Apa itu Islam?

Download

Oleh: Maulana Fazlur Rahman Ansari Al Qaderi rahimahullah

 

Saya sering sedih dan menderita karena saya adalah salah satu tentara Islam yang selalu menghadapi banyak masalah. Saya harus berhadapan dengan pasukan anti-Islam yang kuat yang memerangi Islam di seluruh dunia. Selain itu, saya harus menghadapi Muslim yang bodoh , apatis (acuh tak acuh), saling bertengkar karena masalah sepele sementara musuh sudah menghancurkan benteng kita.

Musuh telah merebut aset terbaik kita dan bunga bangsa kita sedang dicuri, yakni remaja Muslim! Remaja Muslim tertinggal dalam rasa putus asa di semua negara di dunia ini. Para penceramah rupanya mengajak umat Islam untuk bertengkar satu sama lain.

Kebanyakan umat Islam dianggap sedang berlatih menjadi Muslim tapi cenderung menganggap Islam sebagai kultus, dan bukan sebagai jalan kehidupan yang menyeluruh. Menurut kita, Islam merupakan agama ritual dan upacara tertentu, dan memisahkannya dari ilmu aqoid. Kita tidak memandang nilai moral kehidupan karena kita telah memisahkan agama dari moralitas. Coba lihat seberapa jauh ketakwaan kita dipisahkan dari moralitas.

Saya yakin apapun yang diajarkan Islam bukanlah hanya masalah interpretasi tapi juga hal-hal yang jelas dalam Al Qur’an dan hadits Nabi Muhammad saw yang otentik. Islam menjadi satu-satunya agama yang sangat bersejarah. Tidak seperti agama Kristen, Hindu, atau agama Budha, di mana fakta-fakta agama tersebut diselimuti misteri dan seseorang merasa bingung jika ada yang bertanya dan mencari tahu seperti apa ajaran mereka yang sebenarnya.

Islam lahir di siang bolong dalam sejarah dan lahir pada masa leluhur kita, para sahabat, tabi’in dan Muslim pada masa awal. Mereka fokus dalam memelihara karakter sejarah Islam, dan karena itu lah sampai saat ini tidak ada yang bisa mengaku tidak tahu.

Ketika kita bandingkan apa yang diajarkan Al Qur’an dan hadits Nabi saw yang otentik dengan pandangan kita tentang ajarannya di zaman ini, kita akan melihat perbedaan yang sangat besar. Ingat, ideologi budaya kehidupan, apakah didasarkan pada filsafat atau sosiologi atau agama, dapat dibagi menjadi tiga jenis yang bersifat ideasional, sensasional, dan idealis.

Ketika kalian mempelajari filsafat atau agama yang lahir sebelum Islam, kalian akan menemukan – apakah itu agama Hindu, Kristen, Zoroatrianisme atau Buddhisme – bahwa semua agama ini punya “pandangan akan dunia lain”, yakni budaya ideasional. Konsep budaya mereka menganggap hanya kehidupan selanjutnya yang bernilai, bukan kehidupan di bumi ini. Filosofi mereka adalah bahwa dunia ini jahat, tubuh manusia dengan segala kebutuhannya adalah jahat, dan kehidupan sosial adalah kejahatan. Akibatnya, menurut mereka, agar bisa selamat mereka harus melepaskan diri dari sesuatu yang bersifat material dan fisik, mengorbankan diri di altar tentang apa yang mereka anggap sebagai perkembangan spiritual. Oleh karena itu, orang suci dalam agama Kristen adalah seorang selibat: seseorang yang menganggap dosa suatu perkara yang memberikan kenikmatan pada tubuhnya. Dalam agama Hindu dan agama Budha kita mendapati situasi yang serupa. Ini lah budaya ideasional dan fondasinya adalah kebatinan. Segala sesuatu yang kabur dan misterius ada di sana.

Sebaliknya kita punya peradaban barat modern dengan budaya sensasinya. Fondasi peradaban barat adalah:

  • Dari sudut pandang metafisika – pandangan duniawi bersifat materialistis.
  • Dari sudut pandang moral – pandangannya bersifat hedonistik (mengejar kesenangan sensual saja) dan utilitarian (suatu tindakan hanya dianggap baik jika secara materi menguntungkan di dunia ini).
  • Dari sudut pandang psikologi – peradabannya berlandaskan pada sensasionalisme. Mempelajari karya seni barat, puisi, fiksi, dan hal lainnya, dan kalian akan menemukan bahwa dasar pandangan mereka itu sensasional.
  • Dari sudut pandang politik – peradaban ini didasarkan pada konsep kelayakan. Peluang tidak didasarkan pada prinsip.

Apa pesan Islam dan apa pesan yang dibawa Nabi Muhammad saw? Saya menyimpulkan bahwa setiap pengajaran yang dibawa Nabi Suci itu benar-benar unik, sampai hari ini! Terlepas dari kenyataan di mana Al Qur’an menyatakan:

﴾ إِنَّ هَذَا لَفِي الصُّحُفِ الْأُولَى ﴿

﴾ صُحُفِ إِبْرَاهِيمَ وَمُوسَى ﴿

Sesungguhnya ini adalah kitab-kitab yang dahulu, kitab-kitabnya Ibrahim dan Musa.Q.S Al A'la, 87:18-19

Bagaimanapun, suhuf-nya Nabi Ibrahim as dan Musa as tidak lagi ada di dunia. Ada prinsip kesinambungan petunjuk Ilahi dalam Al Qur’an, dan ketika seseorang meneliti ajaran dan impian manusia di dalamnya, seseorang akan mendapati keunikan pesan yang disampaikan. Sebagai contoh, Al Qur’an mendefinisikan agama sebagai berikut:

 

﴾ … وَلَهُ أَسْلَمَ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ … ﴿

… semua yang di langit dan di bumi adalah Muslim (berserah diri kepada-Nya) …Q.S Ali 'Imran, 3:83

Semua makhluk tunduk kepada Allah, mau tidak mau, suka atau tidak suka, kecuali manusia karena bebas memilih.

Al Qur’an mengatakan:

﴾ …هُوَ الَّذِي خَلَقَكُمْ فَمِنكُمْ كَافِرٌ وَمِنكُم مُّؤْمِن﴿

Dia lah yang menciptakanmu; dan kamu ada yang tidak beriman dan ada yang beriman …Q.S Al Baqarah, 64:2

Kewajiban ini diberikan kepada manusia karena Allah telah menjadikan manusia dalam ciptaannya sebagai khalifah-Nya. Manusia harus melakukan fungsi tertentu dalam hal menjadi khalifah fil-ard-Nya atau “wakil Tuhan di bumi.”

Apa itu agama? Arti agama menurut Al Qur’an benar-benar berbeda dari yang sudah diberikan oleh agama lain, baik sebelum-Islam ataupun sesudah-Islam. Kitab Suci Al Qur’an mengatakan:

فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا فِطْرَةَ اللَّهِ ﴿

الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ

ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَكِنَّ

﴾ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada Diin, cara hidup, dengan pengabdian dan kesetiaan satu arah, menurut fitrah yang mana Allah menciptakan manusia. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak paham.Q.S Ar Rum, 30:30

Kehidupan beragama bertujuan untuk menuntun kehidupan seseorang sesuai dengan hukum alaminya dan sesuai dengan sifat alaminya sendiri (fitrahnya), yaitu Tawhid.

Konsep ini tidak diberikan oleh agama Kristen atau filsafat lainnya, tapi diberikan di dalam Al Qur’an. Al Qur’an juga mengurangi ritualisme atau ibadah dalam banyak ayat. Ritual keagamaan itu fondasi dari semua keimanan lainnya: membakar banyak lilin, punya altar seperti ini (mewah-mewahan) atau bermain musik seperti itu. Kitab Suci Al Qur’an secara jelas menerangkan bahwa ada dua jenis ketakwaan, yaitu: ketakwaan formal dan ketakwaan praktis.

Al Qur’an mengatakan

لَّيْسَ الْبِرَّ أَن تُوَلُّواْ وُجُوهَكُمْ ﴿

﴾ … قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ

Bukan lah kebajikan menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat … Q.S Al Baqarah, 2:177

﴾ … فَأَيْنَمَا تُوَلُّواْ فَثَمَّ وَجْهُ اللّهِ … ﴿

… kemana pun kamu menghadap, Allah di sana … Q.S Al Baqarah, 2:115

Allah tidak terhalang pada arah kiblat. Maslahah dan Hikmah mengapa kiblah kita diperbaiki adalah sesuatu yang lain, tapi jangan berpikir kalau itu adalah bentuk ketakwaan. Menyetujui arah secara ritual bukanlah ketakwaan.

Ayatnya berlanjut:

Q.S 2:177

وَلَـكِنَّ الْبِرَّ مَنْ آمَنَ بِاللّهِ وَالْيَوْمِ … ﴿

الآخِرِ وَالْمَلآئِكَةِ وَالْكِتَابِ وَالنَّبِيِّينَ

وَآتَى الْمَالَ عَلَى حُبِّهِ ذَوِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى

وَالْمَسَاكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَالسَّآئِلِينَ وَفِي

﴾ … الرِّقَابِ وَأَقَامَ الصَّلاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ

… akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; …Q.S Al Baqarah, 2:177

Para malaikat yang memangku tugas Allah, memelihara tatanan Ilahi di seluruh alam semesta. Hal ini membantah teori Sir Isaac Newton yang percaya kalau Tuhan menciptakan dunia ini dan membiarkannya tanpa turut campur tangan. Al Qur’an membantahnya karena kita percaya pada pemangku jabatan atau malaikat Allah S.W.T. Sudah sangat jelas campur tangan Ilahi dalam segala hal di dunia ini. Bimbingan Ilahi datang dalam bentuk tulisan suci yang sudah ditentukan dan akhirnya dapat ditemukan dalam bentuk satu kitab. Di sini ayat tersebut tidak mengacu pada kutub (kata jamak dari kitab), karena semua kitab Ilahi, yang datang sebelumnya, sudah diubah melalui interpolasi. Kitab-kitab sebelumnya itu kehilangan kemurnian aslinya kecuali satu kitab Ilahi yang disebut Al Qur’an. Ayatnya kemudian melanjutkan, “dan semua nabi” – menegaskan di sini keberlangsungan petunjuk ilahi.

Di sini Al Qur’an tidak menyebutkan semua orang yang terlampau-indulgensi (indulgensi: penghapusan hukuman atau siksa dosa sementara (temporal) karena dosa-dosa yang telah mendapat ampunan) yang mana kemudian umat Islam berkembang dalam rangka untuk bertengkar satu sama lain dan berseru dan menyebut satu sama lain sebagai kafir. Ayatnya sederhana, langsung dan benar-benar hidup. Tahukah kalian kalau diskusi teologis akademis tidak benar-benar hidup, mereka hanya banyak berdalih? Ini adalah pernyataan langsung yang sudah cukup bagi seorang Muslim. Jika seseorang percaya pada hal tersebut, kalian tidak punya hak mengatakan kalau dia bukan Muslim. Ini adalah masalah kepercayaan tanpa rasa tidak nyaman pada diri sendiri.

Kemudian ayat tersebut menjelaskan tentang pengorbanan nyata dalam hidup yang menjelaskan kalian seorang Muslim dan mu’min, yang mana kalian beriman kepada Allah dan tata cara kehidupan yang diberikan dan diuraikan oleh Nabi Muhammad saw. Ada pepatah dalam bahasa Persia – “Jika kalian meminta hidupku, akan aku berikan, tapi jika kalian meminta uangku juga, itu patut dipertanyakan.” Kita harus mencatat bahwa dalam ayat ini Allah S.W.T pertama-tama menegaskan perihal kebajikan praktis. Dia tidak menyebutkan kebajikan devosional seperti shalat pertama kali tapi sebaliknya menyebutkan kebajikan sosial pertama kali. Dia menyebutkan huquq al-ibad. Di sini, Dia mementingkan huquq al-ibad secara utama, yang mana hari ini umat Islam kehilangan pandangan tentang itu, sepenuhnya. Jadi Allah S.W.T mengatakan bahwa ketika kalian sudah melakukan huquq al-ibad dengan benar, baru lah kalian bias yakin dating kepada-Ku dan melakukan shalat. Ghalib (penyair) berkata:

Akankah engkau pergi ke Ka’bah dengan wajah ini? Dengan semua kejahatan yang ada di wajahmu? Atau sebaiknya kalian tidak memurnikan diri kalian terlebih dahulu dan kemudian pergi ke Ka’bah yang merupakan tempat suci.

Inilah filosofi iman dalam Al Qur’an. Pertama, menguji iimaan kalian dengan pengorbanan demi orang lain. Mereka yang mungkin butuh bantuan kalian, harus ditolong pertama kali, kemudian baru lah menghadap Allah S.W.T dan menjadi seorang misallii. Dan setelah itu, kalian harus membayar zakat. Seseorang bertanya: “Kami membayar pajak ke pemerintah sangat banyak, bagaimana bisa zakat masih wajib bagi kami?” Harus diketahui, terlepas dari pajak pemerintah, dan bahkan setelah memberi sedekah, seseorang harus membayar zakat. Seorang Muslim tidak dilahirkan untuk menjadi anjing nomor satu di dunia ini, tapi sebagai malaikat kebahagiaan surgawi. Kalau seorang Muslim percaya kalau dia hanya lah seorang makhluk kategori binatang, maka dia dapat menjaga tulang anjing di mulutnya dan merasa senang menjadi jutawan atau milyarder. Orang seperti itu tidak punya tempat di sisi Tuhan. Tidak ada dalam Al Qur’an Allah S.W.T mengatakan “Jadilah kaya” atau “Allah mencintai orang yang kaya.” Tetapi Al Qur’an mengutuk kekayaan dan kemewahan dengan cara yang paling mengerikan. Mari kita ambil contoh dari Nabi Muhammad s.a.w.

Suatu hari, seseorang mendatangi Nabi Muhammad s.a.w dan memohon berkah kepadanya untuk berdo’a bagi keturunannya. Kata-kata yang Nabi Muhammad s.a.w ucapkan dalam do’a tersebut adalah kunci untuk semua masalah. Beliau berdo’a:

Ya Allah berikan kepada keturunanku apa yang akan mencukupi kebutuhan dasar mereka.

Nabi s.a.w berdo’a untuk keturunannya yang dia sayangi, tidak lebih dari kebutuhan dasar mereka. Al Qur’an mengatakan:

إِنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ ﴿

﴾ وَاللَّهُ عِندَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ

Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu). Tapi di sisi Allah-lah pahala yang paling besar.Q.S At Taghaabun, 64:15

Pahala kalian tidak akan datang dari kekayaan yang kalian miliki, saham besar di perusahaan atau pun dari anak-anak kalian. Kalian mungkin bangga dengan anak-anak kalian, tapi: Kekayaan dan pasukan anak laki-laki hanya lah perhiasan di dunia ini. (Q.S 18:46)

Saya sedang mencoba untuk membuat kalian memperhatikan karakteristik unik Islam – mungkin pada kesempatan lain saya akan katakan pada kalian bagaimana banyak Muslim sudah menyimpang. Saya merujuk pada bagian akhir ayat tersebut (Q.S 2:177). “Dan mendirikan sholat dan membayar zakat.” Menurut Al Qur’an, uang yang dimiliki seorang Muslim bukan lah miliknya. Allah menyatakan:

﴾… إِنَّ اللّهَ اشْتَرَى مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُم ﴿

Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka …Q.S At Taubah, 9:111

Bukan orang itu yang punya. Seseorang hanya lah wali dari semua miliknya. Sebagaimana yang dinyatakan Allah, uang ini bukan bermaksud untuk menjadi sesuatu yang mengutuk kalian, habiskan lah! Maka akan menjadi berkah bagi kalian. Menimbun uang hanya akan membawa anda ke neraka! Ayat dari Al Qur’an jelas menyatakan:

﴾ وَيْلٌ لِّكُلِّ هُمَزَةٍ لُّمَزَةٍ ﴿

﴾ الَّذِي جَمَعَ مَالًا وَعَدَّدَهُ ﴿

﴾ يَحْسَبُ أَنَّ مَالَهُ أَخْلَدَهُ ﴿

﴾ كَلَّا لَيُنبَذَنَّ فِي الْحُطَمَةِ ﴿

﴾ وَمَا أَدْرَاكَ مَا الْحُطَمَةُ ﴿

﴾ نَارُ اللَّهِ الْمُوقَدَةُ ﴿

﴾ الَّتِي تَطَّلِعُ عَلَى الْأَفْئِدَةِ ﴿

Celakalah dia, (orang yang keliru), yang mengumpulkan kekayaan dan menghitungnya. Dia merasa bahwa kekayaannya akan mengkekalkannya. Tak pernah! Dia akan dibuang di al-hutamah. Dan tahukah kamu apa Huthamah itu? (yaitu) api (yang disediakan) Allah yang dinyalakan, yang (membakar) sampai ke hati.

Q.S Al Humazah, 104:1-7

Apa artinya “yang (membakar) sampai ke hati.” Kalian harus punya pengetahuan tentang jahannam, di mana itu adalah tempat besar dengan nyala api, di sini Allah mengatakan bahwa neraka ada di atas hati. Ini maksudnya adalah neraka yang menghilangkan kesempatan untuk melakukan kebaikan dan mendapatkan keselamatan. Ini adalah neraka yang menghilangkan kesempatan kesejahteraan bagi orang yang kurang beruntung – sampai yang kurang beruntung jadi putus asa di Uni Soviet dan Tiongkok dan negara lainnya dan bangkit dalam pemberontakan berdarah dan merampas semua dari yang kaya.

Jadi Al Qur’an menyatakan bahwa diperbolehkan bagi seorang Muslim untuk memperoleh kekayaan hanya dengan cara yang sah dan bukan dengan cara adil-tidak adil atau curang-tidak curang. Tidak ada yang namanya “semua adil dalam cinta dan perang.” Kekayaan dapat diperoleh hanya dengan cara yang sah dan Nabi Muhammad s.a.w telah bersabda:

Apapun yang sah (halal) telah jelas apapun yang tidak sah (haram) telah jelas.

Ini belum kita ta’wilkan (interpretasi). Ada beberapa orang yang mencoba untuk menegakkan bendera ketakwaan mereka sendiri dan hal-hal yang tidak diharamkan oleh Nabi Muhammad s.a.w, mereka katakan haram. Mereka tidak berhak untuk begitu dan mereka sudah melakukan dosa besar.

Jadi, seorang Muslim diperbolehkan memperoleh kekayaan dengan cara yang sah hanya dengan definisi dan ditetapkan oleh Nabi Muhammad s.a.w dan bukan dengan keinginan pemikiran kita. Dengan begini, seseorang dapat menghasilkan jutaan – tapi, kemudian dia tidak bisa menghabiskan atau membelanjakannya sesuai keinginannya. Al Qur’an secara jelas menyatakan tentang hal ini:

﴾… وَيَسْأَلُونَكَ مَاذَا يُنفِقُونَ قُلِ الْعَفْوَ …﴿

… Dan mereka bertanya kepadamu bagaimana seharusnya membelanjakan uang di jalan Tuhan demi melayani umat manusia. Katakanlah: ” Belanjakan setelah kebutuhan dasarmu terpenuhi ” …Q.S Al Baqarah, 2:219

Menghabiskan atau membelanjakan di sini maksudnya bukan sebagai Fir’aun atau Qarun, tapi sebagai Muslim. Ini berkaitan dengan huquuq al-ibaad.

Kemudian Al Qur’an membahas huquuq al-nafs, kualitas pribadi. Ayatnya:

﴾… وَالْمُوفُونَ بِعَهْدِهِمْ إِذَا عَاهَدُواْ …﴿

… jika kalian berjanji, maka tepati lah … Q.S Al Baqarah, 2:177

Sekali lagi, Al Qur’an berbicara tentang etika sosial. Ini adalah bentuk ketakwaan praktis. Izinkan saya memberi kalian contoh dan membandingkannya dengan Muslim yang paling takwa. Ada banyak contoh sebenarnya, tapi saya akan mengutip hanya satu dari kehidupan Nabi s.a.w.

Sahabat Sayyidina Hudzaifah r.a adalah salah satu dari orang terakhir yang hijrah dari Mekkah ke Madinah. Dia dicegat oleh penjaga Quraysi. Namun dia dapat meninggalkan Mekkah hanya apabila dia berjanji untuk tidak bergabung dengan pasukan Muslim dalam perang yang akan datang, Perang Badar. Sayyidina Hudzaifa r.a berjanji akan melakukannya. Setibanya di Madinah, dia menceritakan seluruh kejadian itu kepada Nabi Muhammad s.a.w. Setelah beberapa waktu berlalu, pertempuran Badar hampir datang dan Nabi s.a.w yang tercinta hanya dapat mengumpulkan pasukan 313 orang yang tidak punya banyak perlengkapan. Orang Mekah datang dengan kekuatan besar dan ketika Sayyidina Hudzaifa r.a datang untuk bergabung, Nabi s.a.w melarangnya untuk bergabung dengan pasukan dan mengingatkannya akan janji yang sudah dia buat. Sayyidina Hudzaifa r.a protes dan berkata: “Tapi ya Rasul, janji di bawah paksaan bukanlah janji” dan Nabi Muhammad s.a.w menjawab, “Bagi manusia yang lain, yaa, tapi bukan bagi seorang Muslim. Seorang Muslim tidak pernah melanggar janji apa pun keadaannya. Tidak ada Muslim yang harus melanggar hukum Allah.” Dan Sayyidina Hudzaifa tidak bisa pergi ke medan perang.

Tapi janji kita hari ini! Ada banyak kamus alasan yang telah diciptakan dan terus disiapkan. Beberapa orang, bahkan orang tua yang duduk di pasar, berurusan dengan transaksi jual beli dan melanggar janji mereka. Apa ini, jenis Islam baru menurut perasaan dan keinginan pribadi? Ayatnya melanjutkan:

﴾… وَالصَّابِرِينَ فِي الْبَأْسَاء والضَّرَّاء وَحِينَ الْبَأْسِ …﴿

… dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, …Q.S Al Baqarah, 2:177

Seorang Muslim hanya bisa menghadapi semua kesulitan dengan tenang dan sabar karena moto hidupnya adalah:

﴾ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ …﴿

الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُم مُّصِيبَةٌ قَالُواْ إِنَّا لِلّهِ ﴿

﴾ وَإِنَّـا إِلَيْهِ رَاجِعونَ

…Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun

Q.S Al Baqarah, 2:155-156

Mengapa kita harus peduli? Kita tidak akan tinggal di sini (dunia) selamanya. Kita akan kembali kepada-Nya. Mari kita ambil contoh dari suatu masa dalam sejarah ketika umat Islam tenggelam ke dasar yang sangat rendah dalam aspek-aspek tertentu dalam kehidupan mereka. Secara politis mereka babak belur dipukuli oleh musuh-musuh mereka dan secara moral, orang-orang terkemuka di zaman mereka sama seperti saat sekarang: berikan anggur, wanita dan barang mewah. Saat itu terjadi, lahirlah seorang pembaharu (reformator) terbesar dalam sejarah Islam dari kalangan pengikut Nabi Muhammad s.a.w. Dia adalah Sayyidina Ghawth al-azam Muhiyyiddin Sayyid Abdul Qadir al-Jailani r.a.h (470-561 AH/1077-1166AD). Seperti apa contoh yang dia berikan mengenai perintah Al Qur’an tentang mereka yang teguh dan sabar dalam kesukaran dan kerugian.

Berkaitan dengan bahwa dia seorang pebisnis yang sangat sukses dari pebisnis terkenal, meskipun tidak hidup seperti seorang raja bisnis. Dia hidup sebagai faqr dan memperoleh kekayaan demi Islam. Bisnisnya sangat sukses sehingga dia punya armada pedagang lautan.

Suatu hari dia duduk di khanaqah-nya dengan muridnya, manajernya memberitahunya bahwa armada yang membawa barang dagangannya dari Basra telah hancur di lautan. Jika armada ini hancur, maka seluruh bisnis juga akan musnah. Sayyidina Ghawth al-a’zam melihat ke arah manajer tersebut, menundukkan kepalanya selama beberapa saat, mengangkatnya dan berkata: “Alhamdulillah” (segala puji hanya lah milik Allah). Dia kemudian melanjutkan ceramahnya dengan murid-muridnya. Setelah sekitar satu jam atau lebih, manajernya kembali dan mengatakan bahwa informasi sebelumnya tidak benar, bahwa armada itu terkepung dalam badai yang sangat besar tapi berhasil mencapai pantai dengan selamat. Sekali lagi Ghawth al-a’zam melihat ke arah manajer, menundukkan kepalanya untuk beberapa saat, mengangkat kepalanya dan berkata: “Alhamdulillah”.

Salah satu murid dekatnya berkata kepadanya: “Tuan, saya tidak bisa memahaminya, ketika kabar buruk datang yakni ketika armada hancur, anda berkata, “Alhamdulillah”. Dan ketika kabar baik anda juga berkata, “Alhamdulillah”. Fenomena aneh apa ini?

Sheikh Abdul Qadir al-Jailani r.a.h tersenyum dan berkata: “Engkau salah dalam berpikir kalau saya berkata: “Alhamdulillah” ketika kabar armada tenggelam atau selamat. Saya mengintrospeksi atau memeriksa diri saya sendiri untuk melihat apakah kabar yang mengejutkan atau kabar baik itu punya sedikit pengaruh pada emosi saya atau tidak, dan saya menemukan bahwa tidak ada sama sekali. Dan saat itu lah saya berkata: “Alhamdulillah”.

Inna lillahi”, bukan dikatakan sambil menangis dan meratap dan merintih. Bukan begini mengucapkan “Inna lillahi”. Ini seharusnya diucapkan dengan semangat, pemahaman dan kesadaran bahwa kondisi batin dan luar harus sesuai dengan prinsip “Inna lillahi”. Ini tidak hanya dilakukan bagi Ghawt al-a’zam. Kita semua diperintahkan untuk seperti itu demi moto hidup yang ada di dalam Al Qur’an bagi orang-orang beriman:

لِكَيْلَا تَأْسَوْا عَلَى مَا فَاتَكُمْ وَلَا تَفْرَحُوا بِمَا ﴿

﴾ آتَاكُمْ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ

Setiap bencana yang menghampirimu, apapun yang hilang dari hidupmu, jangan pernah kecewa atau putus asa. Dan setiap berkah yang Allah berikan yang membuatmu bahagia, jangan terlalu gembira. Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diriQ.S Al Baqarah, 57:23

Kalau tidak, kalian tidak berperilaku seperti Muslim. Ketika malapetaka menimpa kalian seperti gemuruh dan ketika kebahagian datang, kalian akan kehilangan keseimbangan pikiran. Orang-orang seperti itu, Allah S.W.T mengatakan tidak bisa menjadi ‘ibad-Ku, mereka tidak bisa menjadi hamba-Ku. Dalam ayat lain kita diberitahu:

وَمِنَ النَّاسِ مَن يَعْبُدُ اللَّهَ عَلَى حَرْفٍ فَإِنْ أَصَابَهُ ﴿

خَيْرٌ اطْمَأَنَّ بِهِ وَإِنْ أَصَابَتْهُ فِتْنَةٌ انقَلَبَ عَلَى وَجْهِهِ

خَسِرَ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةَ ذَلِكَ

﴾ هُوَ الْخُسْرَانُ الْمُبِينُ

Ada orang-orang yang percaya, atau memberikan pengabdian, kesetiaan atau iman mereka pada pondasi yang rapuh. Ketika kebaikan datang ke orang seperti itu, dia menjadi gembira, dan ketika sebuah cobaan datang dari Allah, berbaliklah ia ke belakang!Q.S Al Baqarah, 22:11

Dia meratap dengan marah kepada Allah! Saya telah terluka! Saya telah sholat dan berdo’a di Masjid lima kali sehari! Allah S.W.T berkata tentang orang-orang seperti itu atau Muslim seperti itu dengan sebutan pecundang di kehidupan dunia dan akhirat. (Q.S 22:2)

Dan ini lah kerugian nyata di dunia dan akhirat. Jadi, apa karakteristik seorang Muslim di sini? Al Qur’an melanjutkan:

﴾… أُولَـئِكَ الَّذِينَ صَدَقُوا …﴿

… Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); …Q.S Al Baqarah, 2:177

Dalam proklamasinya bahwa mereka tulus kepada Allah S.W.T dan Nabi-Nya dan Islam. Ini bukan lah orang yang melakukan shalat lima kali secara ritual sebagai latihan senam tanpa semangat dan pengertian. Juga bukan dia yang tetap lapar dan haus dari pagi hingga malam di bulan Ramadhan dan melanggar setiap hukum yang diberikan oleh Nabi s.a.w terkait puasa. Dia makan begitu banyak pada waktu sahur sehingga dia bersendawa sepanjang hari dan dia makan begitu banyak saat berbuka puasa sehingga dia bersendawa sepanjang malam.

﴾ وَأُولَـئِكَ هُمُ الْمُتَّقُونَ …﴿

Mereka yang memiliki sifat-sifat kesempurnaan karakter, mereka adalah Muslim sejati. “Mereka adalah orang-orang yang bertaqwa.” Q.S Al Baqarah, 2:177

Saudara/I ku yang tercinta dalam Islam. Saya telah menguraikan tentang pesan-pesan Islam dan cita-citanya tetapi kita harus menerimanya dan mempraktekkannya, Insya Allah.

Segala pujian hanya lah untuk Allah, Tuhan Semesta Alam.

 

Catatan Admin:

  • Ketika mengambil atau mengutip segala materi baik dalam bentuk tulisan maupun hasil terjemahan dari website Eskatogi Islam ini, mohon masukkan tautan ke artikel asli.

Tulisan ini diambil dari buku transkrip ceramah yang berjudul, “Islam To The Modern Mind” yang ditulis oleh Maulana Fazlur Rahman Ansari Al Qaderi rahimahullah.

previous arrow
next arrow
previous arrownext arrow
Slider

Beliau merupakan seorang Cendekiawan Islam, Filsuf, Orator, Mubaligh, Guru, Penulis serta Pemimpin Spiritual. Karena beliau memiliki kualitas-kualitas yang beragam, beliau sangat berpengaruh pada pikiran dan hati Muslim dan Non-Muslim di belahan dunia, termasuk Perdana Menteri, Para Ulama, para pemikir, Professor, Pejabat Pemerintah, Jurnalis, pemimpin politik, Sufi, dll.

Beliau lahir dari keluarga Islam yang taat pada tanggal 14 Agustus 1914 di Muzaffarnagar, Provinsi UP, India. Beliau merupakan keturunan dari Hazrat Abu Ayoob Ansari (رضي الله عنه) of al-Madīnah alMunawwarah, seorang sahabat Rasulullah (صلى الله عليه وسلم) yang rumahnya ditempati oleh Rasulullah (صلى الله عليه وسلم) ketika pertama kali tiba di Madinah di masa hijrah.

Pada usia 7 tahun beliau sudah hafal Al Qur’an dan pada usia 19 tahun beliau tamat dari kurikulum Dars-i Nizami. Setelah tamat sekolah, beliau kemudian melanjutkan kuliah dan memperoleh gelar Bachelor of Arts (BA) dan Bachelor of Science (BSc) di Universitas Aligarchi dan memperoleh Medali Emas. Kemudian beliau melanjutkan ke tingkat Master dengan jurusan Filosofi dan memperoleh nilai yang luar biasa, 98%, dan masih dianggap belum ada yang bisa menandingi nilainya.

Dr. Fazlur Rahman Ansari (رحمه الله), Alhamdulillah, tetap berada di bawah bayang-bayang Fazl of Rahman-Allah. Allah (سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى) memberinya dua Guru Besar. Beliau belajar kurikulum atau sistem Dars-i Nizami melalui bimbingan Aala Hazrat Imam Al-Sharah Allama Syed Sulaman Ashraf dan Filsafat Modern oleh Dr. Syed Zafarul Hassan, dan kedua guru ini terkenal dan kepribadiannya yang luar biasa pada masanya.

Selama menjadi mahasiswa, beliau lulus semua ujian di kelas satu. Beliau lulus pada tahun 1935 dengan kelas pertama, divisi pertama, dan menerima Medali Emas pada tahun pertama di BA dan B.Sc dalam ujian gabungan. Beliau menerima Medali Emas karena telah membuat rekor baru 98% dalam ujian Philosophy B.A (Bachelor of Arts). Beliau lulusan pertama pada tahun pertama di B.Th (Bachelor of Theology) dan lulus M.A (Master of Arts) Filosofi pada tahun pertama. Beliau sendiri mengajar secara independen mata kuliah M.A di banyak mata pelajaran seperti Politik, Ekonomi, Studi Perbandingan agama dan mempelajari banyak Ilmu Fisika, seperti Mitologi, Sejarah Peradaban dan Budaya, Hukum dan Obat-obatan terutama Homeopati, dll., dan belajar bahasa Jerman. Beliau menguasai 5 bahasa, yakni Arab, Inggris, Urdu, Jerman, dan Persia.

Pada tahun 1947 beliau menyelesaikan tesis penelitian PhD, tetapi karena keadaan yang tidak menguntungkan dari migrasi ke Pakistan (ketika Pakistan hendak memisahkan diri dari India), tesis lengkapnya tertunda. Namun beliau diberikan gelar PhD pada tahun 1970 oleh Universitas Karachi untuk tesisnya tentang Kode Moral Islam dan latar belakang Metafisikanya.

Untuk mencerahkan pemikiran dan meningkatkan semangat religius, Allah (سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى) membawanya bertemu dengan Maulana Shah Abdul Aleem Siddiqui (رحمه الله) (keturunan Abu Bakr Shiddiq رضي الله عنه), seorang Khalifah Aala Hazrat Maulana Ahmed Raza Khan dari Bareli (رحمه الله) dan seorang Cendekiawan Islam dunia pada masa itu. Maulana Abdul menerima beliau sebagai Murid secara spiritual.

Maulana Abdul Aleem Siddiqui memberinya Ijaz (otoritas) dalam urusan spiritual di dalam Hateem of Kaba. Maulana Abdul Aleem Shiddiqui menerima beliau sebagai anggota keluarganya dan menikahkan putri sulungnya dan memilih beliau sebagai menantu laki-lakinya. Setelah wafatnya Hazrat Abdul Aleem Siddiqui (رحمه الله), beliau diangkat menjadi Raees-ul-Khalifa dari Halqa-e-Aleemiyah Qaderiyah.

Pada tahun 1944-1946 Dr. Fazlur Rahman Ansari (رحمه الله) terpilih sebagai anggota Komite Perencanaan Pendidikan di bawah mandat yang diberikan oleh Quaid-e-Azam Muhammad Ali Jinnah.

Dr. Fazlur Rahman Ansari (رحمه الله), selain mempelajari mistisisme Islam (Al Ihsan/Tasawwuf) dari Shah Abdul Aleem Siddiqui (رحمه الله), melakukan perjalanan jauh dan luas. Beliau mulai melakukan tur dakwah sebagai anak didik Maulana Abdul Aleem Siddiqui (رحمه الله) setiap kali mengunjungi 15/20 negara dan melakukan perjalanan tujuh kali ke seluruh dunia. Kedua duta besar Mubaligh Islam ini berkumpul dalam komunitas Muslim di negara yang dikunjungi dan mendirikan organisasi di negara Muslim yang dikunjungi agar berdakwah lebih lancar dan efektif lagi. Beliau memiliki hak istimewa untuk memimpin beberapa Misi Islam baik nasional maupun internasional.

Beliau menulis buku pertamanya di bawah bimbingan Shaikh-nya yang berjudul “The Beacon Light” pada usia 18 tahun. Selama kuliah, beliau menulis buku keduanya, “The Christian World in revolution”. Setelah buku-buku ini, banyak buku lain yang ditulis seperti “Muhammad (صلى الله عليه وسلم).” “The Glory of Ages“, “Islam in Europe and America“, dll. Beliau menulis sekitar 40 buku dalam bahasa Urdu dan bahasa Inggris. Beliau mengedit berbagai majalah dari dalam dan luar negeri. Pada tahun 1973 beliau menulis buku terakhirnya yang penuh makna, yaituThe Quranic Foundations and Structure of Muslim Society” dalam bahasa Inggris dan dalam dua jilid. Buku ini memberikan Sistem Panduan dengan cara yang rumit, yang membenarkan secara menyeluruh klaim Al Qur’an yang “posisi atas segalanya (di mana umat manusia membutuhkan Bimbingan Ilahi)”.

Aleemiyah Institute of Islamic Studies yang didirikannya adalah salah satu proyek yang luar biasa penting di mana, selain memberikan pendidikan agama dan pelatihan dakwah, mata pelajaran sekuler penting lainnya seperti Ekonomi, studi Perbandingan agama, Jurnalisme, dan lainnya, juga diajarkan. Karena usaha dan dedikasinya yang terus menerus kepada Islam dan umat manusia, ribuan orang telah masuk Islam.

Pada bulan Desember 1973 beliau melakukan tur misi terakhir ke Seychelles dan Srilanka dan tahun 1974 menghembuskan nafas terakhirnya pada hari Senin, 3 Juni, 1974 (Jamadi-ul-Awwal ke-11) pada pukul 10.30 pagi. Beliau dimakamkan di kompleks Islamic Centre (The Aleemiyah Institute of Islamic Studies ). Semoga Allah (سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى) menempatkan beliau di Jannah-Nya dan menempatkan beliau bersama orang-orang shaleh. Aamiin ya Rabbal’alamiin

Maulana Imran N Hosein merupakan murid sekaligus menantunya Maulana Fazlur Rahman Ansari Al Qaderi (رحمه الله).

The Aleemiyah Institute of Islamic Studies yang didirikan oleh Maulana Fazlur Rahman Ansari (رحمه الله) adalah Universitas Islam dan Sains Modern yang terletak di Karachi, Pakistan. Lembaga ini dijalankan oleh World Federation of Islamic Missions. Maulana Imran Hosein tamat di Universitas ini.

 

Please share this post

Terkait

Leave a Comment