Tazkiyah dan Kepemimpinan dalam Islam

Download

Oleh: Maulana Fazlur Rahman Ansari Al Qaderi rahimahullah

 

Pada dasarnya, fondasi atau landasan masyarakat Islam adalah etika-religius. Karena itu, siapa pun itu, yang dengan jujur maju untuk mengarahkan umat Islam ke tujuan yang ditentukan dalam Al Qur’an, harus punya kepribadian yang penuh semangat dalam dimensi spiritual, akhlak, dan intelektual. Hal ini sudah menjadi ketentuan dalam Al Qur’an, serta sudah menjadi ketentuan dalam sejarah Islam.

Tapi, bagaimana cara membentuk kepribadian seperti itu? Apakah dengan emosionalisme semata? Atau dengan mistisisme semata? Dengan intelektualisme semata? Dengan ritualisme semata? Dengan Puritanisme formal semata? Dengan eksternalisme dan legalisme semata? Dengan misionisme-ritualisme semata? Atau hanya dengan agitasionisme politik yang mengatas-namakan Islam? Tidak, tidak, seribu kali, Tidak!

Satu-satunya alkimia yang dapat mengubah kepribadian manusia menjadi ’emas murni’ adalah alkimia dari disiplin ketat tazkiyah, dengan kegigihan dan kemauan yang besar. Inilah yang sudah diajarkan dan didemonstrasikan oleh Nabi Suci (ShalallahuAlaihi Wassalam), Dan inilah yang sudah dipraktikkan sepanjang sejarah Islam oleh mereka yang benar-benar memahami dinamika kepemimpinan dalam Islam dan alhasil mampu mencapai kesuksesan bersejarah. Salah satu kepribadian tersebut adalah Saiyyid Abdul Qadir al-Jilani (rahimahullah) dari Baghdad, Ghaus al-A’zam (Imam Besar) dari Disiplin Spiritual Qaderiyyah, dengan dinamika spiritual kepribadiannya dan tanpa kekuatan politik, membentuk pasukan yang menghancurkan ancaman dari para Assassin (pembunuh) untuk selamanya, di sisi lain menghancurkan kekuatan gerombolan barbar Tentara Salib yang bercokol di Palestina pada waktu itu.

Nabi Muhammad (ShalallahuAlaihi Wassalam) dilahirkan sebagai Utusan Tuhan, yang telah ditakdirkan oleh Tuhan seperti itu pada awal penciptaan (Q.S Ali ‘Imran, 3:81). Karena itu, beliau tidak perlu latihan rohani untuk mendapatkan jabatan tersebut. Tetapi kita tahu kalau beliau menjauh dari kehidupan dunia dan pergi ke Gua Hira, dalam kesunyian belantara, selama lima belas tahun sebelum beliau mengklaim dirinya sebagai orang yang menjalankan misi Ilahi. Kemudian, selama menjalankan tugas-tugas yang beraneka ragam yang berkaitan dengan revolusi sejarah manusia yang paling agung dan komprehensif, beliau melakukan latihan dalam dimensi transendental dengan menghabiskan malam dalam melaksanakan sholat dan melakukan ibadah berpuasa; dengan kesederhanaan yang luar biasa yang tidak mementingkan diri sendiri; dengan wilayah akhlak yang berada di tingkat paling tinggi; dan melimpahnya berkah multi-dimensi bagi kemanusian yang muncul dari kerpibadiannya yang agung – hingga “latihan” adalah sifat beliau yang paling memcolok. Dengan begitu, beliau membangun Sunnah bagi setiap pemimpin Islam di masa depan.

Dalam sejarah, ada banyak pengikutnya yang sadar akan kewajiban Sunnah ini, berbeda dengan para pemimpin lain yang keterbatasan kepribadiannya menjauhkan mereka. Salah satu orang yang berhasil menjalankan Sunnah ini adalah Saiyyid Abdul Qadir Al Jailani. Tercatat dalam sejarah, sebagai bentuk meniru langkah Rasulullah (ShalallahuAlaihi Wassalam) yang mengasingkan diri ke Gua Hira, Sheikh Abdul Qadir juga membiasakan dirinya untuk mengasingkan diri ke hutan setiap malam selama pendidikan formal, dan setelah selesai melakukan latihan tersebut dia kembali mengasingkan diri ke hutan belantara dan tetap berada di sana dalam kesunyian selama bertahun-tahun dalam mengabdi kepada Tuhan secara totalitas, dan akhirnya melalui disiplin tazkiyah tingkat tinggi yang sangat ketat, dia tidak hanya memperoleh kemuliaan yang besar dalam kesalehan tetapi juga membuatnya mampu mengubah jalan sejarah.

Sejarah Islam juga dipenuhi dengan sejumlah tokoh spiritual lainnya, yang biasa disebut kaum sufi, dan dengan kedisiplinan tazkyah yang kuat memberikan mereka kejayaan dalam pencapaiannya demi kemanusiaan. Di antara mereka adalah Khwājā Muʿīn al-Dīn Chishtī dari Sanjar (saat ini Ajmer), yang berjuang sendir dengan dinamisme spiritualnya dan tanpa dorongan militer atau politik apa pun, menancapkan panji-panji Islam di jantung populasi asing dan daerah lawan, dan mengubah arah sejarah di bagian benua Asia Selatan untuk selama-lamanya. Di antara mereka ada Sheykh Abdullah Ansari dari Herat yang sendirian berjuang dengan baju zirah spiritualnya melawan kebusukan para tiran dan menundukkan mereka dengan gagah berani. Di antara lainnya ada para ulama Sufi dari Tarekat Naqshabandiyah, dan dalam keadaan yang paling buruk ketika martabat umat Islam berada di titik paling rendah, mereka ini mampu menaklukkan hati para musuh yang angkuh yang telah menghancurkan kekuatan politik kaum Muslim di bawah Halaku Khan, tanpa sarana materi apapun dan murni melalui kekuatan kepribadian spiritual mereka – dan pada saat yang sama mengalahkan kekuatan agama Buddha dan Kristen yang saat itu semuanya berada di lapangan. Dan di antara lainnya ada beberapa orang yang melalui tazkiyah membuat mereka berbeda jauh dengan pemimpin agama Islam lainnya yang tidak punya tazkiyah sehubungan dengan tugas paling sulit dalam menyebarkan Islam ke sebagian besar manusia.

Sayangnya, para pemimpin Islam saat ini memalingkan wajahnya dari tazkiyah, alhasil mereka tidak bisa memberi manfaat bahkan kepada umat Islam, dan pada umumnya tidak berbicara tentang kemanusiaan. Dan dunia Islam mempertontonkan kehancuran nilai-nilai Islam yang tidak bisa kita bayangkan, dengan kekuatan ‘isme’ sekuler bermodel baru yang menerkam komunitas Muslim bagaikan burung heriang.

Dunia Islam harus menghidupkan kembali pencarian tazkiyah secara menyeluruh sesuai dengan prinsip dan norma-norma dalam Al Qur’an dan Sunnah, agar dunia kepemimpinan Islam yang sebenarnya dari Pola Nabi Muhammad (ShalallahuAlaihi Wassalam) muncul pada tingkat yang tinggi dengan langkah dan perbuatan yang bermanfaat demi memenuhi atau menyelesaikan tugas-tugas Islam.

Sebagaimana yang berkaitan dengan dunia kepemimpinan religius umat Islam di masa kini, bukan mereka yang dikenal sebagai kaum sufi maupun mereka yang anti-Tasawwuf, dan bukan pula para agitator politik di antara para ‘Ulama maupun para pengkhotbah dan penulis profesional, tampaknya selain mereka punya peluang untuk mencapai kesuksesan dalam mengalahkan kekuatan jahat yang mengguncang dunia.

TEKNIK MENYELESAIKAN KONFLIK EKSTERNAL:

Konflik antara kebaikan dan kejahatan yang membabi buta tidak hanya terjadi di dalam dunia batin dan kepribadian manusia, tetapi juga di dunia luar dari fenomena sosial. Konflik tersebut juga harus diselesaikan jika kita bisa memastikan perkembangan akhlak (moral) umat manusia secara umum. Karena manusia adalah makhluk sosial, dilahirkan serta tumbuh dalam masyarakat, dan kebaikan dan kejahatan punya pengaruh yang kuat pada pembentukan karakternya di kedua arah. Karena itu, tatanan sosial harus dirubah dan dipertahankan sebagai tatanan akhlak (moral), jika seseorang ingin mencapai status akhlak (moral) yang sebenarnya. Itu lah sebabnya Al Qur’an memerintahkan untuk membentuk Kelompok Persaudaraan Muslim untuk berusaha mengubah masyarakat manusia menjadi tatanan akhlak (Q.S Ali ‘Imran, 3:110).

Akan tetapi, perubahan masyarakat menjadi tatanan moral menghadirkan sebuah tantangan bagi semua individu yang berjuang secara akhlak (moral). Karena itu lah, setiap Muslim diperintahkan dan ditugaskan untuk menerima tantangan ini dengan sekuat tenaga dan melakukan perjuangan yang gigih tanpa henti sepanjang hidupnya untuk mengalahkan kekuatan jahat dan menanamkan kekuatan kebaikan. Al Qur’an menyebutnya sebagai Jihad dan menyatakan:

  يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ وَابْتَغُواْ إِلَيهِ ﴿

﴾ الْوَسِيلَةَ وَجَاهِدُواْ فِي سَبِيلِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, carilah jalan untuk mendekatkan diri (al-Wasilah) kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya (yang memahami tazkiyah spiritual dan akhlak pada tingkat individu dan kolektif), supaya kamu berhasil.”Q.S Al A'la, 87:18-19

Lagi:

وَجَاهِدُوا فِي اللَّهِ حَقَّ جِهَادِهِ هُوَ ﴿

 … اجْتَبَاكُمْ وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ

“Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya (dalam memberantas kejahatan dan menegakkan kebajikan di bumi). Dia telah memilih kamu (atas perjuangan ini), dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan. …”Q.S Al A'la, 87:18-19

Dalam sifat manusia kita tahu bahwa hanya ada dua pendorong yang mengeluarkan sisi terbaik dalam diri manusia dan mengangkatnya dalam skala kepribadian, yakni ambisi dan bahaya. Jihad menyediakan keduanya. Sekarang, semakin besar dan semakin sulit dalam pencapaian ambisi, – dan ambisi sosial apa yang bisa lebih besar daripada perubahan masyarakat manusia menjadi tatanan moral? -, semakin besar pula bahaya yang terlibat. Dan semakin besar bahaya yang terlibat, semakin besar pula dorongan untuk pemeliharaan perjuangan yang disiplin dan integritas karakter; dan semakin besar dorongan tersebut, semakin besar pula tazkiyahnya.

 

Sumber:

Maulana Fazlur Rahman Ansari (r.a.h), Tazkiyah & Islamic Leadership, World Federation of Islamic Missions, https://wfim.org.pk

 

 

Catatan Admin:

  • Ketika mengambil atau mengutip segala materi baik dalam bentuk tulisan maupun hasil terjemahan dari website Eskatogi Islam ini, mohon masukkan tautan ke artikel asli.

Tulisan ini diambil dari buku transkrip ceramah yang berjudul, “Islam To The Modern Mind” yang ditulis oleh Maulana Fazlur Rahman Ansari Al Qaderi rahimahullah.

Please share this post

Terkait

Leave a Comment