “kombinasi krisis yang menakutkan”, termasuk peningkatan hutang, spiral deflasi serta dampak bencana pada sektor kesehatan.

Jelas bahwa perkembangan Virus Corona sejak bulan Januari di Tiongkok dan Pakistan, pertumbuhan ekonomi semakin hancur. Pemerintah Imran Khan sedang Menyusun daftar proyek BRI baru dengan harapan Beijing akan menyetujuinya Ketika Xi Jinping berkunjung pada akhir tahun ini. Pada poin ini, patut untuk dipertanyakan apakah Tiongkok bersedia memberikan pinjaman lebih banyak lagi kepada Pakistan.

Indonesia adalah mitra utama BRI lainnya di Asia di mana proyek-proyek Tiongkok terpaksa berhenti akibat wabah Covid-19. Jalur kereta Jakarta-Bandung berkecepatan tinggi sepanjang 150 km dengan biaya 6 miliar Dolar sudah tidak lagi aktif karena personil utama Tiongkok tidak lagi bisa berkunjung akibat lockdown di Indonesia maupun Tiongkok. Proyek kereta yang satu ini dimiliki oleh China Railway International sebesar 40% dan dibiayai terutama oleh pinjaman dari Bank Pembangunan Tiongkok (CDB). Pada tahun 2019, Presiden Indonesia Joko Widodo mengusulkan daftar proyek dengan total dana sekitar 91 miliar Dolar ke Tiongkok. Masa depan Indonesia diragukan karena runtuhnya pendapatan minyak dan gas Indonesia.

Afrika

Sebuah laporan baru-baru ini, dari lembaga Fitch Rating, memperkirakan bahwa wabah Virus Corona akan berdampak serius terhadap pertumbuhan Afrika sub-Sahara, terutama Ghana, Angola, Kongo, Guinea Ekuator, Zambia, Afrika Selatan, Gabon dan Nigeria – semua negara yang mengekspor sejumlah besar komoditas ke Tiongkok. Bank-bank negara Tiongkok meminjamkan 19 miliar Dolar untuk proyek-proyek energi dan infrastruktur Afrika sub-Sahara sejak 2014, sebagian besar pada tahun 2017. Secara total, negara-negara Afrika berhutang sekitar 145 miliar Dolar ke Tiongkok dengan 8 miliar Dolar yang jatuh tempo tahun ini.

Selama lebih dari satu dekade, Tiongkok telah terlibat di Afrika, bahkan sebelum Mega-Proyek BRI ada. Nigeria yang kaya minyak telah menjadi fokus utama bagi investasi BRI dengan Huawei Technologies yang menginvestasikan dana sebesar 16 miliar Dolar hingga saat ini dalam infrastruktur Teknologi Informatika. Perusahaan konstruksi BUMN Tiongkok, CCECC, punya kontrak untuk membangun empat terminal bandara internasional. Selain itu, ada kontrak lain untuk membangun jalur kereta Lagos-Kano, Lagos-Calabar dan jalur kereta Pelabuhan Harcourt-Maiduguri, dengan biaya masing-masing 9 miliar Dolar, 11 miliar Dolar dan 15 miliar Dolar. Perusahaan China National Offshore Oil Corp. Telah menginvestasikan dana sekitar 16 miliar Dolar dalam proyek-proyek industri minyak dan gas Nigeria.

BRI mencapai puncaknya?

Rasa sakit kepala yang makin meningkat bagi bank-bank dan perusahaan Tiongkok di 138 negara yang sekarang berafiliasi dengan OBOR Tiongkok, serta masalah ekonomi di Venezuela, Iran dan banyak negara berkembang lainnya, jelas kalau Tiongkok tidak bisa menghindar untuk memikirkan ulang strategis utama BRI. Tahun 2018, Komite Tetap Politbiro Partai Komunis Tiongkok mendirikan Lembaga think tank – Pusat Studi Keamanan OBOR di Shanghai – untuk mendapatkan gambaran yang komprehensif dari komitmen global yang luas di bawah panji-panji BRI untuk pertama kalinya.

Dalam laporan resmi tahun 2019, ‘The Belt and Road Initiative: Progress, Contributions and Prospects’, mereka mengakui bahwa “BRI sangat membutuhkan dana” dari model-model baru investasi internasional dan pendanaan untuk skala besar.

Catatan Admin:

  • Tulisan ini diambil dari artikel yang berjudul, “Can China Silk Road Survive Coronavirus?” yang ditulis oleh F. William Engdahl yang merupakan seorang dosen dan konsultan risiko strategis, dan dia memegang gelar dalam bidang politik dari Universitas Princeton. Dia merupakan penulis terlaris terkait minyak dan geopolitik, khususnya untuk majalah online “New Eastern Outlook”.
  • Ketika mengambil atau mengutip segala materi baik dalam bentuk tulisan maupun hasil terjemahan dari website Eskatogi Islam ini, mohon masukkan tautan ke artikel asli.

Sumber: F. William Engdahl, Can China Silk Road Survive Coronavirus?, http://www.williamengdahl.com/englishNEO1Jun2020.php

 

Download

Referensi   [ + ]

Terkait

Leave a Comment