Malapetaka tahun 2019: Mungkinkah perang Rusia-AS terjadi?

Hampir setengah dari pasukan militer AS yakin kalau Amerika akan masuk ke dalam perang besar tahun depan dan melihat Moskow dan Beijing sebagai ancaman utama, menurut jajak pendapat baru-baru ini. Tetapi apakah ada dasar atas kekhawatiran ini di kalangan tentara?

Hampir setengah dari tentara dan komandan di Angkatan Bersenjata AS (46%) percaya kalau negara mereka akan ditarik ke dalam konflik bersenjata berskala besar pada tahun 2019, mengungkap jajak pendapat militer Times yang baru dari pasukan yang masih aktif. Mereka tidak menjelaskan perang dengan Rusia yang mereka tunggu itu seperti apa. Mereka juga tidak memberikan analisis potensi konflik bersenjata strategis antara Moskow dan Washington. Tentara AS tidak memikirkan tren dan perubahan terbaru dengan cara apa negara-negara kita akan melakukan pertempuran dalam waktu dekat. Mereka telah menyebutkan secara singkat cyberattacks, tetapi hanya yang terjadi tahun ini.

Militer AS tidak menyebutkan tiga hal paling penting yang memainkan peran utama dalam perang apa pun: tujuan, metode / cara mencapai tujuan-tujuan itu, dan sarana. Pada dasarnya, mereka berpikir kalau perang sudah dekat, tetapi mereka tidak tahu perang seperti apa yang akan terjadi.

Meskipun ketegangan dalam hubungan Rusia-AS telah meningkat secara signifikan, baik Washington maupun Moskow tidak pernah mengatakan apa pun tentang siap menggunakan angkatan bersenjata untuk mencapai tujuan militer dan politik. Sepertinya hubungan bilateral paling buruk terjadi hari ini, tetapi tidak ada pertikaian ideologis, ekonomi, atau teritorial yang dapat memprovokasi perang berskala besar dalam setahun.

Konflik-konflik bersenjata lokal yang ada dan potensial, yang dinikmati para analis politik (memastikan bahwa mereka mencakup semuanya – dari Timur nan Jauh dan sepanjang jalan ke Belahan Bumi Barat), tidak akan menyebabkan perang besar antara Rusia dan AS.

Situasi saat ini di Suriah membuktikannya karena kita melihat bagaimana Moskow dan Washington melakukan semua yang mereka bisa untuk menghindari menginjak kaki masing-masing di wilayah itu. Selain itu, benar bagi kedua negara, baik pakar dari Rusia maupun AS tidak dapat menjabarkan tujuan-tujuan militer dan politik yang konkret, seperti apa arah konflik semacam itu, dalam beberapa pernyataan singkat.

Tidak ada yang dapat menunjukkan faktor dan alasan ekonomi dan sosial politik tertentu yang dapat memicu konflik militer antara AS dan Rusia.

Juga harus dikatakan kalau perang tidak bisa spontan dan persiapan untuk peperangan membutuhkan waktu. Bahkan jika kedua negara bersiap menghadapi perang berskala besar secepat yang mereka bisa, dibutuhkan paling tidak enam bulan untuk menyiapkan semuanya. Dan, mengingat sistem intelijen modern tingkat tinggi, tidak mungkin bisa mencegah musuh potensial untuk tidak menyadari proses persiapan yang sedang berjalan.

Terlepas dari semua itu, konfrontasi bersenjata antara Moskow dan Washington tidak bisa dimulai hanya dengan unit siap tempur yang akan berperang. Ini akan menjadi upaya yang sangat gegabah bagi kedua belah pihak.

Sementara itu, tidak ada data intelijen yang menunjukkan bahwa pengerahan pasukan strategis telah dimulai di salah satu dari kedua negara, yang berarti bahwa tidak seorang pun di Rusia atau AS saat ini sibuk membawa pasukan bersenjata untuk memerangi kesiapan, atau secara operatif mengerahkan pasukan ke teater perang dan di zona ruang strategis, pasukan yang bergerak secara strategis dari daerah pedalaman menuju teater operasi militer, atau mengerahkan pasukan cadangan strategis prioritas. Itu berarti bahwa tidak ada pihak yang mempersiapkan konflik militer skala besar.

Setelah terjadinya bencana #nuklir, kita akan pergi ke syurga sebagai martir; mereka yang menyerang kita dengan nuklir akan masuk nerakaPresiden Vladimir Putin

Lebih serius dari sekedar adu penalti

Namun, jika kita mencoba mengklasifikasikan perang hipotetis antara AS dan Rusia, kemungkinan besar akan menjadi perang dunia nuklir yang berlarut-larut. Sejak awal, peperangan ini ditandai dengan penggunaan semua senjata pemusnah massal yang tersedia, terutama persenjataan nuklir strategis, yang akan menimbulkan bencana besar bukan hanya bagi kedua negara yang berperang, tetapi juga bagi semua negara lain di dunia.

Baik Barat dan Timur paham betul akan hal ini. Wakil Presiden Senior Pusat Kajian Strategis dan Internasional (CSIS) yang berbasis di Washington, James Andrew Lewis menulis pada bulan September bahwa dengan munculnya senjata nuklir, kekuatan besar telah berusaha menghindari konfrontasi militer langsung, dan perang antara negara-negara besar yang bersenjata berat menjadi mahal dan berisiko.

Menurut Lewis, “Sekarang, AS mendapati dirinya di dunia di mana kekuatan lunaknya berkurang dan kekuatan kerasnya kurang bermanfaat.” Kekuatan yang muncul melihat diri mereka menjadi tantangan bagi AS dalam hal kekuatan ekonomi, pengaruh internasional, dan kepemimpinan regional. Beberapa telah berubah dari tantangan menjadi konflik.

Dalam hal ini, kata Lewis, lawan-lawan Washington akan memanfaatkan peluang yang diciptakan oleh teknologi informasi untuk merusak AS dan memajukan kepentingan nasional mereka. Dia menyebutnya sebagai jenis konflik baru yang intinya adalah informasi dan efek kognitif yang dihasilkannya.

Mengenai jajak pendapat Militer Times, kita harus ingat bahwa tidak ada survei antara pasukan militer yang dapat dilakukan tanpa persetujuan dari pejabat militer dan pejabat tinggi. Lebih sering daripada tidak, hasil survei seperti ini sudah diketahui sebelumnya; dengan kata lain, mereka akan menjadi apa yang diperintahkan.

Tampaknya dalam kasus ini, perintahnya adalah menambah bahan bakar ke api, tetapi tidak lebih dari itu. Bagaimanapun, tidak akan bijaksana untuk memperlakukan hasil jajak pendapat sebagai tanda-tanda dari maksud yang dilakukan pemerintah AS dengan perang dan perdamaian dalam waktu dekat.

 

Sumber: RT News. Apocalypse in 2019: Is Russia-US war possible?. https://www.rt.com/op-ed/441741-apocalypse-military-ww3-russia-us/

Download

Terkait

Leave a Comment