Tanggapan atas Persoalan Darwinisme, Kendali Kelahiran dan Taqdir (Takdir)

Download

Oleh: Maulana Fazlur Rahman Ansari Al Qaderi rahimahullah

 

Darwinisme

Mengenai konsep evolusi, kitab suci Al Qur’an adalah kitab pertama dalam sejarah yang diketahui sudah mengeluarkan konsep evolusi dan menegaskan konsep tersebut dalam dimensi kehidupan yang berbeda. Menurut Al Qur’an, manusia itu evolusioner; kehidupan di bumi – apakah tanaman atau hewan – itu evolusioner, dan seluruh alam semesta itu sendiri evolusioner. Salah satu nama istimewa Allah (Subhanahu wa Ta’ala) adalah Rabb. Menurut mufasir Al Qur’an, misalnya Imam Raghib al-Isfahani, Rabb diartikan sebagai: “Satu yang memimpin sesuatu dengan menjaga dan memeliharanya dari satu tahap pertumbuhan ke tahan berikutnya dan membimbingnya mencapai tujuannya.”

Teori evolusi sudah ada jauh sebelum Darwin muncul. Ibn Miskawayh, misalnya, yang menulis buku yang berjudul “Kitaab al-hayawaan” (Buku tentang Kehidupan Hewan), di mana dia mengembangkan teori evolusi secara ilmiah. Dia terinspirasi oleh Al Qur’an dan mengumpulkan seluruh data dan merumuskan teori ilmiah. Buku tersebut diterjemahkan ke bahasa Latin dan diajarkan dalam bahasa Latin selama beberapa abad. Jika seseorang membandingkan buku Miskawayh dengan teori “Asal-usul Spesies” Darwin, ada banyak bagian yang menjadi terjemahan literal yang berasal dari buku Ibn Miskawayh. Darwin, seperti kebanyakan cendekiawan Barat, tidak mengakui hutang mereka kepada cendekiawan Muslim.

Teori Darwin, landasan yang menjadi prinsip seleksi alam, transmutasi (perubahan) spesies, dan istilah “yang terkuat yang bertahan hidup”, dan bagaimanapun, itu semua mengandung unsur bias yang subjektif. Ketika Darwin muncul, konflik besar timbul antara para pemimpin Gereja dan para pemimpin Pencerahan (pada abad Pencerahan Eropa). Para pemimpin Pencerahan yang memperoleh pendidikan Muslim dalam hal sains, matematika, dll., dibakar di tiang atau dipenjarakan dan dibunuh.

Oleh sebab itu, kebencian dan permusuhan berkembang antara Gereja dan para pemimpin Pencerahan (Enlightenment). Pada akhirnya, Gereja tidak bisa menekan mereka, dan tujuan mereka diambil oleh Darwin yang memiliki misi untuk menghancurkan Gereja dan semua yang diperjuangkannya. Jadi dia menyusun sebuah teori di mana prinsip campur tangan Tuhan dapat disangkal, sehingga seluruh struktur agama akan runtuh ke tanah. Jika Tuhan bisa dianggap tidak perlu atas keberadaan alam, maka kepercayaan kepada Tuhan jadi berlebihan. Darwin bekerja dengan teori ini dengan indah dan memberi kita teori sebab-akibat mekanis dalam biologi untuk menjelaskan asal-usul dari semua hal yang ada. Hal ini bertentangan dengan pandangan Kristen tentang makhluk ciptaan Tuhan.

Dia memulainya dengan teori amuba, sel kesatuan, dan berkata bahwa melalui fisi (pembelahan), sel berkembang biak, (ini fakta dalam biologi) dan mengubah dirinya menjadi organisme yang lebih kompleks. Kemudian dia merumuskan prinsip mutasi (perubahan), dan berkata bahwa kehidupan di bumi sudah muncul dari bentuk yang lebih sederhana, perubahan dimulai dari amuba sampai perubahan akhir manusia, yang disebut mutasi kera. Di sini lah orang-orang merasa terhina.

Akbar Ilaahabaadhi melaporkan: “Mansur berkata, ‘Aku adalah tuhan’ dan Darwin menjawab, ‘Aku adalah seekor kera’,” dan temanku berkata bahwa setiap orang berpikir menurut kemampuan atau tingkat daya paham. Izinkan saya berbicara tentang dasar pengetahuan ilmiah itu sendiri.

Tidak ada salahnya jika Allah (Subhanahu wa Ta’ala) berencana dengan cara bahwa spesies yang berbeda di bumi ini harus ada dengan cara seperti yang dikatakan Darwin. Lagi pula, tubuh manusia sebelum muncul ke dunia ini berasal dari embrio dalam bentuk yang berbeda. Bentuk embrio itu jelek, seperti kadal, dan terus berubah bentuk sampai menjadi bayi normal. Setiap manusia berubah bentuk dalam rahim ibunya, dan jika spesies merubah bentuknya seperti itu, maka tidak ada yang terhina. Karena itu, kita tidak seharusnya mengambil sudut pandang tersebut.

Dari sudut pandang ilmiah, teori evolusi Darwin bukan lah satu-satunya. Ada kaum vitalis, fundamentalis, evolusionis kreatif dan telefinalis. Jadi, haluan pemikiran Darwin bukan lah satu-satunya. Orang barat mencoba untuk berpegang teguh pada teori itu karena konten ateistik. Alasan lainnya adalah tren utama Barat sudah mengembangkan pandangan materialistis. Ada kecenderungan untuk mendukung ateisme secara emosional dikarenakan permusuhan Barat terhadap Gereja.

Di Barat, teori lain muncul. Ahli biologi hebat, Gabius Haldane dan orang lainnya yang masih hidup, secara terbuka menantang teori Darwin. Ilmuwan modern berkata: “Jika kita membuat eksperimen mutasi, kita selalu menemukan kalau mutasi itu berbahaya bagi organisme (yakni organisme berkembang melalui mutasi).” Atas dasar ini, ahli biologi seperti Haldane bertanya bagaimana organisme yang sehat bisa berevolusi di alam? Jadi, bagi mereka prinsip ini tak masuk akal dan akibatnya, teori Darwin runtuh ke tanah.

Agar sebuah teori menjadi ilmiah, teori itu harus punya semua mata rantai yang dapat dilacak, dapat dibuktikan dan tak bisa dibantah. Dalam kasus teori Darwin, mata rantai yang hilang masih belum ditemukan. Karena itu, teori ini hanya sekedar fiksi, tak berdasar dan tak ilmiah. Jika kita memandang evolusi spesies dari sudut persatuan (tawhid), kita akan melihat bahwa prinsip ini menembus segala sesuatu di alam semesta. Kemudian kita akan menerima teori telefinalis. Sebagai berikut:

Ada sebuah pohon kehidupan kesatuan, dan pohon ini berevolusi menghasilkan spesies tertentu, spesies ini berevolusi sebagai cabang atas batang pohon tersebut. Tidak ada mutasi. Ini bukan berarti satu cabang berubah menjadi yang lain – masing-masing cabang itu independen. Manusia muncul ke bumi setelah berevolusi dan matang, sampai tingkat yang paling tinggi, yakni manusia, hidup dan bertahan di sini (di dunia).

Menurut Al Qur’an, dasar keberadaan semua kehidupan hewan adalah satu – apakah hewan itu amuda, kera, atau kucing. Al Qur’an menyatakan:

﴾… وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاء كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ …﴿

… dan Kami ciptakan segala sesuatu yang hidup dari air; … Q.S Al Anbiyaa, 21:30

Tentang spesies manusia, Al Qur’an menyatakan:

﴾ وَاللَّهُ أَنبَتَكُم مِّنَ الْأَرْضِ نَبَاتًا ﴿

Dan Allah menumbuhkan kamu dari tanah, tumbuh (berangsur-angsur)Q.S Nuh, 71:17

Nabaata, kepribadian manusia yang sederhana ini muncul dari bumi, dan ini lah yang dikatakan Darwin dan semua evolusionis lainnya. Al Qur’an mengatakan bahwa manusia pertama muncul dari lumpur hitam:

﴾ وَلَقَدْ خَلَقْنَا الإِنسَانَ مِن صَلْصَالٍ مِّنْ حَمَإٍ مَّسْنُونٍ ﴿

Dan sungguh, Kami telah menciptakan manusia dari tanah liat kering dari lumpur hitam yang diberi bentuk.Q.S Al Hijr, 15:26

Persis seperti yang dikatakan ilmuan modern. Lumpur hitam dapat ditemukan di tepi laut, dan mungkin maksud dari tepi laut itu – secara kiasan atau harfiah – adalah makam nenek moyang kita, Hawa, di Jeddah.

Tentang kepribadian manusia, Islam berpandangan berbeda dengan Darwinis dan evolusionis lainnya. Menurut ilmuwan modern, mereka mengklaim bahwa mereka tidak tahu apa itu “jiwa”, dan hanya berbicara dalam istilah “tubuh”. Menurut Islam, semua manusia diciptakan ketika “Fajar Penciptaan”. Diciptakan dalam bentuk apa? Dia lah, Allah, yang menciptakan manusia dalam bentuk al-ruuh – kepribadian esensial atau makhluk esensial. Al Qur’an menyatakan:

Allah Yang Maha Kuasa mengumpulkan semua anak cucu Adam dan bertanya:

﴾… أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ …﴿

… “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” … Q.S Al A’raf, 7:172

dan semuanya menjawab:

﴾… قَالُواْ بَلَى …﴿

…“Benar, (Engkau Tuhan kami), kami bersaksi”… Q.S Al A’raf, 7:172

Berada di mana seluruh umat manusia saat itu? Artinya bahwa itu adalah al-ruh (kepribadian esensial), dan tahap itu adalah dialog antara Allah (Subhanahu wa Ta’ala) dan al-ruh. Sebagaimana Mawlana Jalaluddin Rumi (rahimahullah), filsuf hebat dan ulama sufi Islam berkata:

Ciptaan esensial ini (kepribadian) telah hidup selama milyaran tahun dan telah melewati tahap keberadaan perkembangannya.

Kepribadian esensial muncuk ke dunia – menembus tanah, berkumpul di sekelilingnya sebuah inti dari semua material duniawi dalam bentuk partikel-partikel fundamental di mana tubuhnya akan dibentuk. Kemudian mulai mewujudkannya sendiri.

Dengan demikian, kepribadian esensial tumbuh dari bumi, meskipun diciptakan di Jannah. Masalah sudah terpecahkan dengan cara ini. Karena itu, bisa dipahami degan jelas bahwa Adam (alaihi salam) dan Hawa (alaihi salam) diciptakan di Jannah, tapi lahir di bumi. Ingatlah ayatnya:

  يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم﴿

﴾… مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ

Wahai manusia! Bertakwalah kepada Tuhanmu terkait hubungan kalian satu sama lain, yang diciptakan dari satu tunggal entitas kehidupan. …Q.S An Nisaa, 4:1

Nafs-wahidah (satu jiwa) ini,  adalah entitas terintegrasi yang sadar di mana sel kesatuan pertama muncul – sel kesatuan dari konstitusi manusia. Sel kesatuan ini terbelah melalui fisi (pembelahan), dan ketika terbelah, sel ini menjadi dua. Sel pertama selalu lebih besar daripada sel lainnya – seperti yang diketahui para ahli biologi. Sel yang lebih besar adalah Adam dan sel yang lebih kecil adalah Hawa.

﴾… وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا …﴿

… Dan tercipta dari itu sendiri, pasangannya. … Q.S An Nisaa, 4:1

Kendali Kelahiran dalam Islam

Nabi Muhammad (shallallahu ‘alaihi wa sallam) bersabda bahwa apakah kamu melaksanakannya atau tidak, jiwa-jiwa yang muncul ke dunia ini, tetap akan lahir. Tapi jika ada kebutuhan untuk melaksanakan kendali kelahiran, maka manusia hanya perlu berusaha, sisanya berada di “Tangan” Tuhan. Pikirkanlah, kendali kelahiran bukanlah sebuah kebajikan, karena prinsip pernikahan dalam Islam adalah hal yang menghasilkan (procreation) dan bukan nafsu. Jika kendali kelahiran diperlukan, maka manusia harus melakukan tugasnya, dan Tuhan pun melakukan apa yang ingin Dia lakukan. Manusia bekerja menurut Hukum. Apakah dia akan gagal atau berhasil, Tuhan Yang Maha Kuasa akan menilainya menurut motif (niat) yang dia punya: Dan Tuhan Yang Maha Kuasa akan menilai perbuatannya menurut motif yang dia punya.

Taqdir (Takdir)

Persoalan ini sudah membuat sakit kepala para pemikir di dunia, baik dalam agama Kristen, Islam, dan sebagainya. Tentu saja, ada beberapa agama yang sepenuhnya mengajarkan taqdir, seperti Buddhisme dan Hinduisme. Agama-agama ini mengajarkan hukum atau ketetapan karma – di mana segala sesuatu benar-benar sudah ditentukan sebelumnya.

Dalam sejarah Islam, ada perbedaan ajaran pemikiran. Ada Qadariyyah (ini bukan tarekat Sufi) dan ada Jabariyyah. Qadariyyah berkata bahwa manusia itu benar-benar bebas. Jabariyyah berkata bahwa manusia itu benar-benar berada di bawah ketetapan – dimana manusia tidak bebas dengan cara apapun. Ahlul-sunnah wal al-jama’ah berkata bahwa posisi manusia antara ketetapan dan kebebasan.

Ketika kalian membaca Al Qur’an, kalian akan menemukan kalau dua kondisi tersebut sudah disebutkan dalam Al Qur’an, yakni kebebasan dan ketetapan. Terkait kebebasan:

﴾… فَمَن شَاء فَلْيُؤْمِن وَمَن شَاء فَلْيَكْفُرْ …﴿

… barang siapa menghendaki (beriman) hendaklah dia beriman, dan barang siapa menghendaki (kafir) biarlah dia kafir. …Q.S Al Kahfi, 18:29

Perihal ketetapan, kita diberi tahu:

﴾… قُل لَّن يُصِيبَنَا إِلاَّ مَا كَتَبَ اللّهُ لَنَا ﴿

Katakanlah (Muhammad), Tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah bagi kami. …Q.S At Taubah, 9:51

Manusia itu bebas secara akhlak tapi secara fisik sudah ditetapkan. Dunia jasmani adalah dunia ketetapan. Ini lah dunia rantai sebab-akibat (hubungan sebab-akibat), artinya, sebuah peristiwa membangkitkan peristiwa lainnya. Seluruh dunia jasmani adalah sebuah serangkaian sebab dan dampak dan ketika penyebabnya terjadi, dampak pasti akan terjadi. Jadi, begitu lah dunia ketetapan. Semua perbuatan jasmani terjadi dengan cara ini, dan tidak ada manusia mana pun yang bisa mengendalikannya. Lalu, apanya yang kebebasan?

Kebebasan adalah kebebasan dalam berkehendak, bukan kebebasan dalam bertindak. Kebebasan berkehendak lah yang dianugerahkan kepada manusia, melalui dekrit (keputusan) sesuai Kehendak-Nya, ini terbatas pada domain kehendak itu sendiri, dan itu lah mengapa Nabi Muhammad (shallallahu ‘alaihi wa sallam) mengklarifikasi masalah ini ketika beliau bersabda:

Nilai perbuatan terletak pada motif (niat) nya. dan setiap orang akan diadili menurut motif (niat) nya.

Ketika kalian menganalisa setiap tindakan secara psikologi ke dalam faktor komponennya, maka ada tiga faktor dalam setiap tindakan: motif, bentuk dan akibat dari perbuatan itu sendiri. Motif bisa dengan mudah berbeda. Misalnya, si “A” mengendarai mobil, menabrak seseorang yang sedang lewat dan orang itu meninggal. Si “B” sedang mengendarai mobil, menabrak seseorang, dan orang ini juga meninggal. Bentuk perbuatan dan dampak yang dihasilkan dari kedua tindakan tersebut adalah sama, tapi bagaimana dengan motifnya? Motif si “A” mungkin bukan untuk membunuh orang itu, dan itu hanyalah kecelakaan. Motif si “B” mungkin sengaja untuk membunuh orang itu sedemikian rupa agar dia tidak ketahuan dan bebas dari hukuman gantung.

Motif (niyyahs) nya berbeda, karena itu, nilai tindakannya berada dalam motifnya dan bukan terletak pada dampak yang dihasilkan. Jadi, manusia diadili berdasarkan motif atau niat. Motif lah yang akan ditimbang pada Hari Perhitungan kelak, bukan tindakannya. Dalam niat tersebut, entah bagaimana, Allah Maha Tahu bagaimana mekanisme yang terkandung tapi manusia jelas dianugerahi dengan kebebasan.

Jika kita tidak menerima sudut pandang ini, maka Allah (Subhanahu wa Ta’ala) akan dianggap sebagai zat yang paling tidak adil dan sewenang-wenang. Jika Dia tidak memberiku kebebasan, maka hak apa yang ingin diperhitungkan oleh-Nya dari saya? Jika segala sesuatu sudah ditentukan oleh-Nya dan motif (niat) juga ditentukan olehnya, maka saya ini hanyalah sebuah alat. Bagaimana bisa alat dipertanyakan atas tindakannya? Karena itu kita percaya pada kebebasan yang terbatas pada kemauan.

Mari kita lihat dari aspek lainnya – yang merupakan keindahan dalam Islam. Jika segala sesuatu terjadi dalam hidup saya sudah ditentukan, maka sebuah upaya yang saya lakukan menuju kehidupan yang benar tidak akan merubah takdir di muka bumi ini. Di sini lah manusia akan frustrasi. Dia ingin kebaikan dalam hidup ini, dan itu lah apa yang diajarkan Al Qur’an. Kita diajarkan untuk berdo’a:

﴾… رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً …﴿

… “YaTuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari azab neraka.”Q.S Al Baqarah, 2:201

Bagaimana kita mencapai ini? Juga, ada keinginan kuat dalam diri manusia untuk menghindari kegagalan dan mencapai kesuksesan, untuk menghindari rasa sakit dan mencapai kebahagiaan. Begitulah sifat manusia. Bagaimana Islam memenuhi kondisi ini dalam sifat manusia? Filsuf hebat, Imam Al Ghazzali (rahimahullah) dan ulama kontemporer Shah Waliyullah (rahimahullah) telah menyebutkan sebuah teori fungsi dunia yang disebut pengulangan bentuk.

Misalnya, ambil sebuah peristiwa yang sudah terjadi dalam sejarah alam semesta ini, berkali-kali dan tak terhitung tingkatannya. Tapi belum terjadi, di sini, untuk pertama kalinya. Izinkan saya menjelaskan lebih lanjut. Ketika seseorang bermimpi tentang sebuah peristiwa, dan peristiwa itu hanya terjadi dalam kehidupan nyata, lima tahun kemudian – apa yang dilihat orang tersebut? Bayangkan – sebuah peristiwa yang belum terjadi dan sesuatu yang belum ada. Ingatlah, mimpi yang benar adalah fakta kehidupan. Banyak sekali orang yang sudah mengalaminya. Apa yang dilihat orang tersebut di dalam mimpi yang benar? Dia mengamatinya pada “jarak” lima tahun sebelum waktu kejadian dalam dimensi ruang-waktu pengalaman. Ini lah yang disebut, tajaddud al-amthal.

Cobalah untuk memahaminya dengan cara ini. Semua peristiwa yang terjadi sudah ditentukan dan peristiwa ini terjadi pada tingkat keberadaan yang berbeda. Ketika peristiwa-peristiwa ini sampai pada tingkat dimensi ruang dan waktu, maka kita mengalaminya terjadi pada tingkat yang konkrit atau fisik. Hal yang utama bukanlah tentang apa yang terjadi, tapi pengalaman yang diperoleh dari peristiwa yang terhitung. Dia tidak tertarik pada bentuk peristiwa tersebut, tapi pengalamannya, karena manusia adalah makhluk pengalaman dan dia hidup di dunia pengalaman. Pengalaman membuatnya sedih atau senang, bahagia atau marah. Tentu saja, mungkin ada rangsangan jenis yang berbeda – fisik atau psikis.

Peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam pengalaman manusia, akan terjadi ketika kita bangun dan juga ketika kita tidur, yakni dalam mimpi. Ketika seseorang melihat sebuah peristiwa dalam mimpi – sesuatu yang bagus atau mimpi buruk – secara emosional, akan menghasilkan dampak. Jadi, ada dampak dari pengalaman tersebut; apa yang tidak ada adalah akibat material.

Kini, Islam berkata bahwa kalian bisa merubah takdir kalian dan Allah (Subhanahu wa Ta’ala) tidak lah terbelenggu atas apa yang sudah ditetapkan-Nya. Islam tidak percaya apa yang dipercayai Hinduisme dan Buddhisme. Hinduisme berkata bahwa Brahma atau Vishnu adalah budak dari karma. Seseorang tidak bisa merubahnya.

Al Qur’an menyatakan:

﴾ يَمْحُو اللّهُ مَا يَشَاء وَيُثْبِتُ وَعِندَهُ أُمُّ الْكِتَابِ ﴿

“Allah menghapus dan menetapkan apa yang Dia kehendaki. Dan di sisi-Nya terdapat Ummul-Kitab (Lauh Mahfuz).”Q.S Ar Ra’d, 13:39

Dia bisa menetapkan dan menghapus apapun. Dia tidaklah terbelenggu atas Hukum yang Dia tentukan, Dia adalah Pencipta Hukum dan dengan kekuatan tanpa batas dan hikmah. Apa yang diminta dari kita adalah mensucikan motif (niat). Tazkiyah, tujuan Islam, yakni pensucian motif (niat). Jika niyyah (motif) nya murni, maka perbuatan, pemikiran dan pekerjaan kalian akan murni. Islam meminta pensucian dalam motif yang berhubungan dengan keiinginan, dan kita diberi kebebasan dalam berkehendak. Karena itu, berniatlah melaksanakan tazkiyah dan maka hal-hal buruk yang seharusnya terjadi pada kalian akan dirubah ke dalam mimpi. Meskipun hal-hal itu sudah ditentukan, mereka akan muncul sebagai keadaan mental, daripada kenyataan fisik.

Allah (Subhanahu wa Ta’ala) adalah dhul-fadhil ‘azim (Q.S Al Hadid, 57:21). Dia memberikan lebih daripada yang patut kita terima, jadi usaha yang kita lakukan demi pensucian menjadi orang yang saleh akan menghasilkan buah yang positif.

Apapun kebaikan yang akan kita terima dalam hal skema universal, Allah Yang Maha Kuasa bisa menambahnya, karena Dia adalah Pencipta dan Permulaan dari segala sesuatu. Sifat asli-Nya adalah Rabb. Dalam Surah Al Fatihah, Dia pemberi kasih sayang dan rahmat lima kali lipat, dan kemudian hanya Dia lah yang akan memperhitungkannya. Dan dalam memperhitungkannya, Dia berfirman:

﴾… وَرَحْمَتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ …﴿

… rahmat-Ku meliputi segala sesuatu – (di dunia ini dan hari penghakiman kelak) …Q.S Al A’raf, 7:156

Jadi, Cinta, Kasih Sayang Allah, apa yang Dia lakukan, seperti yang dinyatakan Hadits: Jika kamu berjalan menuju Allah satu langkah, Dia akan maju kepadamu sepuluh langkah.

Ini lah sifat Allah (Subhanahu wa Ta’ala) – Maha Pemberi Rahmat dan fadl – yang bahkan merubah hal-hal jelek menjadi hal-hal bagus dalam kehidupan seseorang dan memberikan manusia kehidupan yang sukses. Manusia bisa jadi master atas takdirnya sendiri – terlepas fakta bahwa dunia ini adalah dunia ketentuan. Dengan menjalankan hak prerogatif kebebasan dari kehendaknya, manusia bisa mensucikan motifnya (ini lah yang harus kita lakukan) dan sisanya Allah Yang Maha Kuasa lah yang mengurusnya.

Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

 

Sumber:

Maulana Fazlur Rahman Ansari (r.a.h), Tazkiyah & Islamic Leadership, World Federation of Islamic Missions, https://wfim.org.pk

 

 

Catatan Admin:

  • Ketika mengambil atau mengutip segala materi baik dalam bentuk tulisan maupun hasil terjemahan dari website Eskatogi Islam ini, mohon masukkan tautan ke artikel asli.

Tulisan ini diambil dari buku transkrip ceramah yang berjudul, “Islam To The Modern Mind” yang ditulis oleh Maulana Fazlur Rahman Ansari Al Qaderi rahimahullah.

Please share this post

Terkait

One Thought to “Tanggapan atas Persoalan Darwinisme, Kendali Kelahiran dan Taqdir (Takdir)”

  1. Bangsa RUM

    Alhamdulillah akhirnya terjawab sudah

Leave a Comment