Otak manusia sudah ketinggalan zaman? “Inventif” Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence) membuat seni abstrak yang baru saja diajukan untuk dua HAK PATEN 

Download

1 Agustus 2019

Sebuah tim dari akademisi sudah mengajukan dua hak paten terkait program kecerdasan buatan (artificial intelligence), dan mereka menyebutnya sebagai otak asli di balik penemuan mereka. Proses pembuatan program tersebut dapat mengganggu hukum kekayaan intelektual di seluruh dunia.

Dikenal sebagai “device for the autonomous bootstrapping of unified sentience” (DABUS) atau dalam bahasa “perangkat untuk boostrap otonom akan penglihatan, pendengaran dan perasaan bersama”, di mana sistem ini menjadi ujung tombak dari teknologi AI (kecerdasan buatan), dan mampu melakukan “tindakan inventif”, serta apa yang biasa disebut sebagai “kreativitas”.

Setelah DABUS mulai menemukan produk-produk baru – misalnya merancang wadah makanan yang bisa tutup sendiri secara otomatis yang dilakukan robot industri, dan lampu peringatan yang unik – pembuat sistem yang bernama Stephen Thaler, memutuskan bahwa sudah saatnya mengajukan hak paten.

Sayangnya untuk penemuan mesin yang cerdik, di Amerika Serikat dan sebagian besar negara dunia tidak bisa memberikan hak paten kepada pencipta non-manusia, sebuah aturan yang disebut oleh tim akademisi sebagai “ketinggalan zaman.

Tak gentar, Thaler bergabung dengan dua orang profesor hukum dari Universitas Surrey untuk mengajukan hak paten atas nama DABUS, berharap untuk memulai proses menjungkir-balikkan hukum kekayaan intelektual yang sudah berlangsung lama di Amerika Serikat, Inggris dan Eropa, yang sudah dibentuk jauh sebelum AI muncul.

Jadi dengan hak paten, seorang pejabat hak paten mungkin berkata, ‘Jika anda tidak punya seseorang yang secara tradisional memenuhi kriteria inventarisasi manusia, tidak ada hak paten yang bisa anda dapatkan,” kata Ryan Abbot kepada BBC, salah satu pakar hukum yang bekerja untuk mendapatkan kredit temuannya DABUS.

Dalam hal ini, jika AI nantinya akan menciptakan sesuatu di masa depan, seluruh sistem kekayaan intelektual akan gagal berfungsi,” tambah Abbot

Para ahli hukum menyarankan agar sistem AI diakui sebagai penemu yang sah di mata hukum, tapi para ahli hukum itu mengatakan bahwa pembuat manusia AI itu harus memegang hak paten untuk dirinya sendiri.
Berbeda dengan AI dan sistem pembelajaran mesin lainnya, DABUS tidak diprogram untuk memecahkan masalah spesifik, tetapi malah merancang solusinya sendiri, mereplikasi “apa yang secara tradisional dianggap sebagai bagian mental dari tindakan inventif,” kata Thaler.

Sistem ini memasukkan “noise” (gangguan sinyal pada alat elektronik) ke dalam jaringan saraf untuk menghasilkan “ide” yang unik.

Sebelumnya, sistem DABUS mampu menggunakan noise untuk menciptakan kembali “ketidakstabilan mental” dan menghasilkan karya-karya baru seni surealis (orang yang menganut surealisme).

Seiring munculnya ancaman dari komputer dalam mengatasi kapasitas kreativitas manusia itu sendiri, ada kemungkinan kalau beberapa undang-undang harus berubah untuk membuka jalan bagi AI untuk terus bergerak maju. Meskipun tim ini baru saja menerima tantangan hukum dan menimbulkan segudang pertanyaan rumit yang butuh waktu lama untuk dijawab, kami mungkin ingin menyelesaikan masalah lebih cepat daripada nanti – atau mesin mungkin melakukannya untuk kami.

 

 

Kira-kira, saudara, kerabat, atau teman-temanmu akan tertarik membacanya? Bagikan berita ini.

Please share this post

Terkait

Leave a Comment