Sholat

Download

Oleh: Maulana Fazlur Rahman Ansari Al Qaderi rahimahullah

 

Saat ini, apabila seseorang bertemu dengan Muslim yang baik di mana pun, tak peduli apakah dia berpendidikan atau tidak, dan orang itu bertanya kepada Muslim itu tentang apa yang dia pahami tentang kehidupan dalam Islam, orang itu mungkin akan menerima jawaban: “Islam adalah lima hal: mengucapkan dua kalimat syahadat, melaksanakan solat, membayar zakat, berpuasa, dan melaksanakan ibadah haji.” Di satu sisi jawaban itu memang benar, tapi tidak di sisi lain. Tidak benar menganut lima pilar ini sebagai sistem yang lengkap dalam kehidupan. Lima pilar ini akan membentuk sebuah kultus bagi seseorang yang hendak mencapai lima tujuan ini secara ritual. Saya seharusnya bertemu dengan orang yang paham bagaimana melaksanakan solat, bagaimana berpuasa dan bagaimana melaksanakan ibadah haji.

Faktanya, lima hal tersebut hanya lah landasan Islam. Nabi Muhammad (صلى الله عليه وسلم) bersabda:

Buniyal ‘islamu ‘ala khumsin

Cara hidup Islam berlandaskan pada lima hal.

Pondasi Rumah (ilustrasi)

Coba anda pikir tentang contoh berikut ini. Jika anda punya seorang teman yang sudah selesai membangun pondasi sebuah rumah, lalu teman anda tersebut mengundang semua teman-temannya untuk merayakan pesta teh dalam rangka merayakan keberhasilannya (membangun pondasi sebuah rumah). Apa yang akan diucapkan teman-temannya selain berkata kalau dia sudah gila; karena dia hanyalah membangun pondasi (dasar-dasar), dan itu hanya sebuah makna dan masih belum berakhir (rumahnya masih belum selesai dibangun). Ketika bangunan selesai dibangun, baru lah bisa dikatakan berakhir. Jadi siapa pun yang menjalani hidupnya tanpa lima landasan tersebut, dia bukan lah seorang Muslim. Sudah jelas, tak peduli seberapa baik orang tersebut. Nabi Muhammad (صلى الله عليه وسلم) telah bersabda bahwa ada lima landasan (pondasi/dasar-dasar) Islam. Sayangnya sebagian besar dari kita menghabiskan hidup hanya melakukan landasan tersebut. Orang seperti itu hanya membangun pondasi Islam dan bukan membangun Islam, dan Allah Yang Maha Bijaksana akan mengadili atas apa yang sudah dia perbuat. Islam harus dibangun atas dasar lima landasan tersebut. Bagaimanapun, jika kita hanya melakukan landasan itu, berarti kita masih belum menyelesaikan tugas yang diberikan. Pondasi yang kita buat tergantung insinyur yang kita pekerjakan. Pondasi yang kita buat bisa kuat atau bisa sangat lemah. Sayangnya, kebanyakan pondasi ini dibuat dengan ketidaktahuan. Dan karena ketidaktahuan-lah, pondasinya jadi sangat lemah, hingga akhirnya kita meninggalkan dunia ini untuk menghadap Allah (سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى) dan Nabi Muhammad (صلى الله عليه وسلم).

Dalam sebuah Hadits Shahih, dikatakan bahwa ketika seseorang wafat dan dikubur, malaikat akan bertanya kepadanya. Salah satu pertanyaan pertama adalah: “Siapa tuanmu?” Dan pertanyaan kedua adalah: “Apa yang kamu tahu tentangnya?” Dan setiap orang akan melihat Nabi Muhammad (صلى الله عليه وسلم) dan malaikat akan bertanya: “Apa yang kamu tahu tentangnya?” Setelah wafatnya seorang Muslim atau non-Muslim, tokoh pertama yang akan ditemui setelah malaikat adalah Nabi Muhammad (صلى الله عليه وسلم).

Ketika kita meninggalkan dunia ini, seharusnya jangan dengan cara kekanak-kanakan dengan meremehkan pondasi Islam sepanjang waktu dan berpikir kalau kita telah memenuhi semua kewajiban lainnya sebagai Muslim. Sayang sekali! Bahkan pondasi yang kita buat banyak yang aneh dan sekedar pondasi belaka.

Hal ini bisa terjadi karena kita tidak berusaha keras membaca Al Qur’an. Ulama zaman sekarang, dan sayangnya saya dianggap sebagai salah satu ulama. Tapi mungkin saya berkata bahwa ulama benar-benar tidak mengajarkan pilar Islam yang seharusnya mereka ajarkan. Mereka hanya mengajarkan ahkaam al-fiqh, yang merupakan bagian ritual dari pilar tersebut dengan struktur seperti jumlah sunnahs, waajibaat atau faraa’id. Bukan berarti saya berkata ini tidak penting; hanya saja Islam bukan hanya soal itu. Misalnya, metodologi ibadah yang khusyuk tidak diajarkan. Ghaalib berkata tentang haji: “Jangan tertipu dengan ihraam yang dikenakan saat haji, sementara dia berada di tanah Haraam, dan dia tidak tahu apa itu Haraam atau apa itu Haji, karena dia hanya mengenakan pakaian haji dan melakukan ritual.”

Jadi solat yang kita lakukan menurut aturan fiqh – begitu banyak sunnahs, begitu banyak nawaafil – semuanya memang benar diajarkan Nabi Muhammad (صلى الله عليه وسلم). Kita seharusnya beribadah menurut yang dianjurkan Nabi Muhammad (صلى الله عليه وسلم). Bagaimanapun, solat tidak sekedar ‘olahraga senam’. Solat jauh lebih bermakna dari itu, karena solat memang merupakan amal untuk menyatukan diri dengan Allah (سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى) di mana ‘abd (hamba yang tulus) Allah bersentuhan dengan-Nya. Ini bukan lah ritual, karena ritual tidak pernah membayar. Sebagai contoh, ketika anda makan dengan sembarangan dan anda tidak peduli dengan apa yang anda makan atau minum, atau apakah makanan itu sehat atau tidak, atau anda tidak memperhatikan jumlah makanan yang anda makan dan kapan anda seharusnya makan dan hanya sekedar makan, dengan segera anda pasti akan jatuh sakit dan akhirnya dirawat. Anda mengorbankan Ruh (jiwa) demi kehidupan ritual. Ritual itu seperti tubuh yang mati. Tanpa adanya Ruh, tidak lah bernilai. Bahkan orang yang dicintai akan meminta tubuh yang mati untuk disingkirkan dari hadapan bumi.

Dan apa yang Allah (سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى) firmankan tentang ritual yang mati, ritual tanpa Ruh? Nabi Muhammad (صلى الله عليه وسلم) bersabda tentang solat yang linglung, di mana akan dilemparkan ke wajah orang-orang yang solat! Bagaimana cara kita solat, saudara/i ku sekalian? Apakah solat hanya kebiasaan sebagian besar dari kita atau kita solat karena takut, akankah Allah (سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى) murka dan musibah menimpa kita? Selidikilah sendiri. Mengapa kita solat? Tanyakan pada orang lain dan anda akan mendapati di alam bawah sadar bahwa ada sebuah gagasan: “Saya ingin kebaikan dunia ini dan saya ingin menjauh dari kejahatan, dan hanya Allah (سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى) lah yang bisa melindungiku dari kejahatan dan hanya Dia lah yang bisa memberikan manfaat kepadaku, karena itu saya harus solat.”

Berapa banyak dari kita, ketika kita berdo’a setelah solat – dari lubuk hati yang paling dalam – dengan do’a yang tulus meminta apapun kecuali hal-hal bagus di dunia ini? Berapa banyak dari kita berdo’a kepada Allah (سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى) sebagaimana suufiis berkhotbah dan mengajarkan:

Yaa Allah, Engkaulah tempat tujuan dan hasratku, kepada-Mu lah aku berpaling demi kekuatan (konsolidasi); Kenikmatan yang Engkau berikan adalah kedamaian dan kepuasan-Ku.

Tapi tujuan kita bukanlah untuk memperoleh kesenangan dari-Nya; melainkan untuk memberi kita kebaikan dunia di muka bumi ini! Saya adalah makhluk yang tidak berharga. Jutaan orang dari komunitas berbeda hanya peduli dengan kebutuhan material mereka. Saya bukannya berkata kalau kita tidak harus meminta pertolongan Allah.

Saya akan kembali membahas apa saja yang dibutuhkan dalam melaksanakan solat dan bagaimana solat itu seharusnya dilaksanakan. Untuk memahami tujuan dan metodologi solat, kita harus meniru Nabi Muhammad (صلى الله عليه وسلم) dengan kemampuan kita. Ingatlah, Allah Yang Maha Kuasa berfirman bahwa Nabi Muhammad (صلى الله عليه وسلم) adalah: Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (Q.S 33:21), dan karena itu, Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku (Q.S 3:31). Apa info tentangnya yang diberikan kepada kita dan apa yang beliau ajarkan? Beliau sangat teliti tentang solatnya bahkan ketika seseorang datang ke Masjid untuk melaksanakan solat, beliau bersabda: “Jangan lari.” Meskipun tertinggal satu raka’at, tapi jika datang ke Masjid dengan martabat, kepala dingin, keridaan dan ketenangan, anda akan berada dalam perbuatan spiritual yang luar biasa. Itu bukan lah sekedar ritual atau perbuatan lahiriah (gerakan jasmani/tubuh). Anda harus berkonsentrasi dengan seluruh kepribadian Anda. Bagaimana cara Nabi Muhammad (صلى الله عليه وسلم) dalam melaksanakan solat?

Diriwayatkan bahwa ketika beliau melaksanakan solat berjamaah, solat beliau singkat, dan ketika beliau solat sendirian, solat beliau lama. Kadang beliau masih berdiri diam berjam-jam – “sampai kaki beliau bengkak.” Tahukah anda apabila anda berdiri dalam waktu yang lama, sirkulasi darah anda akan terpengaruh? Meskipun darah bertumpuk di bagian tubuh paling bawah, beliau akan berdiri diam sampai pembuluh darah meledak hingga darah keluar dari kaki beliau.

Ummul Mu’minin (Bunda dari orang-orang beriman) ‘Aisyah siddiqah (رضي الله عنها) meriwayatkan bahwa ketika Nabi Muhammad (صلى الله عليه وسلم) solat, suara yang keluar dari dadanya terdengar seperti panci besar yang mendidih. Ini bukan sekedar tentang sunnah atau fardhu, atau tentang posisi yang berbeda selama solat, kemudian mengucapkan salam lalu pergi! Tidak!

Bagaimana para pengikut beliau dalam melaksanakan solat? Saya akan memberi contoh yang otentik. Sayyidina ‘Ali (رضي الله عنه) terluka dengan panah beracun yang memiliki dua taring. Ketika mereka (para sahabat) mencoba mengeluarkan anak panah itu, taring-taring itu menarik dagingnya dan terlalu sakit untuk dilepaskan. Secara fisik Sayyidina ‘Ali (رضي الله عنه) adalah laki-laki yang kuat, dengan saraf baja, tetapi bahkan dia tidak tahan dengan rasa sakit. Bagaimanapun, panah beracun itu harus dilepas. Sayyidina ‘Ali (رضي الله عنه) bersiap untuk solat. Dia solat di atas sajdah, panahnya tercabut, dan dia tidak merasakan sakit apapun ketika anak panah itu terlepas. Ini lah solat! Begini lah kualitas solatnya Sayyidina ‘Ali (رضي الله عنه), Sayyidina Abu Bakar, Sayyidina’ Umar, Sayyidina ‘Utsman, dan semua Sahabat, semoga Allah ridho dengan mereka semua!

Apa yang Nabi (صلى الله عليه وسلم) ajarkan untuk sepanjang masa? Beliau menetapkan hukum dalam mengabdi di jalan Allah, karena Islam memandang seluruh kehidupan seorang Muslim sebagai kehidupan ibadah. Kita tidak memiliki konsep Kristen dan Hindu di mana hanya ritual yang dianggap sebagai ibadah sedangkan lainnya adalah hal-hal duniawi. Apa pun yang dilakukan semata-mata hanya untuk Allah (سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى), bahkan makan, mencari nafkah dan juga memperoleh pengetahuan, dianggap sebagai ibadah.

Secara alami, solat digolongkan sebagai ibadah yang paling utama. Ini lah ibadah yang tepat, karena dilakukan dengan sikap merenung. Apa yang diperintahkan Nabi (صلى الله عليه وسلم) untuk kita? Beliau bersabda:

Sembahlah Tuhanmu seolah-olah engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak mampu melihat-Nya, maka ketahuilah bahwa Dia selalu melihatmu

Apa yang kita lakukan, saudara dan saudariku yang ku sayangi? Banyak hal yang kita pikirkan ketika solat. Kita membaca do’a ketika solat, tapi pikiran kita entah ke mana. Izinkan saya memberi sebuah contoh dari pengalaman pribadi. Ada seorang ulama sufi – bukan dari tarekat tinggi – di dekat Meerat dengan nama Sayyid ‘Abdul Ghani. Saya biasa mengunjunginya dan duduk di perusahaannya. Ruangan tempat dia tinggal adalah bagian dari kompleks masjid dan jendelanya terbuka menghadap halaman masjid. Bagaimanapun ulama sufi ini tidak akan pernah pergi solat ke masjid bersama jamaahnya. Kini banyak orang dan ulama tertentu mengkritik ulama sufi itu, tapi sayangnya mereka tidak memahami ulama sufi tersebut. Pria ini berbicara tentang Allah dan mengutip ayat Al-Qur’an dan membahas masalah perkembangan spiritual, tetapi tidak pernah melakukan solat bersama jamaah.

Tentu saja dia selalu solat, tetapi di ruangannya. Suatu hari dia diminta untuk menjelaskan perbuatannya tersebut dan dia menjawab: “Apakah kamu benar-benar ingin tahu mengapa aku tidak pergi ke masjid? Tunggu sampai jamaah datang untuk solat ashar.” Orang-orang atang dan berdiri di belakang imam dan solat dimulai. Ulama Sufi tersebut melepaskan topinya (fez/tarboosh) dan meletakkannya di kepala orang yang bertanya tadi, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Seketika orang itu melihat pertunjukan yang tidak bagus! Sang imam terlihat seperti seekor binatang dan begitu pula makmumnya, beberapa terlihat seperti anjing, seperti babi, seperti rubah. Ini bukan lah sihir; ini hanyalah meletakkan topinya di kepala orang yang bertanya dan orang itu melihatnya. Allah sudah memerintahkan dalam Al Qur’an:

وَارْكَعُوا۟ مَعَ الرّٰكِعِينَ …﴿

… dan rukuklah bersama orang yang rukuk.Q.S Al Baqarah, 2:43

Apakah kita termasuk raki’in?

Nabi Muhammad (صلى الله عليه وسلم) bersabda:

Solat bukan lah solat kalau tidak diucapkan dengan konsentrasi pikiran yang penuh

Konsentrasi harus pada Allah (سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى)

Apakah begini cara solat? Mari kita coba pikirkan dengan cara yang sangat sederhana. Allah (سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى) adalah Pencipta, Penguasa, Pemimpin dan Pengendali seluruh alam semesta dan semua hal yang ada di sini. Kebesaran dan Keagungan-Nya tak terbatas. Kita tidak bisa membayangkannya. Dia tidak punya kewajiban atas kita. Dia tidak membutuhkan apa pun yang Dia ciptakan. Dia adalah, Al-Samad; artinya segala sesuatu tergantung pada-Nya dan Dia tidak tergantung pada segala-galanya.

Sangat luar biasa! Namun dengan segala Kebesaran-Nya, lihatlah cinta-Nya terhadap kita. Dia adalah Raja dari segala Raja dan karena cinta-Nya terhadap kita, Dia menyatakan bahwa seseorang akan dipanggil lima kali sehari.

Dia memanggil kita ke hadapan-Nya (forum-Nya)! Dalam kehidupan duniawi ketika kita menjadi perdana menteri, ketua atau seorang Muslim yang kaya, kita tidak akan suka ada orang biasa datang kepada kita kapan saja! Kita juga ingin memiliki tamu yang memiliki pengaruh yang lebih besar daripada kita. Kita pikir itu akan menjadi suatu kehormatan. Tetapi di sini, Dia lah yang benar-benar Hebat, di hadapan yang tidak memiliki kehebatan apapun, dan Dia sendiri yang mengundang kita, mengundang kita dengan Cinta! Dan ketika kita solat secara ritual, ini adalah penghinaan terbesar yang bisa kita berikan kepada Allah.

Misalnya, apabila anda adalah teman saya dan anda datang untuk berbicara dengan saya dengan rasa cinta dan saya memalingkan wajah dan menjawab dengan wajah dan nada kering, bukankah ini akan menjadi hinaan bagi rasa cinta anda? Anda tidak akan mau melakukan apapun dengan saya! Jadi Allah (سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى) mengundang kita dengan cinta! Dia tidak membutuhkan kita untuk datang dan berdoa kepada-Nya, karena para malaikat yang jumlahnya lebih besar, selalu ber-tasbih dan ber-tahlil di sekitar ‘Arsy di seluruh semesta alam. Siapakah kita – manusia yang tidak berarti? Dan ingat, para malaikat melakukannya karena itu adalah makanan mereka dan mereka dapat tetap hidup hanya dengan ber-dzikir kepada Allah. Dia mengundang kita, karena Dia berfirman: Ingatlah Aku, maka Aku akan mengingatmu. (Fadhkuruni adhkurkum)

Mengapa Dia mengundang kita? Karena Dia telah membuat kita menjadi Khalifatullah!

Dia telah menjadikan kita sebagai wakil-wakil-Nya dan Nabi Muhammad (صلى الله عليه وسلم) telah memerintahkan kita:

Karunia dirimu dengan kualitas ilahi.

Ketika serbuk besi bersentuhan dengan magnet, serbuk besi itu akan termagnetisasi. Jika serbuk besi itu tidak bersentuhan dengan magnet, serbuk besi itu tetaplah menjadi besi, meskipun serbuk besi itu termagnetisasi, serbuk besi itu tetap tidak menjadi magnet. Ketika hamba Allah (‘abd) mendekati-Nya dengan Ruh cinta yang sama, sebagaimana Al Qur’an berfirman:

﴾… وَالَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ أَشَدُّ حُبًّا لِّلَّهِ …﴿

… orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah. …Q.S Al Baqarah, 2:165

Seseorang akan termagnetisasi. Kadang orang-orang mengajukan pertanyaan yang dikatakan oleh Nabi Muhammad (صلى الله عليه وسلم) tentang dirinya sendiri dan para Nabi lainnya bahwa: “Bumi tidak dapat melahap tubuh para nabi.”

Seseorang bertanya kepadaku, “bagaimana bisa hal seperti itu terjadi karena para Nabi juga makhluk yang fana?” Jabawan saya sederhana. Dalam ilmu fisika, jika anda mengambil sepotong besi dan menimbunnya ke dalam tanah, besi itu akan berkarat, akhirnya rusak dan larut di dalam bumi. Bagaimanapun, jika anda membuat sepotong besi itu termagnetisasi, bumi tidak akan bisa menghancurkannya bahkan dalam waktu seribu tahun! Ini lah yang ditunjukkan Nabi Muhammad (صلى الله عليه وسلم) kepada kita, cara menjadi immortality! Bukan sekedar latihan senam dalam solat, yang kita lakukan selama empat puluh tahun dan melaksanakan ibadah haji dua puluh atau lima kali! Jika seseorang hanya sekali melaksanakan ibadah haji secara benar, maka itu sangat bagus. Tapi jika seseorang berkali-kali melaksanakan ibadah haji secara tidak benar, maka orang itu telah menghabiskan banyak uang dan waktunya.

Itu lah sebabnya bahwa sajdah sudah cukup untuk menyelamatkan anda. Jika anda bisa melaksanakan satu sujud dengan khusyuk sebagai hamba Allah (‘abd Allah) dengan konsentrasi penuh, anda terselamatkan! Dan bagaimana dengan seribu sajdah tanpa memeliharanya? Kitab Suci Al Qur’an menyatakan:

فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّينَ ﴿

الَّذِينَ هُمْ عَن صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ ﴿

الَّذِينَ هُمْ يُرَآءُونَ ﴿

﴾ وَيَمْنَعُونَ الْمَاعُونَ ﴿

Celakalah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, orang-orang yang berbuat riya, dan enggan (menolong dengan) barang berguna. Q.S Al Maa'uun, 107:4-7

Jika kita dalam keadaan mushalli, maka itu hanya lah sebuah pertunjukan. Saya telah melihat orang-orang di Hong Kong dan Singapura yang menyebut diri mereka sebagai “namazi“. Seperti “Pak Haji atau Buk Haji” – mengapa anda menyebut diri anda “Haji“? Siapa yang memberi anda gelar tersebut? Kemudian anda punya gelar “namazi“, “zakaati” atau apalah! Memukul semak-semak dan tidak berusaha memahami kenyataan!

Mengapa Allah (سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى) memanggil kita?

  إِنَّا عَرَضْنَا الْأَمَانَةَ عَلَى السَّمٰوٰتِ وَالْأَرْضِ ﴿

  وَالْجِبَالِ فَأَبَيْنَ أَن يَحْمِلْنَهَا وَأَشْفَقْنَ 

مِنْهَا وَحَمَلَهَا الْإِنسٰنُ

إِنَّهُ كَانَ ظَلُومًا جَهُولًا

Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh,Q.S Al Ahzab, 33:72

Allah (سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى) berfirman seperti ini karena kasih sayang-Nya, seperti halnya anda mungkin akan berkata kepada anak: “Betapa bodohnya engkau, wahai anakku sayang.” Dan kemudian Dia menetapkan hukum. Kami memikul amaanah. Kita adalah ciptaan tertinggi Tuhan dan karena itu lah Dia ingin melatih dan mengembangkan kita. Karena itu Dia mengirim Nabi Muhammad (صلى الله عليه وسلم), bukan hanya untuk mengajarkan ritual, tapi juga untuk membina kita menjadi khalifah-Nya!

Apa itu khalifah? Kata “khalifah” memiliki tiga makna, yaitu:

  • dia yang datang sesudah,” (Q.S 7:169). Tapi Allah (سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى) adalah Zat yang tidak sebelum dan sesudah. Dia tak terbatas. Jadi manusia bukanlah khalifah-Nya dalam hal ini.
  • Khalifah bisa berarti “wakil”. Allah (سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى) tidak punya wakil. Ratu Inggris punya wakil di negara lain karena dia tidak bisa mengelola urusan di sana secara langsung, karena kekuatannya terbatas. Karena itu dia mengirim wakilnya. Adapun Allah: Allah meliputi segala sesuatu (bi kulli shayin muhit), dan Sungguh, Allah memiliki kekuasaan atas segala sesuatu.
  • Lalu apa maksud kata khalifah itu? Menurut para ahli, artinya: “dia yang bisa merubah berbagai hal.” atau “dia yang bisa ikut campur dalam berbagai hal.” Dan ini lah fungsi dari umat manusia. Allah (سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى) menciptakan bumi ini tapi tidak menciptakan rumah, jalan, atau pun perabotan. Dia meletakkan tanggung jawab kepada kita sebagai khalifah. Dan keturunan Adam berkembang selangkah demi selangkah, menemukan hukum-hukum. Dan selangkah demi selangkah, Dia mengirim Nabi dan Rasul-Nya yang mengajarkan cara hidup, cara berbudaya dan peradaban, obat-obatan, dan cabang kehidupan lainnya.

 

Dan telah Kami ajarkan kepadanya (Daud) untuk merubah bijih besi menjadi baja dan menggunakannya untuk baju zirah.Q.S Al Anbiyaa', 21:80

Fungsi beliau tidak sekedar untuk memberikan pelajaran spiritual dan moral. Dari sini kita paham kalau fungsi Nabi Muhammad (صلى الله عليه وسلم) tidak sekedar mengajarkan prinsip spiritual dan moral, tapi juga untuk mengajarkan cara berbudaya dan peradaban, dan bahkan teknologi. Dan dengan cara ini, “khalifat-Allah fil-ard,” berkembang dan sukses.

Ketika hal tersebut berkembang dan maju, maka akan menjadi tasarrufyakni merubah berbagai hal menjadi sesuatu yang berbeda. Allah (سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى) menciptakan materi yang menjadi bahan baku dari mikrofon, Dia menciptakan otak dan pikiran dalam diri manusia. Pada akhirnya, Dia adalah Pencipta segalanya, tetapi Khalifah-Nya melakukan pekerjaan dalam menciptakan mikrofon. Para malaikat Allah menumbuhkan pohon, tapi mereka tidak membuat perabotan. Sudah ada kewajiban bagi manusia yang seharusnya membuat mikrofon, mobil, jalan, bangunan, menggunakan akalnya. Nabi Muhammad (صلى الله عليه وسلم) bersabda bahwa ini lah aset terbaik yang Allah (سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى) berikan kepada manusia. Khalifah meniru salah satu dari al-Asma’ul Husna, Al-Mushawwir – “Maha Pembentuk”, agar dia menjadi pembentuk. Tapi Allah (سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى) telah menciptakan ab novo – dari ketiadaan – dan karena itu Dia adalah: Pencipta Yang Paling Baik (Q.S Al Mu’minuun, 23:14). Di sini Dia merujuk pada penemu manusia yang merupakan khalifah-Nya, karena tidak ada pencipta alam semesta lainnya.

Nabi Muhammad (صلى الله عليه وسلم) telah meletakkan sebuah hukum bagi kita bahwa takdir kita adalah untuk “dikaruniai dengan sifat Allah” – dan karena itu kita perlu untuk dimagnetisasi. Dan bagaimana bisa kita jadi termagnetisasi? Kalau serbuk besi ini tidak berada dalam jangkauan medan magnet, serbuk besi ini tidak akan termagnetisasi. Kita memerlukan jangkauan yang cukup, dan karena itu lah Allah (سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى) mengundang kita untuk: bersujud dan mendekatlah kepada-Ku (Q.S 96:19)

Mendekatlah kepada-Ku agar kamu jadi termagnetisasi. Semakin jauh seseorang dari Allah (سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى), semakin kecil peluangnya untuk termagnetisasi. Ini bukan karena Allah itu berada di suatu tempat yang terpencil, tapi karena Dia berfirman:

﴾ وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ ﴿

… dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya,Q.S Qaaf, 50:16

Tapi terlepas dari itu, kedekatan itu harus diperoleh, jangkauan itu harus diperoleh sebelum kita bisa termagnetisasi. Ini lah solat, dan itu lah kenapa Nabi Muhammad (صلى الله عليه وسلم) bersabda bahwa: “Solat tidak lah solat kalau tidak dilakukan dengan konstentrasi kepribadian sepenuhnya.”

Dan itu lah kenapa dia bersabda bahwa ketika anda mulai solat, angkatlah tangan. Anda tahu apa itu maksudnya? Jari-jari tangan ini adalah tulisan Allah. Alif, laam, dan hamza ada di tangan. Tidak ada kata lain bagi Tuhan dalam bahasa apapun yang bisa dibentuk di tangan manusia kecuali – Allah. Juga di tangan manusia ada garis-garis. Di telapak tangan kanan, kita puna 18 dan di tangan kiri kita punya 81. Kini 18+81 = 99 – Nama-nama Allah (سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى).

Karena itu, ketika saya pergi solat, saya mengangkat tangan ini dan dilakukan hanya semata untuk Allah dan dengan sembilan puluh sembilan nama ini saya menarik diri dari dunia ini! Bukannya dengan cara sembarangan kita melaksanakan solat dengan bergegas masuk dan keluar. Anda harus berhenti sejenak beberapa menit sebelum mengambil sikap seperti ini dan berpikir apa yang anda lakukan. Itu lah kenapa dikatakan bahwa seseorang yang tidak solat dengan keheningan dan ketenteraman, bukan lah solat. Pada setiap langkah anda harus sadar akan apa yang anda lakukan. Setiap tindakan harus dengan kesadaran.

Saat anda melipat tangan merupakan bentuk menunjukkan perasaan dan simbol kerendahan hati: “Ya Allah, saya adalah hamba yang taat.” Tapi ketika anda melipat tangan dan anda sedang memikirkan sepak bola atau rugby atau lainnya, itu bukan lah solat. Sikap taat kepada Allah harus dikembangkan dengan kerendahan hati. Lalu anda meningkatkan sikap kerendahan hati ketika melakukan ruku’ dan menyatakan: “Maha Suci Rabbku yang maha Agung dan maha terpuji.” Aku bukan apa-apa! Kalau anda tidak jadi seperti mangkuk pengemis yang kosong, rahmat Allah (سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى) tidak akan menghampiri anda. Lakukan ruku’ serendah hati mungkin dan jangan mengucapkan bacaan solat seperti burung beo. Kerendahan hati ini harus sampai pada puncak – “Saya adalah seorang pengemis, ya Rabb, saya bukan apa-apa, dan saya telah mengosongkan diri saya dari semua kesombongan dan semua pikiran tentang diri saya sendiri, hanya Engkau lah Zat Yang Nyata,” dan karena itu lah anda bersujud dan mengucapkan: “Maha Suci Rabb-ku Yang Maha Luhur.” Di sini kita menggunakan kata – “Maha Luhur/Tinggi”, karena kita telah menjadi “rendah”.

Ruh harus diperoleh dan wallaahi; billaahi; tallaahi, “rasakanlah!” Jika anda bisa bersujud seperti itu di hadapan Allah (سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى) dalam dunia fisik, anda akan merasakannya. Saya bersumpah kalau itu memang benar! Rasakanlah, karena Al Qur’an menyatakan: bersujud dan mendekatlah kepada-Ku (Q.S 96:19). Tapi jika sajdah dilakukan seperti sebuah ritual, maka anda tidak akan mendapatkan apapun. Sama halnya dengan seorang yang buta yang hanya berkeliaran dan tidak pernah sampai pada tempat tujuan.

Ada poin yang sangat penting lainnya tentang solat yang membuat umat Islam kebingungan, padahal seharusnya tidak. Allah itu Maha Kuasa, pengetahuan-Nya meliputi segala sesuatu; masa lalu, masa sekarang dan masa depan. Dia tahu apapun yang terlintas dalam pikiran manusia – bahkan perasaan. Dia Maha Kuasa, tapi apa hukum-Nya? Dia telah menunjuk malaikat-Nya, yang jumlahnya jutaan, sebagai fungsionaris dari Perintah-perintah-Nya. Bukan berarti Dia itu tidak Maha Kuasa. Bukan berarti dia itu tidak Maha Kuasa dan Tidak Maha Mengetahui ketika menunjuk malaikat-malaikat-Nya, tapi begitu lah cara administrasi-Nya. Dia mengetahui dalam Kebijaksanaan-Nya apa yang tidak diketahui manusia dengan beberapa ons otak yang dimilikinya.

Kini mari kita lihat struktur solat. Setiap hadiah yang diberikan kepada seorang teman atau atas dilakukan dengan cara yang sangat rapi dan indah, ditempatkan dalam sebuah kotak dan dibungkus dengan indah. Solat yang kalian persembahkan untuk Allah (سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى) adalah pemberian yang kalian persembahkan untuk-Nya, jadi seharusnya solat kalian tidak hanya hilang ke udara. Seharusnya tersimpan. Ketika kalian membaca surat Al Fatihah, kalian akan mulai sbb:

﴾ الْحَمْدُ لِلّٰـهِ رَبِّ الْعٰلَمِينَ ﴿

﴾ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ ﴿

﴾ مٰلِكِ يَوْمِ الدِّينِ ﴿

Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Penguasa Hari Pembalasan. Penguasa Hari Pembalasan.Q.S Al Fatihah, 1:2-4

Ini adalah pujian untuk Yang Maha Kuasa

Kemudian kalian mengajukan mangkuk pengemis kosok:

﴾ إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ ﴿

Hanya kepadaMu kami menyembah, dan hanya kepadaMu kami meminta pertolongan. Q.S Al Fatihah, 1:5

Kemudian kita meminta hadiah yang paling agung dan hebat dari Allah (سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى):

﴾ اهْدِنَا الصِّرٰطَ الْمُسْتَقِيمَ ﴿

Tunjukilah kami jalan yang lurus,Q.S Al Fatihah, 1:6

Seseorang mungkin punya kekuatan, keindahan dan sebuah pasukan, tapi kalau dia tidak diberi petunjuk ke jalan yang benar, dia tidak akan memperoleh berkah atau keuntungan dari hal-hal tersebut. Berkah yang mendasar adalah hidayah – dia diberi petunjuk ke jalan yang benar dan Islam mengajarkan hal-hal yang fundamental.

Ingatlah, semua solat selalu dalam bentuk jamak. Jika seseorang menghadap Allah hanya untuk kepentingan dirinya sendiri, Dia tidak akan memberikan apapun. “Ihdinaa” – tunjukilah kami. Jadi sebelum melaksanakan solat, seseorang harus mengucapkan tujuh kali: A ‘uuzu billaahi minasyaithaanir rajiim wa a ‘uuzu billaahi minsyuruurii nafsii wa min sayyi’ aatii a’maalinaa, dan semua kecemburuan, semua kebencian, keegoisan, dan semua intrik harus ditinggalkan seseorang di luar masjid. Kalau tidak, seseorang tidak memiliki hak untuk datang dan berdiri di sana.

Lalu kita sampai pada poin yang kritis:

﴾ اهْدِنَا الصِّرٰطَ الْمُسْتَقِيمَ ﴿

Tunjukilah kami jalan yang lurus,Q.S Al Fatihah, 1:6

Islam tidak lengkap tanpa adanya Nabi Muhammad (صلى الله عليه وسلم). Sampai saat ini, sebagian besar orang-orang yang solat harus berkonsentrasi pada Allah. Kini orang-orang yang solat harus berkonsentrasi pada Allah dan Nabi Muhammad (صلى الله عليه وسلم), karena Dia berfirman:

﴾… صِرٰطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ ﴿

(yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka;Q.S Al Fatihah, 1:7

Siapa yang diberi berkah lebih daripada Nabi Muhammad (صلى الله عليه وسلم)? Karena itu kalian harus berkonsentrasi pada hal ini. Ini baru awal dari solat, bagaimana pada bagian akhirnya? Ketika kalian berkata salam, Allah (سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى) berfirman bahwa kalian tidak diterima jika kalian tidak menerima bantuan dari Nabi Tercinta (صلى الله عليه وسلم). Karena itu dalam tahiyyaat kalian berkata: At tahiyyaatul mubaarokaatush sholawaatuth thoyyibaat lillah. memuji Allah (سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى).

Kemudian kalian kembali ke Nabi Muhammad (صلى الله عليه وسلم) dengan mengucapkan: Assalaamu ‘alaika ayyuhan nabiyyu wa rahmatullahi wa barokaatuh dan Nabi Muhammad (صلى الله عليه وسلم) membalasnya dengan wa ‘alaykas salaam.

Dan ketika Nabi Muhammad (صلى الله عليه وسلم) membalas salam kita, baru lah Allah (سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى) akan menerima kita. Di sini lah solat melalui saluran yang tepat, dengan berkat dari Nabi Muhammad (صلى الله عليه وسلم). Kemudian dengan rasa terima kasih, kita mengucapkan: Assalaamu ‘alainaa wa ‘alaa ‘ibaadillahish sholihiin. Asyhadu alla ilaaha illallaah wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduhu wa rosuuluh.

Di sini, anda telah menegaskan kalau Allah memberikan Nabi Muhammad (صلى الله عليه وسلم) sebuah posisi istimewa, karena itu beliau lah gerbang dalam memperoleh rahmat-Nya. Nabi Muhammad (صلى الله عليه وسلم) adalah ‘abd-Nya dan Rasul-Nya, bukan tuhan. Ini harus dipertegas agar memelihara keseimbangan pikiran. Jadi anda akan diminta untuk mengucapkan: “Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan Allah.

Lalu dengan rasa terima kasih sekali lagi untuk Nabi Muhammad (صلى الله عليه وسلم) dan untuk seluruh Nabi, dimulai dengan “millata Ibrahiim“, bimbingan yang datang melalui mereka, anda berkata: Allahumma sholli ‘ala Muhammad wa ‘ala aali Muhammad kamaa shollaita ‘ala Ibroohim wa ‘ala aali Ibrohim, innaka hamidun majiid. Allahumma baarik ‘ala Muhammad wa ‘ala aali Muhammad kamaa baarokta ‘ala Ibrohim wa ‘ala aali Ibrohimm fiil ‘alamiina innaka hamidun majiid.

Terakhir, anda berkata untuk diri anda sendiri: allaahumma innii zalamtu nafsii zulman kasiiran wa la yaghfiruzzunuuban illaa anta faghfirlii maghfiratam min ‘indaka war hamnii innaka antal ghafuurur rahiim.

Kini, solat akan diterima.

Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

 

Catatan Admin:

  • Ketika mengambil atau mengutip segala materi baik dalam bentuk tulisan maupun hasil terjemahan dari website Eskatogi Islam ini, mohon masukkan tautan ke artikel asli.

Tulisan ini diambil dari buku transkrip ceramah yang berjudul, “Islam To The Modern Mind” yang ditulis oleh Maulana Fazlur Rahman Ansari Al Qaderi rahimahullah.

previous arrow
next arrow
previous arrownext arrow
Slider

Beliau merupakan seorang Cendekiawan Islam, Filsuf, Orator, Mubaligh, Guru, Penulis serta Pemimpin Spiritual. Karena beliau memiliki kualitas-kualitas yang beragam, beliau sangat berpengaruh pada pikiran dan hati Muslim dan Non-Muslim di belahan dunia, termasuk Perdana Menteri, Para Ulama, para pemikir, Professor, Pejabat Pemerintah, Jurnalis, pemimpin politik, Sufi, dll.

Beliau lahir dari keluarga Islam yang taat pada tanggal 14 Agustus 1914 di Muzaffarnagar, Provinsi UP, India. Beliau merupakan keturunan dari Hazrat Abu Ayoob Ansari (رضي الله عنه) of al-Madīnah alMunawwarah, seorang sahabat Rasulullah (صلى الله عليه وسلم) yang rumahnya ditempati oleh Rasulullah (صلى الله عليه وسلم) ketika pertama kali tiba di Madinah di masa hijrah.

Pada usia 7 tahun beliau sudah hafal Al Qur’an dan pada usia 19 tahun beliau tamat dari kurikulum Dars-i Nizami. Setelah tamat sekolah, beliau kemudian melanjutkan kuliah dan memperoleh gelar Bachelor of Arts (BA) dan Bachelor of Science (BSc) di Universitas Aligarchi dan memperoleh Medali Emas. Kemudian beliau melanjutkan ke tingkat Master dengan jurusan Filosofi dan memperoleh nilai yang luar biasa, 98%, dan masih dianggap belum ada yang bisa menandingi nilainya.

Dr. Fazlur Rahman Ansari (رحمه الله), Alhamdulillah, tetap berada di bawah bayang-bayang Fazl of Rahman-Allah. Allah (سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى) memberinya dua Guru Besar. Beliau belajar kurikulum atau sistem Dars-i Nizami melalui bimbingan Aala Hazrat Imam Al-Sharah Allama Syed Sulaman Ashraf dan Filsafat Modern oleh Dr. Syed Zafarul Hassan, dan kedua guru ini terkenal dan kepribadiannya yang luar biasa pada masanya.

Selama menjadi mahasiswa, beliau lulus semua ujian di kelas satu. Beliau lulus pada tahun 1935 dengan kelas pertama, divisi pertama, dan menerima Medali Emas pada tahun pertama di BA dan B.Sc dalam ujian gabungan. Beliau menerima Medali Emas karena telah membuat rekor baru 98% dalam ujian Philosophy B.A (Bachelor of Arts). Beliau lulusan pertama pada tahun pertama di B.Th (Bachelor of Theology) dan lulus M.A (Master of Arts) Filosofi pada tahun pertama. Beliau sendiri mengajar secara independen mata kuliah M.A di banyak mata pelajaran seperti Politik, Ekonomi, Studi Perbandingan agama dan mempelajari banyak Ilmu Fisika, seperti Mitologi, Sejarah Peradaban dan Budaya, Hukum dan Obat-obatan terutama Homeopati, dll., dan belajar bahasa Jerman. Beliau menguasai 5 bahasa, yakni Arab, Inggris, Urdu, Jerman, dan Persia.

Pada tahun 1947 beliau menyelesaikan tesis penelitian PhD, tetapi karena keadaan yang tidak menguntungkan dari migrasi ke Pakistan (ketika Pakistan hendak memisahkan diri dari India), tesis lengkapnya tertunda. Namun beliau diberikan gelar PhD pada tahun 1970 oleh Universitas Karachi untuk tesisnya tentang Kode Moral Islam dan latar belakang Metafisikanya.

Untuk mencerahkan pemikiran dan meningkatkan semangat religius, Allah (سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى) membawanya bertemu dengan Maulana Shah Abdul Aleem Siddiqui (رحمه الله) (keturunan Abu Bakr Shiddiq رضي الله عنه), seorang Khalifah Aala Hazrat Maulana Ahmed Raza Khan dari Bareli (رحمه الله) dan seorang Cendekiawan Islam dunia pada masa itu. Maulana Abdul menerima beliau sebagai Murid secara spiritual.

Maulana Abdul Aleem Siddiqui memberinya Ijaz (otoritas) dalam urusan spiritual di dalam Hateem of Kaba. Maulana Abdul Aleem Shiddiqui menerima beliau sebagai anggota keluarganya dan menikahkan putri sulungnya dan memilih beliau sebagai menantu laki-lakinya. Setelah wafatnya Hazrat Abdul Aleem Siddiqui (رحمه الله), beliau diangkat menjadi Raees-ul-Khalifa dari Halqa-e-Aleemiyah Qaderiyah.

Pada tahun 1944-1946 Dr. Fazlur Rahman Ansari (رحمه الله) terpilih sebagai anggota Komite Perencanaan Pendidikan di bawah mandat yang diberikan oleh Quaid-e-Azam Muhammad Ali Jinnah.

Dr. Fazlur Rahman Ansari (رحمه الله), selain mempelajari mistisisme Islam (Al Ihsan/Tasawwuf) dari Shah Abdul Aleem Siddiqui (رحمه الله), melakukan perjalanan jauh dan luas. Beliau mulai melakukan tur dakwah sebagai anak didik Maulana Abdul Aleem Siddiqui (رحمه الله) setiap kali mengunjungi 15/20 negara dan melakukan perjalanan tujuh kali ke seluruh dunia. Kedua duta besar Mubaligh Islam ini berkumpul dalam komunitas Muslim di negara yang dikunjungi dan mendirikan organisasi di negara Muslim yang dikunjungi agar berdakwah lebih lancar dan efektif lagi. Beliau memiliki hak istimewa untuk memimpin beberapa Misi Islam baik nasional maupun internasional.

Beliau menulis buku pertamanya di bawah bimbingan Shaikh-nya yang berjudul “The Beacon Light” pada usia 18 tahun. Selama kuliah, beliau menulis buku keduanya, “The Christian World in revolution”. Setelah buku-buku ini, banyak buku lain yang ditulis seperti “Muhammad (صلى الله عليه وسلم).” “The Glory of Ages“, “Islam in Europe and America“, dll. Beliau menulis sekitar 40 buku dalam bahasa Urdu dan bahasa Inggris. Beliau mengedit berbagai majalah dari dalam dan luar negeri. Pada tahun 1973 beliau menulis buku terakhirnya yang penuh makna, yaituThe Quranic Foundations and Structure of Muslim Society” dalam bahasa Inggris dan dalam dua jilid. Buku ini memberikan Sistem Panduan dengan cara yang rumit, yang membenarkan secara menyeluruh klaim Al Qur’an yang “posisi atas segalanya (di mana umat manusia membutuhkan Bimbingan Ilahi)”.

Aleemiyah Institute of Islamic Studies yang didirikannya adalah salah satu proyek yang luar biasa penting di mana, selain memberikan pendidikan agama dan pelatihan dakwah, mata pelajaran sekuler penting lainnya seperti Ekonomi, studi Perbandingan agama, Jurnalisme, dan lainnya, juga diajarkan. Karena usaha dan dedikasinya yang terus menerus kepada Islam dan umat manusia, ribuan orang telah masuk Islam.

Pada bulan Desember 1973 beliau melakukan tur misi terakhir ke Seychelles dan Srilanka dan tahun 1974 menghembuskan nafas terakhirnya pada hari Senin, 3 Juni, 1974 (Jamadi-ul-Awwal ke-11) pada pukul 10.30 pagi. Beliau dimakamkan di kompleks Islamic Centre (The Aleemiyah Institute of Islamic Studies ). Semoga Allah (سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى) menempatkan beliau di Jannah-Nya dan menempatkan beliau bersama orang-orang shaleh. Aamiin ya Rabbal’alamiin

Maulana Imran N Hosein merupakan murid sekaligus menantunya Maulana Fazlur Rahman Ansari Al Qaderi (رحمه الله).

The Aleemiyah Institute of Islamic Studies yang didirikan oleh Maulana Fazlur Rahman Ansari (رحمه الله) adalah Universitas Islam dan Sains Modern yang terletak di Karachi, Pakistan. Lembaga ini dijalankan oleh World Federation of Islamic Missions. Maulana Imran Hosein tamat di Universitas ini.

Please share this post

Terkait

Leave a Comment