Konsep Tawhid (Persatuan)

Download

Prinsip Tawhid atau Persatuan adalah prinsip yang paling mendasar dalam umat Islam dan paling inti dalam agama Islam. Seperti yang kita tahu, prinsip yang paling penting dalam agama Islam yang diberikan kepada kita adalah prinsip Tawhid, yakni persatuan! Makna dari prinsip ini bukan hanya tentang beriman kepada Allah sebagai Tuhan Yang Maha Esa, tapi lebih dari itu.

Tawhid adalah dasar-dasar filosofi dalam agama Islam yang artinya Allah adalah Satu (Ahad), karena itu umat manusia adalah satu keluarga. Memang, dalam keluarga yang satu ini, ada dua kelompok yang berbeda, namun kelompok ini konsentris, yang artinya berpusat pada satu titik. Tentang beberapa kelompok ini, Allah SWT berfirman:

﴾… فَمَن شَاء فَلْيُؤْمِن وَمَن شَاء فَلْيَكْفُرْ …﴿

… Barangsiapa yang ingin beriman hendaklah dia beriman, dan barangsiapa yang ingin kafir, biarlah dia kafir … Q.S Al Kahfi, 18:29

Satu kelompok yang diberi Kebenaran oleh Allah S.W.T menerima misi yang tertulis dalam Al-Qur’an:

  كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ ﴿

  وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللّهِ وَلَوْ آمَنَ أَهْلُ

﴾ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لَّهُم مِّنْهُمُ الْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ الْفَاسِقُونَ

Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik. Q.S Ali 'Imran, 3:110

Tugas kita adalah untuk mengajak semua orang berbuat ma’ruf atau kebaikan dan mencegah munkar atau kebathilan. Kita harus melaksanakannya dengan sungguh-sungguh dengan prinsip Tawhid atau Persatuan yang tunduk pada Satu Tuhan.

Dengan begitu, kita akan memperoleh inspirasi, kekuatan dan dorongan untuk berperan menjadi guru yang akan mengajarkan kebaikan dan ketakwaan kepada seluruh umat manusia.

Kita ini disebut satu ummah, satu komunitas, punya cita-cita yang sama. Ketika cita-cita itu berubah, ummah ini tidak lagi jadi satu.  Ummah ini akan terpecah menjadi beberapa komunitas atau kelompok ideologis yang berbeda.

Allah S.W.T berfirman:

﴾ وَإِنَّ هَذِهِ أُمَّتُكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَأَنَا رَبُّكُمْ فَاتَّقُونِ ﴿

Sesungguhnya umat ini adalah umat yang satu, dan Aku adalah Tuhanmu, maka bertakwalah kepada-Ku.Q.S Al Mu'minuun, 23:52

Kita jangan lah terpecah dan terbagi-bagi atas dasar ras, bahasa atau karena berbeda tempat tinggal, yang satu di utara, barat, timur atau selatan.

Kita ini Ummatan waahidatan (satu komunitas), konsep yang mulai berjalan dalam sejarah.

Allah S.W.T telah memberikan sebuah perintah yang tidak boleh dilanggar dengan alasan apa pun:

﴾… وَاعْتَصِمُواْ بِحَبْلِ اللّهِ جَمِيعًا وَلاَ تَفَرَّقُواْ ﴿

Berdiri teguh dengan prinsip persatuan dan solidaritas yang sudah diberikan kepada kalian dan jangan membagi diri kalian menjadi kelompok-kelompok yang berbeda … Q.S Ali 'Imran, 3:103

Perpecahan telah terjadi pada umat Islam karena dua faktor:

  • Faktor Politik – perselisihan antara kepentingan pribadi dan kelompok,
  • Faktor teologis – bertengkar karena hal-hal kecil.

Perselisihan yang bersifat pribadi dan karena ego masing-masing, Allah sudah memperingatkannya di dalam Al-Qur’an:

﴾… وَلاَ تَنَازَعُواْ فَتَفْشَلُواْ وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ …﴿

… Jangan bertengkar atas dasar kepribadian; itu akan melemahkan kalian dan wibawa akan lenyap …Q.S Al Anfaal, 8:46

Jika kita terus seperti ini, umat lain tidak akan lagi menghormati kita. Musuh akan menghina kita, dan menganggap melihat kita dengan sebelah mata.

Namun, kita akan disegani dan dihormati jika kita bersungguh-sungguh untuk bersatu dengan rasa semangat persatuan yang absolut.

Tangan yang saya miliki ini punya lima jari, dan setiap jari itu lemah. Akan tetapi, jika saya gabungkan membentuk sebuah kepalan tangan, maka jari-jari ini akan kuat dan bisa memukul apa pun.

Bertengkar karena kepentingan pribadi adalah sesuatu yang mengerikan. Sudah watak manusia dengan egonya berbicara dan bersikap: “Saya lebih baik dari dia” tetapi Allah S.W.T berfirman:

﴾… اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ ﴿

Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah- megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak …Q.S Al Hadiid, 57:20

Nafs al-ammaarah sudah tertanam dalam diri manusia, dan punya bentuk yang berbeda-beda. Jika kita sebagai umat Islam benar-benar tulus, setia dan ikhlas kepada Allah S.W.T Yang merupakan Raja dari segala raja, maka kita jangan pernah membawa kepentingan pribadi atau kelompok dalam setiap urusan yang diperintahkan oleh Allah S.W.T. Al Qur’an menyatakan:

  قُلْ إِن كَانَ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَآؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ ﴿

  وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا

  وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا

  أَحَبَّ إِلَيْكُم مِّنَ اللّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي

  سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُواْ حَتَّى يَأْتِيَ اللّهُ بِأَمْرِهِ

﴾ وَاللّهُ لاَ يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ

Katakanlah: “jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.” Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.Q.S At Taubah, 9:24

Jika hal-hal tersebut lebih dicintai daripada Allah, Rasul-Nya dan perjuangan suci, maka kita sedang melakukan dosa syirik!

Allah S.W.T telah memperingatkan kita:

﴾ وَلَا تَكُونُوا مِنَ الْمُشْرِكِينَ …﴿

  مِنَ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا ﴿

﴾ كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ

… dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah, yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka. Q.S Ar Ruum, 30:31-32

Jika kita menciptakan masalah antar sesama tentang Iimaan dan Islam, maka kalian akan dianggap musyrikiin dan bukan muwahhidiin atau Muslim sebab kita terpecah. Setiap kelompok atau pun sekte akan berkata: “Kami lah yang benar, kalian salah. Kami lah yang paling Islam, kalian tidak. Kami lah calon penghuni surga, kalian calon penghuni neraka.” Ini adalah bentuk kesyirikan yang telah diperingatkan oleh Allah S.W.T. Jika kita tetap seperti itu, Allah S.W.T telah memberitahu apa hukuman yang akan kita dapatkan:

  وَلاَ تَكُونُواْ كَالَّذِينَ تَفَرَّقُواْ وَاخْتَلَفُواْ مِن ﴿

﴾ بَعْدِ مَا جَاءهُمُ الْبَيِّنَاتُ وَأُوْلَـئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ

 ﴾… يَوْمَ تَبْيَضُّ وُجُوهٌ وَتَسْوَدُّ وُجُوهٌ ﴿

Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat, pada hari yang di waktu itu ada muka yang putih berseri, dan ada pula muka yang hitam muram …Q.S Ali Imran, 3:105-106

Tapi apa yang sudah kita perbuat?

Islam sendiri datang ke suatu kaum atau bangsa yang banyak terpecah-belah, yakni Bangsa Arab. Bangsa Arab saling bermusuhan dan bertarung. Bahkan mungkin sejarah mencatat bahwa tidak ada kaum yang lebih terpecah daripada bangsa Arab.

Mereka bisa berperang dan saling menumpahkan darah hanya karena perbedaan sederhana yang bisa bertahan selama lebih dari satu abad. Tadinya orang-orang Arab adalah orang-orang yang dikutuk karena tidak punya gagasan tentang Satu Tuhan Yang Benar dan tidak punya gagasan tentang konsep persatuan. Dan Islam berhasil menyatukan suku-suku Arab yang saling berperang ini menjadi satu persaudaraan! Al Qur’an menyatakan:

﴾… إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ ﴿

Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara …Q.S Al Hujuraat, 49:10

Secara ipso facto, orang beriman sudah pasti bersaudara satu sama lainnya. Nabi Muhammad s.a.w bersabda:

Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal saling kasih, saling menyayang dan saling cinta adalah seperti sebuah tubuh, jika salah satu anggotanya merasa sakit, maka anggota-anggota tubuh yang lain ikut merasakan sulit tidur dan demam.Shahih Muslim

Al Qur’an menyatakan bahwa umat atau komunitas ini tidak didasarkan pada perbedaan ras, bahasa, tempat tinggal atau warna kulit:

  إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِهِ ﴿

﴾ صَفًّا كَأَنَّهُم بُنيَانٌ مَّرْصُوصٌ

Sesungguhnya Allah menyukai orang yang berperang dijalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti satu bangunan yang tersusun kokoh.Q.S Ash Shaff, 61:4

Para sahabat Nabi Muhammad s.a.w mendengar pesan tersebut, dan berpikir, serta merenungkannya sedalam mungkin hingga mereka melupakan ego masing-masing. Mereka juga merenungkan pernyataan Al Qur’an tentang Iblis yang jatuh dari status yang tinggi. Al Qur’an menyatakan:

﴾ أَنَاْ خَيْرٌ مِّنْهُ خَلَقْتَنِي مِن نَّارٍ وَخَلَقْتَهُ مِن طِينٍ …﴿

… “Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah.”
Q.S Al A'raaf, 7:12

Dan Allah S.W.T berfirman:

﴾ وَإِنَّ عَلَيْكَ اللَّعْنَةَ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ ﴿

dan sesungguhnya kutukan itu tetap menimpamu sampai hari kiamat.”Q.S Al Hijr, 15:35

Bagaimana bisa seseorang yang beriman kepada Allah, Tuhan Yang Maha Besar, Maha Berdaulat, dan Maha Agung, namun orang tersebut sangat percaya kalau dirinya itu hebat? Jika seseorang mengucapkan kalimat syahadat di bibirnya, dan dia menuruti dan memuja hawa nafsu-nya, maka Al Qur’an menyatakan:

﴾ أَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَهَهُ هَوَاهُ أَفَأَنتَ تَكُونُ عَلَيْهِ وَكِيلًا ﴿

  أَمْ تَحْسَبُ أَنَّ أَكْثَرَهُمْ يَسْمَعُونَ أَوْ يَعْقِلُونَ ﴿

﴾ إِنْ هُمْ إِلَّا كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ سَبِيلًا

Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya?, atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami. Mereka itu tidak lain, hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya (dari binatang ternak itu). Q.S Al Furqaan, 25:43-44

Di satu sisi dia mengaku hanya ada Satu Tuhan, yakni Allah S.W.T, namun di sisi lain dia menuruti egonya dalam hal kekayaan dan kekuasaannya. Seorang Muslim tidak lah seperti itu!

﴾ يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَنتُمُ الْفُقَرَاء إِلَى اللَّهِ وَاللَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ ﴿

Hai manusia, kamulah yang berkehendak kepada Allah; dan Allah Dialah Yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji.Q.S Faathir, 35:15

Jika kita tidak berbuat dan berperilaku dengan benar, maka Allah S.W.T akan:

﴾ إِن يَشَأْ يُذْهِبْكُمْ وَيَأْتِ بِخَلْقٍ جَدِيدٍ ﴿

﴾ وَمَا ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ بِعَزِيزٍ ﴿

Jika Dia menghendaki, niscaya Dia memusnahkan kamu dan mendatangkan makhluk yang baru (untuk menggantikan kamu). Dan yang demikian itu sekali-kali tidak sulit bagi Allah.Q.S Faathir, 35: 16-17

Wahai manusia! Islam telah mengajarkan bagaimana cara menghancurkan ego. Ego manusia lah yang telah menyebabkan semua pertikaian, yang sepertinya masalah ego ini masih belum terpecahkan. Perselisihan teologis memutuskan ikatan persaudaraan, dan karena itu lah Allah S.W.T berfirman dalam Al Qur’an: Allah adalah Kebenaran. (Q.S Al Hajj, 22:6)

Utusan Allah mulai dari Nabi Adam a.s sampai Nabi Muhammad s.a.w datang ke bumi dengan membawa kebenaran:

  هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ ﴿

﴾ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ

Dialah yang telah mengutus RasulNya (dengan membawa) petunjuk (Al-Quran) dan Diin yang benar untuk dimenangkanNya atas segala diin, walaupun orang-orang musyrikin tidak menyukai.Q.S At Taubah, 9:33

Allah S.W.T berfirman:

  وَمَا خَلَقْنَا السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا إِلاَّ بِالْحَقِّ ﴿

﴾ وَإِنَّ السَّاعَةَ لآتِيَةٌ فَاصْفَحِ الصَّفْحَ الْجَمِيلَ

Dan tidaklah Kami ciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya, melainkan dengan benar. Dan sesungguhnya saat (kiamat) itu pasti akan datang, maka maafkanlah (mereka) dengan cara yang baik. Q.S Al Hijr, 15:85

Pertanyaannya, apa yang menjadi cita-cita kehidupan manusia dan individu yang diberikan Islam? Apa kebajikan tertinggi yang harus dicapai seseorang? Hal yang harus kita capai adalah kebaikan dan kebenaran digabungkan dengan ketulusan dan integritas. Kebenaran tidak akan ada dalam diri manusia tanpa integritas moral. Boleh saja dibibir kita mengucapkan kalimat syahadat, tapi ingat Al Qur’an memberitahu kita bahwa orang-orang munafik Madinah telah dikutuk. Mereka tadinya berkata bahwa mereka beriman kepada Allah S.W.T dan Hari Kiamat dan Nabi Muhammad s.a.w sebagai Rasul Allah, tetapi Allah S.W.T berfirman:

﴾ وَمِنَ النَّاسِ مَن يَقُولُ آمَنَّا بِاللّهِ وَبِالْيَوْمِ الآخِرِ وَمَا هُم بِمُؤْمِنِينَ ﴿

Di antara manusia ada yang mengatakan: “Kami beriman kepada Allah dan Hari kemudian,” pada hal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman. Q.S Al Baqarah, 2:8

Allah juga berfirman:

Apabila orang-orang munafik datang kepadamu, mereka berkata:

  إِذَا جَاءكَ الْمُنَافِقُونَ قَالُوا نَشْهَدُ إِنَّكَ لَرَسُولُ ﴿

اللَّهِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ إِنَّكَ لَرَسُولُهُ وَاللَّهُ

﴾ يَشْهَدُ إِنَّ الْمُنَافِقِينَ لَكَاذِبُونَ

“Kami mengakui, bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul Allah.” Dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul-Nya; dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya orang-orang munafik itu benar-benar orang pendusta. Q.S Al Munaafiquun, 63:1

Orang-orang munafik (hipokrit) berkata dengan bibir mereka, tetapi hati mereka berbeda dengan ucapannya.

Keyakinan dalam Islam bukan hanya harus jelas dan positif diucapkan dengan lidah, tapi juga diresapi sebagai kebenaran oleh hati.

Saudara-saudari sekalian, Islam sudah memberikan petunjuk yang jelas tentang masalah ini. Tidak ada yang namanya salah paham atau salah tafsir tentang persatuan dalam tubuh umat Islam. Karena itu lah, kita akan mendapatkan hukuman yang sangat berat jika melanggar prinsip persatuan ini.

Kita seharusnya sangat sedih berduka dan malu ketika umat Islam dihukum sangat keras oleh Allah S.W.T karena telah melanggar Hukum Ilahi. Kita bagaikan orang munafik yang berkata satu hal namun bertindak berbeda, meski kita tahu kebenarannya seperti apa. Kita tahu perilaku kita tidak sesuai dengan apa yang sudah ditentukan oleh Islam. Ulama kita sudah membagi kategori munafiiq (munafik) menjadi dua: munafiiq fiil-aqiidah (munafik dalam keyakinan) dan munafiiq fiil-ʻamal (munafik dalam perilaku).

Orang-orang boleh saja berkata dan mengaku kalau mereka adalah Muslim, tapi melanggar Hukum dalam perbuatan (amal) mereka. Tahukah kalian, umat atau komunitas yang didirikan Rasulullah s.a.w adalah komunitas yang dianggap sebagai perkumpulan manusia super? Mereka berbeda dari manusia lainnya. Mereka punya kekuatan yang luar biasa dari iimaan billaah, dan penghalang terbesar dan terkuat sekali pun tidak dapat menahan pengaruh mereka. Seluruh dunia gemetar di hadapan mereka meskipun jumlah mereka hanya segelintir.

Kesuksesan ini terus berlanjut selama masa Sayyidina ‘Umar r.a dan Sayyidina’ Utsman r.a. Masalah mulai muncul ketika ummah ini memperlihatkan perpecahan dan Sayyidina’ Utsman r.a menjadi Muslim pertama yang syahid yang dibunuh oleh Muslim itu sendiri. Sayyidina ‘Ali r.a dibunuh, Sayyidina Hasan r.a diracuni, Sayyidina Husain r.a dan keluarganya dibunuh. Mereka dibunuh oleh orang-orang yang menyebut diri mereka Muslim. Gibbon yang merupakan seorang sejarawan menulis sebuah buku dengan judul ““The Decline and Fall of the Empire”, dan dia menyatakan seandainya Umar r.a masih hidup sepuluh tahun lagi, maka seluruh dunia akan menjadi Muslim!

Pastinya, ego itu pada akhirnya datang. Iman kepada Allah S.WT terus memudar hingga menjadi sebuah gambaran dan gagasan belaka. Semakin baik iman seseorang, semakin besar pula persatuan, dan semakin baik karakter orang tersebut. Begitu pula sebaliknya. Ketika orang-orang yang menyebut dirinya Muslim melakukan kekejaman pada pemimpin Muslimnya sendiri atau kepada orang-orang yang tak bersalah, bisa kah kita menyebut mereka beriman? Akibatnya, umat Islam kehilangan hadiah besar yang seharusnya bisa kita raih dengan mudah. Tentu saja ummah ini sudah dibangun dengan sangat kuat oleh tangan seseorang yang tangguh – Rasulullah s.a.w. Ummah ini punya hal spesial yang mampu menyingkirkan segala rintangan selama berabad-abad. Namun, kerusakan pada akhirnya tidak bisa kita hindari.

Hai saudara-saudari Muslim sekalian, ambil lah pelajar dari hal ini. Berapa banyak kerusakan yang dihasilkan dari perpecahan, apakah kita yang merusak diri kita sendiri? Baca lah sejarah perjuangan umat Islam yang ingin bersatu. Ketika umat Islam menginjakkan kaki mereka di Spanyol dengan kemuliaan, ‘Abdul Rahman yang agung pergi ke Perancis untuk menghadapi koalisi pasukan Charlemagne. Pasukan Muslim berada di atas angin dan meraih kemenangan dalam pertempuran Portiers, yang terjadi beberapa mil dari kota Paris, pertempuran yang menentukan bagi Muslim di Eropa. Namun setelah itu apa yang terjadi? Pasukan Muslim terpecah menjadi dua kelompok: Arab dan Berber. Iblis telah merusak pikiran mereka hingga mereka saling bertengkar satu sama lain. Musuh akhirnya menyerang mereka ketika mereka sibuk bertengkar satu sama lain, hingga akhirnya mereka tidak hanya angkat kaki dari tanah Perancis, tapi mereka juga angkat kaki dari tanah Spanyol.

Ini lah pil pahit yang harus kita telah akibat dari perpecahan, dan menyebabkan Kekaisaran Muslim dan peradaban Islam di Spanyol lenyap. Muslim yang pergi ke Spanyol tersebut dengan jumlah pasukan yang kecil, di bawah komando Tariq, menaklukkan seluruh Spanyol. Setelah itu mereka mendirikan kerajaan mereka sendiri, dan gubernur yang berbeda mulai dirasuki racun perpecahan.

Ego telah menguasai diri mereka. Setiap gubernur ingin menjadi penguasa utama Spanyol dan bersekutu dengan Isabella dan Ferdinand dengan imbalan dapat menguasai wilayah gubernur lainnya yang juga sesama Muslim. Ini lah yang terjadi dalam sejarah umat Islam di Spanyol. Akhirnya umat Islam kehilangan Spanyol. Mereka terbunuh dalam jumlah yang cukup besar, dan semua jejak peradaban yang mulia terhapuskan.

Hal yang sama juga terjadi di India di mana umat Islam berkuasa selama lebih kurang delapan ratus tahun (977-1857). Ketika Inggris, yang hanya segelintir, datang ke India, beberapa Muslim bekerja sama dengan mereka sebagai agen melawan Kekaisaran Islam. Ada yang bernama Mir Ja’far di Bengal dan Sadiq di India Selatan yang memainkan peran agen tersebut. Ini adalah contoh kecil kejatuhan penguasa Muslim India yang diakibatkan oleh Muslim itu sendiri.

Ada sebuah cerita muncul dalam koran Afrika Selatan di Johannesburg. Di halaman depan ada seorang pria bernama Chaid Benton yang meninggal. Pria ini disebut sebagai “pahlawan”. Dia berasal dari Inggris, berkelana di Afrika dan akhirnya menciptakan pemberontakan di Moroko. Pria ini membantu para pemimpin pemberontakan di Moroko. Ketika Al Hafith bangkit melawan pemberontakan Sultan ‘Abdul Aziz, Benton membantu pemberontakan dan bertanggung jawab atas perubahan pemerintahan. Bagi Benton, itu hanya lah permainan belaka yang menggantikan satu Sultan Muslim dengan Sultan Muslim lainnya. Akhirnya Moroko menjadi sangat lemah hingga Perancis datang dan menjadikannya sebagai “protektorat”.

Apa pendapat kalian tentang iman orang-orang yang mengaku Muslim yang bertindak sebagai antek non-Muslim itu? Mereka merusak iman, nama, komunitas dan negara mereka sendiri! Apa penilaian kalian tentang iman mereka itu?

Jika Islam hanya dianggap sebagai agama ritual formal belaka, dan hanya diterima sebagai kultus dan bukanya diterima sebagai transformasi alkimia, atau bukannya diterima sebagai kode komprehensif kehidupan iman kepada Allah S.W.T, maka Islam hanya lah gagasan filosofi dan bukan kebenaran relijius. Maka semua kemungkinan bisa saja terjadi.

Sahabat yang kami sayangi, maafkan lah kami jika kalian merasa terhina, tetapi kami hanya lah bagian dari kalian. Komunitas Muslim di dunia saat ini, menurut statistik U.N.O, terdiri dari tujuh ratus juta jiwa (1970). Tujuh ratus juta Muslim ini dapat kita temukan di seluruh dunia. Jumlah kita tujuh ratus juta! Allahu Akbar! Namun kita tidak berharga sama sekali, bahkan tidak berharga tujuh sen pun. Kita bagaikan tujuh ratus juta sedotan hingga batang korek api bisa berubah menjadi abu. Kita bukan lagi tujuh ratus juta Muslim ketika musuh dapat mengendalikan kita dengan mudah.

Dalam sebuah surat kabar, sebuah artikel muncul tentang Yordania. Mungkin kalian berpikir penguasa Yordania adalah Raja Hussein, yang menyebut dirinya sendiri sebagai “sayyid”, keturunan Rasulullah s.a.w. Kabinet Israel menyatakan kalau mereka memperoleh informasi bahwa tahta Raja Hussein berada dalam bahaya, maka Israel akan membantunya untuk memastikan tahta Raja Hussein tetap bertahan. Allahu Akbar! Persahabat yang sangat harmonis! Keduanya dikenal sebagai musuh terburuk. Senat dan Presiden Amerika selalu khawatir bagaimana cara menyelamatkan Raja Hussein yang negaranya sudah hancur akibat bom yang dipasok oleh AS. Komunitas yang sama yang sudah diusir oleh Amerika? Benar-benar cinta dan kasih sayang yang luar biasa yang diberikan Amerika untuk orang itu dan Kerajaan Yordania-nya?

Kami bukanlah politikus, kami juga tidak ingin bicara politik. Kami hanya berbicara tentang satu hal, yakni melemahnya umat Islam hingga mengikis prinsip persatuan. Kita ini sudah jatuh ke dalam jurang. Lagi-lagi terjadi bentrokan gerilya dalam kekuasaan Raja Hussein. Baik itu pria, wanita dan anak-anak yang tidak bersalah di Amman terkubur dalam puing-puing bangunan akibat bentrokan. Ini ulah siapa?

Bukanlah ulah Israel atau Amerika! Tapi ini akibat Muslim itu sendiri. Allahu Akbar. Al Qur’an menyatakan:

  وَمَن يَقْتُلْ مُؤْمِنًا مُّتَعَمِّدًا فَجَزَآؤُهُ جَهَنَّمُ﴿

﴾ خَالِدًا فِيهَا وَغَضِبَ اللّهُ عَلَيْهِ وَلَعَنَهُ وَأَعَدَّ لَهُ عَذَابًا عَظِيمًا

Dan barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja maka balasannya ialah Jahannam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan azab yang besar baginya. Q.S An Nisaa, 4:93

Nabi Muhammad s.a.w bersabda:

Mencaci orang muslim adalah suatu kefasikan dan membunuhnya adalah suatu
kekufuranH.R Bukhari dan Muslim

Orang yang membunuh saudara Muslimnya, ipso facto telah keluar dari Islam. Dia seorang kafir.

Sahabat kami sekalian, kami hanya orang asing, kami di sini bukan untuk menyalahkan. Kami tahu kalau kami tidak bisa bertindak sebagai arbiter (orang yang ditunjuk atau disetujui oleh kedua belah pihak yang bersengketa untuk menjadi penengah dan memberi keputusan yang akan ditaati oleh kedua pihak.). Kami sudah melihat masalah yang muncul dalam komunitas Muslim dan mencoba untuk meluruskannya – tetapi tidak berhasil. Kami ini siapa? Ingat, hidayah ada di tangan Allah S.W.T.

Memang benar kita tidak akan bisa membimbing setiap orang yang kita cintai; tetapi Allah lah yang membimbing mereka jika Dia menghendaki.

  إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي﴿

﴾ مَن يَشَاء وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk. Q.S Al Qashash, 28:56

Jika iman sejati dan pemahaman tidak ada di antara pihak-pihak yang bertikai, kita tidak dapat mewujudkan transformasi dalam semalam. Bahkan tidak bisa dalam satu abad! Kita ini apa? Perjuangan kita yang tulus untuk terus berusaha menyatukan Muslim dapat diterima oleh Allah S.W.T, namun Allah secara jelas berfirman:

﴾… اللّهَ لاَ يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُواْ مَا بِأَنْفُسِهِمْ …﴿

… Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri … Q.S Ar Ra’d, 13:11

Jika ketulusan ada dalam kedua belah pihak, apa pun perbedaannya, maka berkah Allah pasti akan datang. Izinkan kami mengingatkan kalian bahwa orang-orang hebat seperti Sayyidina Imam Abu Hanifa (94-179/716-795), Imam Syafi’I, Imam Malik, Imam Ahmad bin Hanbal, Imam Al Ghazzali (450-505/1058-1111), orang-orang yang jika dibandingkan dengan diri kita, kita bagaikan partikel debu di kaki mereka, tidak bisa berbuat apa-apa. Mereka memberikan kontribusi semampu mereka dan mereka adalah cendekiawan yang saleh. Tapi untuk merubah kondisi yang ada dan menyelamatkan komunitas dari jurang yang dalam, bisa dilakukan dengan keras oleh orang-orang yang sangat hebat itu. Dibandingkan diri kita, mereka mungkin 100 kali lebih hebat. Apa yang bisa kita lakukan, wahai teman-teman kami terkasih? Kami hanya bisa berdiri di sini atau di sana atau hanya bisa sekedar menulis.

﴾ وَذَكِّرْ فَإِنَّ الذِّكْرَى تَنفَعُ الْمُؤْمِنِينَ ﴿

Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman. Q.S Adz Dzaariyaat, 51:55

Kehidupan di bumi ini hanya lah permainan dan sendara gurau belaka. Begitu lah menurut Al Qur’an.

﴾… اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ ﴿

Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan,  … Q.S Al Hadiid, 57:20

Dunia ini hanya lah serangkaian bayangan yang sekilas – mimpi – dan tidak lebih dari itu. Kita tidur di sini dan akan bangun ketika kita mati, karena dalam tidur kita, kita melihat mimpi yang terus-menerus. Ini hanya lah hayat al-dunya, dan ini lah yang diajarkan oleh Imam kita yang hebat. Kita tidak tahu kapan perjalanan hidup kita akan berakhir:

﴾… وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ …﴿

… Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati … Q.S Luqman, 31:34

Namun ini adalah kesempatan yang berharga menurut apa yang diajarkan Nabi Muhammad s.a.w kepada kita:

﴾ ﴿

…Beramallah untuk akhiratmu seakan-akan engkau akan mati besok.

Bekerjalah untuk kehidupan akhirat seolah-olah engkau akan mati secara positif besok.

Kehidupan kita ini seperti stok penjual es. Dia membeli es dari pabrik dan menginvestasikan modal untuk memperoleh keuntungan. Tapi dia hanya mendapatkan uang kembali sesuai dengan kuantitas es yang bisa dia jual. Es yang telah terjual akan berubah menjadi air dan hilang ke bumi dan tidak dapat dipulihkan lagi. Semua yang kita lakukan karena cinta dunia ini, seperti es yang berubah menjadi air dan hilang di bumi.

﴾… مَا عِندَكُمْ يَنفَدُ وَمَا عِندَ اللّهِ بَاقٍ ﴿

Apa yang di sisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal. … Q.S An Nahl, 16:96

  الْمَالُ وَالْبَنُونَ زِينَةُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَالْبَاقِيَاتُ﴿

﴾ الصَّالِحَاتُ خَيْرٌ عِندَ رَبِّكَ ثَوَابًا وَخَيْرٌ أَمَلًا

Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan. Q.S Al Kahfi, 18:46

Teman-teman sekalian, dalam kehidupan yang singkat ini kita tidak mengendalikan apa pun kecuali bergantung sepenuhnya pada Rahmat Allah S.W.T:

﴾… أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَن تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ ﴿

Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah …Q.S Al Hadiid, 57:16

Apakah belum waktunya bagi hati kita yang keras dapat meleleh karena takut atas pertanggungjawaban yang ada di hadapan kita? Ancaman dan dampak yang akan datang akibat perbuatan jahat kita bagaikan ular yang telah melilit leher kita dengan kencang. Masalah persatuan di antara umat Islam seharusnya tidak muncul. Ini penghinaan bagi umat Islam. Masalah perpecahan apa pun seharusnya tidak terus terjadi; ini adalah penghinaan terbesar bagi umat Islam. Dia yang takut berdiri dihadapan Tuhannya di Hari Penghakiman kelak untuk memberikan pertanggungjawaban, dan dia yang menjauhkan diri dari pemujaan ego, baginya adalah surga atau Taman Kebahagiaan.

﴾ فَأَمَّا مَن طَغَى ﴿

﴾ وَآثَرَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا ﴿

﴾ فَإِنَّ الْجَحِيمَ هِيَ الْمَأْوَى ﴿

Adapun orang yang melampaui batas, dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, maka sesungguhnya nerakalah tempat tinggal(nya). Q.S An Naazi´aat, 79:37-39

Saudara kami sekalian, sungguh, Allah S.W.T sangat baik kepada kita. Dia mengirimkan karunia terbesar-Nya di bumi ini ketia Dia mengangkat Nabi Muhammad s.a.w. Dia berfirman dalam Al Qur’an:

  لَقَدْ مَنَّ اللّهُ عَلَى الْمُؤمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ﴿

رَسُولاً مِّنْ أَنفُسِهِمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ

وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِن

﴾ كَانُواْ مِن قَبْلُ لَفِي ضَلالٍ مُّبِينٍ

Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus diantara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab dan Al Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata. Q.S Ali 'Imran, 3:164

Karunia ini sudah datang kepada kita – akankah kita tidak memperoleh manfaat dari itu? Betapa disayangkan jika kita tidak melakukannya. Langkah pertama untuk memperoleh manfaat itu adalah dengan membasmi ego ini. Ingat peringatan yang diberikan Nabi Muhammad s.a.w bahwa musuh Iblis bukan lah Tuhan, tapi musuhnya adalah manusia.satu-satunya musuh Tuhan adalah ego manusia. Ego itu berani berdiri di hadapan Tuhan – di dunia di mana ego itu buta – tetapi da;am kehidupan yang akan datang ego itu akan gemetar.

Wahai manusia, kendalikan lah ego itu, dan jadilah orang yang saleh.

﴾… وَلَـكِن كُونُواْ رَبَّانِيِّينَ …﴿

… Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani … Q.S Ali 'Imran, 3:79

Begitu lah jalan menuju cahaya, kebenaran, dan kebesaran. Iblis tidak akan membayar apa pun. Iblis akan pergi dengan tangan bersih pada Hari Penghakiman dan akan menyangkal keterlibatan apapun dalam setiap tindakan jahat. Iblis akan mengatakan bahwa dia hanya mendorong motif untuk setiap perbuatan dosa yang dilakukan manusia, tapi dia sendiri tidak melakukan dosa dan karena itu dia harus diizinkan untuk bebas! Allahu Akbar!

﴾ يَوْمَ يَفِرُّ الْمَرْءُ مِنْ أَخِيهِ ﴿

﴾ وَأُمِّهِ وَأَبِيهِ ﴿

﴾ وَصَاحِبَتِهِ وَبَنِيهِ ﴿

pada hari ketika manusia lari dari saudaranya, dari ibu dan bapaknya, dari istri dan anak-anaknya. Q.S ´Abasa, 80:34-36

Dan bagi para pemimpin, biarkan lah mereka tidak merasa terangkat dan gembira, siapa pun mereka, karena jika mereka salah mengarahkan orang-orang, maka orang itu akan mengadu kepada Allah S.W.T dan berkata dalam permohonannya:

﴾ وَقَالُوا رَبَّنَا إِنَّا أَطَعْنَا سَادَتَنَا وَكُبَرَاءنَا فَأَضَلُّونَا السَّبِيلَا ﴿

﴾ رَبَّنَا آتِهِمْ ضِعْفَيْنِ مِنَ الْعَذَابِ وَالْعَنْهُمْ لَعْنًا كَبِيرًا ﴿

Dan mereka berkata;:”Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah mentaati pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan (yang benar). Ya Tuhan kami, timpakanlah kepada mereka azab dua kali lipat dan kutuklah mereka dengan kutukan yang besar.” Q.S Al Ahzab, 33:67-68

Segala puji hanya lah milik Allah, Tuhan semesta alam.

 

Tulisan ini terinspirasi dari ceramah Maulana Fazlur Rahman Ansari rahimahullah yang berjudul, “Principle of Unity (Tawhid)

Maulana Fazlur Rahman Ansari Al Qaderi rahimahullah
Maulana Fazlur Rahman Ansari Al Qaderi rahimahullah
Maulana Fazlur Rahman Ansari Al Qaderi rahimahullah

Beliau merupakan Ulama Islam terkemuka di dunia, Filsuf, Orator, Mubaligh, Guru, Penulis serta Pemimpin Spiritual. Karena beliau memiliki kualitas-kualitas yang beragam, beliau sangat berpengaruh pada pikiran dan hati Muslim dan Non-Muslim di belahan dunia, termasuk Perdana Menteri, Para Ulama, para pemikir, Professor, Pejabat Pemerintah, Jurnalis, pemimpin politik, Sufi, dll.

Beliau lahir dari keluarga Islam yang taat pada tanggal 14 Agustus 1914 di Muzaffarnagar, Provinsi UP, India. Beliau merupakan keturunan dari Hazrat Abu Ayoob Ansari (radliallahu anhu) of al-Madīnah alMunawwarah, seorang sahabat Rasulullah (s.a.w) yang rumahnya ditempati oleh Rasulullah (s.a.w) ketika pertama kali tiba di Madinah di masa hijrah.

Pada usia 7 tahun beliau sudah hafal Al Qur’an dan pada usia 19 tahun beliau tamat dari kurikulum Dars-i Nizami. Setelah tamat sekolah, beliau kemudian melanjutkan kuliah dan memperoleh gelar Bachelor of Arts (BA) dan Bachelor of Science (BSc) di Universitas Aligarchi dan memperoleh Medali Emas. Kemudian dia melanjutkan ke tingkat Master dengan jurusan Filosofi dan memperoleh nilai yang luar biasa, 98%, dan masih dianggap belum ada yang bisa menandingi nilainya.

Dr. Fazlur Rahman Ansari rahimahullah, Alhamdulillah, tetap berada di bawah bayang-bayang Fazl of Rahman-Allah. Allah (سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى) memberinya dua Guru Besar. Dia membaca Post Dars-e-Nizamia melalui bimbingan Aala Hazrat Imam Al-Sharah Allama Syed Sulaman Ashraf dan Filsafat Modern oleh Dr. Syed Zafarul Hassan dan kedua guru ini terkenal dan kepribadiannya yang luar biasa pada masanya.

Selama menjadi mahasiswa, beliau lulus semua ujian di kelas satu. Dia lulus pada tahun 1935 dengan kelas pertama, divisi pertama, dan menerima Medali Emas untuk berdiri pertama di BA dan B.Sc ujian gabungan. Dia menerima Medali Emas karena telah membuat rekor baru 98% dalam ujian Philosophy B.A (Bachelor of Arts). Dia lulusan pertama pada kelas pertama di B.Th (Bachelor of Theology) dan lulus M.A (Master of Arts) Filosofi di kelas pertama. Dia sendiri mengajar secara independen mata kuliah M.A di banyak mata pelajaran seperti Politik, Ekonomi, Studi Perbandingan agama dan membaca banyak Ilmu Fisika, seperti Mitologi, Sejarah Peradaban dan Budaya, Hukum dan Obat-obatan terutama Homeopati, dll., dan belajar bahasa Jerman. Beliau menguasai 5 bahasa, yakni Arab, Inggris, Urdu, Jerman, dan Persia.

Pada tahun 1947 beliau menyelesaikan tesis penelitian PhD, tetapi karena keadaan yang tidak menguntungkan dari migrasi ke Pakistan (ketika Pakistan hendak memisahkan diri dari India), tesis lengkapnya tertunda. Namun beliau diberikan gelar PhD pada tahun 1970 oleh Universitas Karachi untuk tesisnya tentang Kode Moral Islam dan latar belakang Metafisiknya

Untuk mencerahkan pemikiran dan meningkatkan semangat religius, Allah (سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى) membawanya bertemu dengan Maulana Shah Abdul Aleem Siddiqui rahimahullah (keturunan Abu Bakr Shiddiq radliallahu anhu), seorang Khalifah Aala Hazrat Maulana Ahmed Raza Khan dari Bareli (rahimahullah) dan seorang Ulama Islam terkemuka di dunia pada masa itu. Maulana Abdul menerima beliau sebagai Murid secara spiritual.

Maulana Abdul Aleem Siddiqui memberinya Ijaz (otoritas) dalam urusan spiritual di dalam Hateem of Kaba. Maulana Abdul Aleem Shiddiqui menerima menerima beliau sebagai anggota keluarganya dan menikahkan putri sulungnya dan memilih beliau sebagai menantu laki-lakinya. Setelah wafatnya Hazrat Abdul Aleem Siddiqui (radliallahu anhu) beliau diangkat menjadi Raees-ul-Khalifa dari Halqa-e-Aleemiyah Qaderiyah.

Pada tahun 1944-1946 Dr. Fazlur Rahman Ansari terpilih sebagai anggota Komite Perencanaan Pendidikan di bawah mandat yang diberikan oleh Quaid-e-Azam Muhammad Ali Jinnah.

Dr. Fazlur Rahman Ansari, selain mempelajari mistisisme Islam (Al Ihsan/Tasawwuf) dari Shah Abdul Aleem Siddiqui (RA), melakukan perjalanan jauh dan luas. Beliau mulai mulai melakukan tur dakwah sebagai anak didik Maulana Abdul Aleem Siddiqui rahimahullah setiap kali mengunjungi 15/20 negara dan melakukan perjalanan tujuh kali ke seluruh dunia. Kedua duta besar Mubaligh Islam ini berkumpul dalam komunitas Muslim di negara yang dikunjungi dan mendirikan organisasi di negara Muslim yang dikunjungi agar berdakwah lebih lancar dan efektif lagi. Beliau memiliki hak istimewa untuk memimpin beberapa Misi Islam baik nasional maupun internasional.

Dr. Fazlur Rahman Ansari, selain mempelajari spiritualisme Islam (Al Ihsan/Tasawwuf) dari Shah Abdul Aleem Siddiqui (rahimahullah), melakukan perjalanan jauh dan luas. Beliau mulai mulai melakukan tur dakwah sebagai anak didik Maulana Abdul Aleem Siddiqui rahimahullah setiap kali mengunjungi 15/20 negara dan melakukan perjalanan tujuh kali ke seluruh dunia. Kedua duta besar Mubaligh Islam ini berkumpul dalam komunitas Muslim di negara yang dikunjungi dan mendirikan organisasi di negara Muslim yang dikunjungi agar berdakwah lebih lancar dan efektif lagi. Beliau memiliki hak istimewa untuk memimpin beberapa Misi Islam baik nasional maupun internasional.

Beliau menulis buku pertamanya di bawah bimbingan Shaikh-nya yang berjudul “The Beacon Light” pada usia 18 tahun saja. Selama kuliah, beliau menulis buku keduanya, “The Christian World in revolution”. Setelah buku-buku ini, banyak buku lain yang ditulis seperti “Muhammad (صلى الله عليه وسلم).” “The Glory of Ages”, “Islam in Europe and America”, dll. Beliau menulis sekitar 40 buku dan dalam bahasa Urdu dan bahasa Inggris. Dia mengedit berbagai majalah dari dalam dan luar negeri. Pada tahun 1973 beliau menulis buku terakhirnya yang penuh makna, yaitu “The Quranic Foundations and Structure of Muslim Society” dalam bahasa Inggris dan dalam dua jilid. Buku ini memberikan Sistem Panduan dengan cara yang rumit, yang membenarkan secara menyeluruh klaim Al Qur’an yang “posisi atas segalanya (di mana umat manusia membutuhkan Bimbingan Ilahi)”.

Aleemiyah Institute of Islamic Studies yang didirikannya adalah salah satu proyek yang luar biasa penting di mana, selain memberikan pendidikan agama dan pelatihan dakwah, mata pelajaran sekuler penting lainnya seperti Ekonomi, studi Perbandingan agama, Jurnalisme, dll, juga diajarkan. Karena usaha dan dedikasinya yang terus menerus kepada Islam dan umat manusia, ribuan orang telah masuk Islam.

Pada bulan Desember 1973 beliau melakukan tur misi terakhir ke Seychelles dan Srilanka dan 1974 menghembuskan nafas terakhirnya pada hari Senin, 3 Juni, 1974 (Jamadi-ul-Awwal ke-11) pada pukul 10.30 pagi. Beliau dimakamkan di kompleks Islamic Centre (The Aleemiyah Institute of Islamic Studies ). Semoga Allah (سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى) menempatkan beliau di Jannah-Nya dan menempatkan beliau bersama orang-orang shaleh. Aamiin ya Rabbal’alamiin

Maulana Imran N Hosein merupakan murid sekaligus menantunya Maulana Fazlur Rahman Ansari Al Qaderi rahimahullah.

The Aleemiyah Institute of Islamic Studies yang didirikan oleh Maulana Fazlur Rahman Ansari rahimahullah adalah Universitas Islam dan Sains Modern yang terletak di Karachi, Pakistan. Lembaga ini dijalankan oleh World Federation of Islamic Missions. Maulana Imran Hosein tentu saja pernah belajar dan tamat di Universitas ini.

Please share this post

Terkait

Leave a Comment