Islam vs Komunisme

Download

Oleh: Maulana Fazlur Rahman Ansari Al Qaderi rahimahullah

 

Bismillahirrahmanirrahim

 

Ada dua cara untuk melihat Islam versus Komunisme. Pertama melalui aspek akademis, yakni sejauh mana Islam sependapat atau tidak dengan Komunisme, berdasarkan ajarannya dan pandangannya. Aspek kedua adalah sejauh mana umat Islam bersekutu dengan Komunisme.

Sejauh masalah akademis sehubungan dengan sejauh mana Islam dan Komunisme sependapat dengan yang lainnya, saya bisa mengatakannya kalau sejak awal keduanya tidak bisa sependapat dengan yang lainnya. Sebaik yang kita tahu, pendiri Komunisme adalah Karl Marx dan bukunya, Das Kapital, adalah landasan Komunisme. Meskipun Komunisme mengaku sebagai ideologi ekonomi-sosial, Karl Marx memulai filosofi dialektika materialismenya dan kemudian menerapkannya ke fenomena sosial. Hanya dibagian akhir bukunya dia membahas masalah tersebut, yang sebenarnya adalah sosial-ekonomi. Namun, Karl Marx punya sejarah dibalik itu.

Bukan Karl Marx lah yang membentuk (ideologi) materialisme sebagai jalan hidup, tapi para pemikir sebelum dia. Charles Darwin mengatur guliran bola. Darwin menyampaikan hipotesisnya tentang sebab-akibat mekanis untuk menghilangkan gagasan tentang Tuhan. Dia membuat hipotesis itu bukan karena pertimbangan objektif, tapi karena tuntutan subjektif yang dia rasakan ada pada saat itu. Dia ingin menghapus hipotesis tentang Tuhan, dan akibatnya dia mengajukan hipotesis “sebab-akibat mekanis” yang dia terapkan ke dalam bidang biologi.

Hipotesis ini mengambil bentuk prinsip transmutasi. Teori ini kemudian diadobsi oleh Husserl dan Spencer yang menerapkan teori materialistisnya ke dalam bidang sosiologi. John Stewart Mill ke dalam bidang etika dan hukum – Feuerbach menerapkannya ke dalam bidang metafisika. Akhirnya, Karl Marx muncul, tapi saya pikir dia lebih jujur dan cermat daripada pendahulunya.

Mereka mencoba untuk berlayar dalam dua kapal, sementara dia mencoba berlayar dalam satu kapal. Dalam hal ini, dia itu tulus. Kondisi yang berlaku di Eropa pada saat itu, ketidakadilan sosial dan kejahatan lainnya memunculkan sebuah reaksi yang menuntut untuk merubah keadaan. Karl Marx mengambil kesempatan, dan dia tidak hanya berdiri menentang kapitalisme, tapi juga menentang semua kekuatan jahat yang dia rasa mendukung kapitalisme. Saya pikir itu lah salah satu penyebab utama yang membuatnya anti-Tuhan dan anti-agama.

Pikiran manusia tidak selalu bekerja dengan baik dalan keadaan hampa. Sangat lah sulit, dan bukan tidak mungkin bagi manusia mengabaikan emosi dan rangsangan lingkungan. Betapa pun hebatnya seorang pemikir, orang itu terpengaruh oleh perkembangannya. Filosofi Karl Marx dimulai dengan dialektika materialisme dan dia menganggap filosofi materialisme sebagai “Utopia” yang seharusnya dibentuk dalam setiap jalan kehidupan manusia dan bukan semata-mata sebagai sebuah pencarian akademis. Jadi, dia mengambil idealisme (dialektika atau metode argumentasi logis) Hegel dan membalikkannya. Teori dialektika materialisme Marx sama sekali tidak memberikan ruang bagi Tuhan atau nilai-nilai moral supra-rasional. Ini lah nilai-nilai lebih tinggi yang dipertahankan umat Islam, Kristen dan Yahudi, jadi tidak akan pernah pernah bisa ada kecocokan antara komunisme dan Islam.

Islam berdiri dengan pasti dan positif demi bentuk murni monoteisme dan membangun seluruh filosofinya dengan mempercayai Satu Tuhan. Islam adalah tesis, dan komunisme adalah anti-tesis. Islam sudah memberikan tempat yang tepat untuk keadilan sosial sejauh sudut pandang sosial. Surah Al Maa’idah, surah kelima dalam Al Qur’an, kita diharapkan untuk berlaku adil – bahkan jika itu bertentangan dengan kepentingan pribadi dan kepentingan keluarga kita sendiri. Kita bahkan harus berlaku adil ketika berurusan dengan musuh paling buruk sekalipun. Kalau manusia tidak diperlakukan dengan adil, tidak akan bisa ada kesalehan yang tepat dalam Islam, sebab kesalehan adalah keadilan. Islam jelas sekali membedakan antara ketakwaan ibadah dan ketakwaan perbuatan.

Al Qur’an dan Hadits mempertegas bahwa cinta kepada Tuhan sama halnya dengan cinta kepada sesama manusia. Seseorang tidak bisa mengaku cinta kepada Tuhan dan pada saat yang sama berbuat tidak baik kepada sesama manusia. Pengakuan seperti itu akan jadi lucu dan tidak akan diterima oleh Tuhan.

Islam sadar akan fakta bahwa jika kebutuhan dasar manusia tidak terpenuhi, maka nilai-nilai yang lebih tinggi tidak mungkin tercapai.  Dengan demikian, Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

تا ر ا لفر قا ن يكو ن لهم ا لكفر

“Kemiskinan, keinginan, dan kekurangan kebutuhan dasar di bumi ini dapat menyebabkan ketidaksetiaan kepada Tuhan”Q.S Al A'la, 87:18-19

تا ر ا لفر قا ن يكو ن لهم ا لكفر

“Kemiskinan, keinginan, dan kekurangan kebutuhan dasar di bumi ini dapat menyebabkan ketidaksetiaan kepada Tuhan”

Saya pikir komunisme lah bukti terbaik akan hal ini. Tidak seperti ekonomi kapitalis yang mendorong konsentrasi kekayaan ke segelintir orang, Islam adalah sosialis dalam konsep ekonomi dalam artian bahwa Islam tegak untuk kesejahteraan dan kebaikan manusia. Islam tidak pula mendukung keserakahan yang menyokong tatanan dunia saat ini yang disebut kapitalisme.

Konsep egaliter Islam dari tatanan sosial bertumpu pada keimanan kepada Tuhan, dan pada dasar etika kehidupan. Materialisme tidak menghormati nilai-nilai moral, karena jika dunia tidak diciptakan oleh Tuhan, maka artinya dunia muncul dengan sendirinya atau kebetulan. Hanya ketika kita menerima Tuhan sebagai kenyataan, maka mungkin bagi kita untuk percaya bahwa ada sebuah rencana dan tujuan. Jika dunia bukan diciptakan dengan Maha Kecerdasan dan dunia ada secara kebetulan atau tanpa hukum apapun, maka dunia ini adalah sebuah tatanan kebetulan dan tatanan buta dan kemudian dunia ini murni materi dan tanpa Tuhan.

Menurut para pemikir modern, manusia tidak punya akal dan jiwa. Jika dunia ini murni fisik dan manusia sekedar automaton biologis atau wujud fisik, lalu apa ideal (impian/cita-cita) bagi mereka? Kita tahu betul kalau sudah watak manusia lah untuk menghindari rasa sakit dan memperoleh kesenangan. Rasa sakit jenis apa dan kesenangan jenis apa yang diinginkan manusia untuk diperoleh jika manusia hanya lah automaton biologis?

Tentu saja, kesenangan yang sepertinya ingin diperoleh manusia berbentuk kesenangan sensual. Jika ini yang jadi ideal bagi manusia, maka simpati moral sesama manusia akan runtuh ke tanah. Jika saya seorang milyarder dan saya bertemu sesama manusia yang kelaparan, dan saya memberinya satu dolar untuk membeli makanan dan menyelamatkan hidupnya, ini akan dianggap sebagai tindakan yang tidak bermoral berdasarkan teori materialistis. Menurut teori ini saya merampas kesempatan dalam memperoleh bayaran jumlah maksimum dari kesenangan sensual atas diri sendiri.

Coba pikir saja, kesenangan harus dibeli untuk diri sendiri karena tidak ada ikatan moral persatuan di antara manusia. Jika manusia muncul ke dunia ini secara kebetulan, maka tentu saja tidak akan benar-benar ada ikatan moral persatuan. Sebuah ikatan moral persatuan hanya datang di bawah panji Tuhan. Jika Tuhan menciptakan seluruh manusia dan manusia adalah satu keluarga, maka dengan sendirinya ada ikatan moral persatuan – sebaliknya tidak.

Di bawah teori materialistis, tidak ada ruang lingkup bagi semua nilai-nilai moral tersebut yang diperjuangkan manusia. Akibatnya, kehidupan sosial dan kehidupan pribadi diabadikan dalam dua moto di bawah materialisme. Seseorang diberitahu “untuk makan, minum dan suka cita, karena kita besok akan mati.” Tentu saja, jika tatanan dunia ini adalah proses yang buta dan kehidupan saya adalah proses yang buta, maka saya tidak punya jalan keluar lain kecuali menikmati diri saya sendiri sebaik yang saya bisa saat ini dan tidak peduli tentang masa depan.

Pada tingkat sosial, moto yang muncul dari materialisme adalah: “Setiap orang untuk dirinya sendiri dan iblis mengambil yang paling belakang”. Sama halnya, dalam teori sebab-akibat mekanis milik Darwin, ada pepatah yang mengatakan “yang paling kuatlah yang selamat”, dan karena itu, dia berusaha menyingkirkan gagasan tentang Tuhan. Ini persis sama. Tentu saja, Darwin berbicara dalam istilah biologi, tapi hal yang sama harus dikatakan dalam istilah moral, organisasi sosial dan kehidupan sosial.

Hanya mereka yang layak hidup di dunia ini yang seharusnya dibiarkan hidup, karena hukum dunia ini adalah proses yang buta. Satu-satunya hukum yang secara rasional bisa diadopsi dalam istilah teori-teori ini seharusnya adalah hukum rimba. Mengapa kita harus peduli terhadap nilai-nilai manusia, seperti kasih sayang, belas kasih, cinta, ketulusan, kebenaran, kejujuran dan integritas moral? Secara logika, tidak ada ruang untuk itu.

Dari sudut pandang kelayakan, mungkin ada ruang, tapi kelayakan selalu bergeser dan tidak bisa menjadi aturan hidup. Jika kelayakan dibuat sebagai aturan hidup, maka tidak mungkin ada tatanan sosial yang sehat karena tidak ada komunikasi yang sehat terhadap prinsip-prinsip. Kalayakan saya mungkin berbeda dari X, Y atau Z dan seharusnya berbeda karena setiap manusia itu eksklusif satu sama lain – seseorang yang bukan bagian dari manusia lainnya. Karena itu, filosofi materialis sangat bertentangan dari apa yang diajarkan Islam. Satu-satunya kesamaan antara Islam dan materialisme adalah kesejahteraan orang biasa harus menjadi perhatian setiap komunitas manusia. Bagaimanapun, metode yang diadopsi Islam dan materialisme bertentangan secara diametris satu sama lain.

Komunisme percaya pada kediktatoran proletariat (kelas buruh) yang sebenarnya adalah kediktatoran beberapa orang terpilih. Orang-orang diperlakukan sebagai robot dan berada di tempat yang paling buruk dari perbudakan – perbudakan didikte dari atas ke bawah, seperti Kremlin ke partai-partai Soviet dan kemudian ke seluruh Uni Soviet. Semuanya diberi makan sendok dan jika roti harian dijamin dalam keadaan seperti ini, saya sangat ragu kalau ini adalah prestasi. Entah bagaimana, roti harian dijamin di mana-mana – bahkan dalam sebuah negara miskin di tempat saya hidup.

Tentu saja, banyak yang bisa dilakukan jika kita lebih jujur. Kita sama sekali tidak perlu beralih ke Marxisme karena filosofi ini mebalikkan kehidupan. Marxisme merenggut semua nilai-nilai kita, kerinduan dan ideal kita yang paling tinggi. Ada banyak cara lain daripada roti harian yang dijamin melalui uang sokongan.

Islam menginginkan kita untuk mencapai cita-citanya dengan memelihara keutuhan spiritual dan nilai-nilai moral. Selama masa pemerintaham Khalifah kedua, ‘Umar radiallahu anhu, kementerian kesejahteraan sosial sangat sempurna sampai derajat maksimal. Ada catatan resmi tentang setiap keluarga dalam kehalifahan ‘Umar – kebutuhan mereka, setiap kelahiran dan kematian. Negara Khilafah ‘Umar radiallahu anhu berusaha memastikan setiap manusia yang hidup di dalam khilafah menerima kebutuhan dasar dengan hormat.

Islam melakukan itu tanpa memberi beban yang mana Marxisme memberi beban kepada rakyatnya. Saya merasa sangat disayangkan kalau mereka yang bisa menolak tantangannya – Kristen, Yahudi dan Umat Islam – yang menjadi bagian dari keluarga monoteistik, berperilaku sangat salah terhadap satu sama lain. Keluarga ini pecah. Dunia Islam belum diizinkan untuk berdiri sendiri dan menjadi taman bermain bagi para politisi internasional dan semacam permainan catur. Tak satu pun dari negara kita diizinkan untuk bertindak secara bebas sebagai Muslim. Ada tali di sekeliling leher kita. Karena itu, ketika ketidakadilan terjadi di dunia Islam – seperti yang terjadi di Timur Tengah di mana Amerika dan Inggris memainkan peran utama – dunia Arab terpaksa bersekutu dengan Uni Soviet. Ini bukan berarti mereka ingin menjadi komunis – tidak sama sekali! Lihatlah Pakistan. Ketika Pakistan merdeka, Amerika Serikat datang dan kita menandatangani sebuah perjanjian persekutuan, tapi pada saat yang sama, Amerika Serikat sedang merayu India – musuh kita. Pada saat India menyerang kita, Amerika menolak memberikan bantuan; mereka bahkan tidak siap memasok suku cadang pesawat tempur jet yang mereka jual kepada kita. Tentu saja, pesawat bomber tidak bisa berfungsi tanpa suku cadang. Jadi mereka membuang kita. Jika tentara kita dan negara Muslim tidak kokoh, mungkin kita sudah jadi budak India saat ini. Ini lah yang dilakukan kepada kita oleh mereka yang disebut sebagai pemimpin dunia bebas.

Pada saat yang sama, Tiongkok, sebuah negara komunis, menawarkan bantuan dan bertindak sebagai pelindung bagi Pakistan – sebuah negara Islam. Pakistan bukanlah meminta perlindungan secara terus-terang kepada Tiongkok atau Uni Soviet. Kekuatan barat lah yang membahayakan Pakistan di mana Pakistan tidak punya cara lain lagi. Kekuatan politik Superpower dilandaskan pada kelayakan dan kelayakan tersebut selalu beralih menentang umat Islam. Sudah jadi reaksi alami kalau mereka mencari persekutuan di tempat lain – karena seperti yang anda tahu, hanya ada dua blok kekuatan, blok komunis dan blok yang disebut demokratis.

Jika blok demokratis berbuat curang dengan kita, kita harus bertahan dan memenangkan perang apa pun. Jadi jangan pikir kalau negara-negara Islam yang kini muncul dalam lingkaran dunia Marxis adalah Marxis. Mungkin ada beberapa orang yang berada di pucuk kepemimpinan yang telah di-deIslamisasi atau di-dekulturisasi atau di-demoralisasi, tapi jantung dunia Muslim masih bersuara. Itu tergantung pada kekuatan politik superpower apakah timur kembali merah atau tetap merah dan putuh atau berubah menjadi lainnya.

Hal yang sama terhadi di benua Afrika. Sejauh yang saya tahu, ketidakadilan yang besar telah berlaku kepada umat Islam di benua ini yang dilakukan oleh kekuatan kolonial barat, dan mereka mungkin juga beralih ke Marxisme. Tahukah anda kalau Afrika adalah benua di mana umat Islam adalah mayoritas? Enam puluh persen adalah Muslim, dan jika enam puluh persen ini benar-benar jadi frustrasi dan menemukan bahwa mereka yang seharusnya jadi sekutu alami malah menusuk mereka dari belakang sepanjang waktu, jutaan umat Islam Afrika akan beralih ke Marxisme. Tapi bukan berarti itu merubah Islam demi komunisme; itu hanya akan menjadi pertarungan demi bertahan hidup.

Saya harap dari ceramah ini, mereka akan memunculkan kekuatan spiritual di mana akan tetap bersama dan barisan depan spiritual tidak seharusnya hancur – atau sebaliknya, masa depan akan jadi Marxisme.

Segala pujian hanya lah untuk Allah, Tuhan Semesta Alam.

 

Catatan Admin:

  • Ketika mengambil atau mengutip segala materi baik dalam bentuk tulisan maupun hasil terjemahan dari website Eskatogi Islam ini, mohon masukkan tautan ke artikel asli.

Tulisan ini diambil dari buku transkrip ceramah yang berjudul, “Islam To The Modern Mind” yang ditulis oleh Maulana Fazlur Rahman Ansari Al Qaderi rahimahullah.

Maulana Fazlur Rahman Ansari Al Qaderi rahimahullah
Maulana Fazlur Rahman Ansari Al Qaderi rahimahullah
Maulana Fazlur Rahman Ansari Al Qaderi rahimahullah

Beliau merupakan Ulama Islam terkemuka di dunia, Filsuf, Orator, Mubaligh, Guru, Penulis serta Pemimpin Spiritual. Karena beliau memiliki kualitas-kualitas yang beragam, beliau sangat berpengaruh pada pikiran dan hati Muslim dan Non-Muslim di belahan dunia, termasuk Perdana Menteri, Para Ulama, para pemikir, Professor, Pejabat Pemerintah, Jurnalis, pemimpin politik, Sufi, dll.

Beliau lahir dari keluarga Islam yang taat pada tanggal 14 Agustus 1914 di Muzaffarnagar, Provinsi UP, India. Beliau merupakan keturunan dari Hazrat Abu Ayoob Ansari (radliallahu anhu) of al-Madīnah alMunawwarah, seorang sahabat Rasulullah (s.a.w) yang rumahnya ditempati oleh Rasulullah (s.a.w) ketika pertama kali tiba di Madinah di masa hijrah.

Pada usia 7 tahun beliau sudah hafal Al Qur’an dan pada usia 19 tahun beliau tamat dari kurikulum Dars-i Nizami. Setelah tamat sekolah, beliau kemudian melanjutkan kuliah dan memperoleh gelar Bachelor of Arts (BA) dan Bachelor of Science (BSc) di Universitas Aligarchi dan memperoleh Medali Emas. Kemudian dia melanjutkan ke tingkat Master dengan jurusan Filosofi dan memperoleh nilai yang luar biasa, 98%, dan masih dianggap belum ada yang bisa menandingi nilainya.

Dr. Fazlur Rahman Ansari rahimahullah, Alhamdulillah, tetap berada di bawah bayang-bayang Fazl of Rahman-Allah. Allah (سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى) memberinya dua Guru Besar. Dia membaca Post Dars-e-Nizamia melalui bimbingan Aala Hazrat Imam Al-Sharah Allama Syed Sulaman Ashraf dan Filsafat Modern oleh Dr. Syed Zafarul Hassan dan kedua guru ini terkenal dan kepribadiannya yang luar biasa pada masanya.

Selama menjadi mahasiswa, beliau lulus semua ujian di kelas satu. Dia lulus pada tahun 1935 dengan kelas pertama, divisi pertama, dan menerima Medali Emas untuk berdiri pertama di BA dan B.Sc ujian gabungan. Dia menerima Medali Emas karena telah membuat rekor baru 98% dalam ujian Philosophy B.A (Bachelor of Arts). Dia lulusan pertama pada kelas pertama di B.Th (Bachelor of Theology) dan lulus M.A (Master of Arts) Filosofi di kelas pertama. Dia sendiri mengajar secara independen mata kuliah M.A di banyak mata pelajaran seperti Politik, Ekonomi, Studi Perbandingan agama dan membaca banyak Ilmu Fisika, seperti Mitologi, Sejarah Peradaban dan Budaya, Hukum dan Obat-obatan terutama Homeopati, dll., dan belajar bahasa Jerman. Beliau menguasai 5 bahasa, yakni Arab, Inggris, Urdu, Jerman, dan Persia.

Pada tahun 1947 beliau menyelesaikan tesis penelitian PhD, tetapi karena keadaan yang tidak menguntungkan dari migrasi ke Pakistan (ketika Pakistan hendak memisahkan diri dari India), tesis lengkapnya tertunda. Namun beliau diberikan gelar PhD pada tahun 1970 oleh Universitas Karachi untuk tesisnya tentang Kode Moral Islam dan latar belakang Metafisiknya

Untuk mencerahkan pemikiran dan meningkatkan semangat religius, Allah (سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى) membawanya bertemu dengan Maulana Shah Abdul Aleem Siddiqui rahimahullah (keturunan Abu Bakr Shiddiq radliallahu anhu), seorang Khalifah Aala Hazrat Maulana Ahmed Raza Khan dari Bareli (rahimahullah) dan seorang Ulama Islam terkemuka di dunia pada masa itu. Maulana Abdul menerima beliau sebagai Murid secara spiritual.

Maulana Abdul Aleem Siddiqui memberinya Ijaz (otoritas) dalam urusan spiritual di dalam Hateem of Kaba. Maulana Abdul Aleem Shiddiqui menerima menerima beliau sebagai anggota keluarganya dan menikahkan putri sulungnya dan memilih beliau sebagai menantu laki-lakinya. Setelah wafatnya Hazrat Abdul Aleem Siddiqui (radliallahu anhu) beliau diangkat menjadi Raees-ul-Khalifa dari Halqa-e-Aleemiyah Qaderiyah.

Pada tahun 1944-1946 Dr. Fazlur Rahman Ansari terpilih sebagai anggota Komite Perencanaan Pendidikan di bawah mandat yang diberikan oleh Quaid-e-Azam Muhammad Ali Jinnah.

Dr. Fazlur Rahman Ansari, selain mempelajari mistisisme Islam (Al Ihsan/Tasawwuf) dari Shah Abdul Aleem Siddiqui (RA), melakukan perjalanan jauh dan luas. Beliau mulai mulai melakukan tur dakwah sebagai anak didik Maulana Abdul Aleem Siddiqui rahimahullah setiap kali mengunjungi 15/20 negara dan melakukan perjalanan tujuh kali ke seluruh dunia. Kedua duta besar Mubaligh Islam ini berkumpul dalam komunitas Muslim di negara yang dikunjungi dan mendirikan organisasi di negara Muslim yang dikunjungi agar berdakwah lebih lancar dan efektif lagi. Beliau memiliki hak istimewa untuk memimpin beberapa Misi Islam baik nasional maupun internasional.

Dr. Fazlur Rahman Ansari, selain mempelajari spiritualisme Islam (Al Ihsan/Tasawwuf) dari Shah Abdul Aleem Siddiqui (rahimahullah), melakukan perjalanan jauh dan luas. Beliau mulai mulai melakukan tur dakwah sebagai anak didik Maulana Abdul Aleem Siddiqui rahimahullah setiap kali mengunjungi 15/20 negara dan melakukan perjalanan tujuh kali ke seluruh dunia. Kedua duta besar Mubaligh Islam ini berkumpul dalam komunitas Muslim di negara yang dikunjungi dan mendirikan organisasi di negara Muslim yang dikunjungi agar berdakwah lebih lancar dan efektif lagi. Beliau memiliki hak istimewa untuk memimpin beberapa Misi Islam baik nasional maupun internasional.

Beliau menulis buku pertamanya di bawah bimbingan Shaikh-nya yang berjudul “The Beacon Light” pada usia 18 tahun saja. Selama kuliah, beliau menulis buku keduanya, “The Christian World in revolution”. Setelah buku-buku ini, banyak buku lain yang ditulis seperti “Muhammad (صلى الله عليه وسلم).” “The Glory of Ages”, “Islam in Europe and America”, dll. Beliau menulis sekitar 40 buku dan dalam bahasa Urdu dan bahasa Inggris. Dia mengedit berbagai majalah dari dalam dan luar negeri. Pada tahun 1973 beliau menulis buku terakhirnya yang penuh makna, yaitu “The Quranic Foundations and Structure of Muslim Society” dalam bahasa Inggris dan dalam dua jilid. Buku ini memberikan Sistem Panduan dengan cara yang rumit, yang membenarkan secara menyeluruh klaim Al Qur’an yang “posisi atas segalanya (di mana umat manusia membutuhkan Bimbingan Ilahi)”.

Aleemiyah Institute of Islamic Studies yang didirikannya adalah salah satu proyek yang luar biasa penting di mana, selain memberikan pendidikan agama dan pelatihan dakwah, mata pelajaran sekuler penting lainnya seperti Ekonomi, studi Perbandingan agama, Jurnalisme, dll, juga diajarkan. Karena usaha dan dedikasinya yang terus menerus kepada Islam dan umat manusia, ribuan orang telah masuk Islam.

Pada bulan Desember 1973 beliau melakukan tur misi terakhir ke Seychelles dan Srilanka dan 1974 menghembuskan nafas terakhirnya pada hari Senin, 3 Juni, 1974 (Jamadi-ul-Awwal ke-11) pada pukul 10.30 pagi. Beliau dimakamkan di kompleks Islamic Centre (The Aleemiyah Institute of Islamic Studies ). Semoga Allah (سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى) menempatkan beliau di Jannah-Nya dan menempatkan beliau bersama orang-orang shaleh. Aamiin ya Rabbal’alamiin

Maulana Imran N Hosein merupakan murid sekaligus menantunya Maulana Fazlur Rahman Ansari Al Qaderi rahimahullah.

The Aleemiyah Institute of Islamic Studies yang didirikan oleh Maulana Fazlur Rahman Ansari rahimahullah adalah Universitas Islam dan Sains Modern yang terletak di Karachi, Pakistan. Lembaga ini dijalankan oleh World Federation of Islamic Missions. Maulana Imran Hosein tentu saja pernah belajar dan tamat di Universitas ini.

Please share this post

Terkait

Leave a Comment