Islamic State dan Hilangnya Hegemoni Amerika Serikat

Download

Sekitar tahun 2015, Eropa Barat kewalahan, panik, kalang kabut, gundah gelisah atau pusing sepuluh keliling ketika terjadi konflik berkepanjangan di Suriah yang berpengaruh ke seluruh dunia. Di Suriah, muncul sebuah organisasi yang menyebut dirinya ISIS atau Islamic State tahun 2014 dan membuat dunia heboh dengan klaim bahwa mereka akan mendirikan Khilafah Dunia. Peperangan dan teror di Suriah menyebabkan sekitar dua juta pengungsi, mulai dari anak-anak, laki-laki, perempuan, ayah dan ibu sampai kakek dan nenek kita lari untuk mempertahankan hidup, dan satu juta lebih mengungsi ke Eropa Barat mencari suaka pada akhir tahun 2015.

Pada 30 September 2015, Federasi Rusia untuk pertama kalinya sejak konflik mulai melakukan intervensi militer dengan operasi udara yang menargetkan posisi kelompok teroris di Suriah. Intervensi militer Rusia tersebut dikarenakan kunjungan Presiden Suriah Bashar Al Assad ke Kremlin untuk meminta dukungan udara Rusia dalam membantu pasukan Suriah menumpas kelompok teroris. Kira-kira bahasa Hubungan Internasionalnya seperti ini:

Assad: “Tolong Putin, sungguh, kelompok proksi dan tuan-tuannya telah berbuat kerusakan di bumi Suriah, bisa kah kami mendapatkan bantuan kalian? Kalau perlu kami bayar”

Putin: “Tak perlu bayar. Kami tak butuh. Apa yang dianugerahkan Tuhan kepadaku lebih baik dari pada yang kalian berikan. Maka bantu lah aku dengan kekuatan, agar aku dapat mencegah mereka lebih brutal lagi dan membuat dinding penghalang antara kalian dan mereka. Siapa yang zalim, kami akan menghancurkannya, lalu dia akan dikembalikan kepada Tuhannya. Memaafkan mereka itu terserah Tuhan, tapi mengembalikan mereka kepada Tuhan adalah terserah kita.”

Bantuan Rusia itu juga datang disaat AS – yang katanya – juga sedang membom posisi strategis ISIS, selama setahun lebih, dan bukannya melemahkan ISIS melainkan membuat pengaruh ISIS makin meluas. Barangkali AS saat itu sedang membom nyamuk!

Perbandingan serangan udara Rusia dan serangan koalisi AS dalam konflik Suriah

Terlibatnya pasukan Rusia dalam konflik Suriah – padahal Suriah terletak jauh dari Rusia – menandakan era politik global baru setelah runtuhnya Uni Soviet. Dan sepertinya dunia berada di ambang Perang Dunia baru. Dan pada akhirnya, aksi teror yang dilakukan serigala berjubah Islam digunakan sebagai senjata perang modern melawan Rusia, Tiongkok, dan mencegah munculnya kekuatan lain yang dapat menghalangi Hegemoni Tunggal Amerika Serikat.

Paris Terror Attack 13 November 2015

Pada 13 November 2015, serangan bom bunuh diri di Paris menandakan babak baru dalam serangan terhadap peradaban Barat. Namun hanya sedikit yang bertanya apa atau siapa sebenarnya yang ada di belakang ISIS dan aksi terornya? Siapa sang arsitek aksi teror berjubah Islam tersebut? Untuk menjawabnya kita perlu kembali lagi ke belakang setelah masa awal Perang Dunia II dan lahirnya lembaga intelijen AS yang baru, yakni CIA yang didirikan pada tanggal 18 September 1947.

Lembaga Intelijen AS, CIA

Selama lebih dari enam dekade, CIA menggunakan dan bahkan melatih beberapa kelompok politik Islam dalam mencapai tujuannya untuk memperluas Hegemoni Amerika di dunia. Hubungan mesra CIA dengan kelompok politik Islam tertentu dimulai pada tahun 1950-an di Munich. Bagaimana ceritanya? Begini … Ketika Perang Dunia 2 terjadi, ada ribuan Tentara Merah Soviet beragama Muslim yang membelot ke Jerman. Setelah Perang Dunia 2 berakhir, para mantan tentara Nazi tersebut memutuskan untuk membuat komunitas di Eropa dan membangun Masjid tahun 1950-an. Ketika Perang Dingin memanas, kelompok politik Islam ini menjadi sekutu Barat dalam melawan Uni Soviet. Selama beberapa dekade, mereka dikendalikan oleh CIA, MI6 dan intelijen Jerman Barat dalam pertempuran baru Demokrasi vs Komunisme. Dan hubungan mereka ini mencapai dimensi baru tahun 1980-an ketika CIA dan intelijen Arab Saudi membawa seorang Islamis kebangsaan Saudi yang kaya raya ke Pakistan untuk merekrut para Jihadis melakukan perang teror melawan Tentara Merah Uni Soviet di Afganistan. Orang kaya tersebut bernama Osama bin Laden.

Zbigniew Brzezinski dan Osama bin Laden tahun 1981
“What is most important to the history of the world? The Taliban or the collapse of the Soviet empire? Some stirred-up Moslems or the liberation of Central Europe and the end of the cold war?”Brzezinski

Siapa yang dimaksud Brzezinski tentang ‘Some Stirred-up Moslems’? Apakah mereka adalah beberapa Muslim yang menggebu-gebu, terlalu bersemangat, fanatik atau yang gagal menggunakan akal pikirannya karena tidak bersabar?

Suksesnya Operasi Cyclone CIA yang mempersenjatai dan melatih orang Afgan dan kombatan Mujahidin lainnya membuat Washington jumawa dan menerapkan taktik yang sama setelah runtuhnya Pakta Warsawa dan Uni Soviet pada awal tahun 1990-an. Para alumni Afganistan – kebanyakan berkebangsaan Saudi yang direkrut oleh Al Qaeda – dibungkus, dipaket dan dikirim ke Azerbaijan dengan transportasi udara pribadi oleh CIA. Di Azerbaijan terdapat perusahaan minyak Inggris dan Amerika yang sedang menantikan ladang minyak di Laut Kaspia. CIA juga membawa para alumni tersebut ke Yugoslavia untuk memicu perang di sana, mulai dari Bosnia-Herzegovina sampai Kosovo. CIA juga menyelundupkan mereka ke Chechnya dan Dagestan untuk menyabotase, menghancurkan, memusnahkan, atau merusak rute jalur pipa minyak Rusia.

Pemboman kereta bawah tanah di Baku, ibukota Azerbaijan tahun 1994. Setidaknya 12 korban terbunuh

Karena upaya itu terbukti sukses, beberapa orang di Washington jadi jumawa dengan strategi mereka. Mereka yakin kalau mereka telah menemukan instrumen ideal dalam menciptakan teror di belahan dunia mana pun demi mensukseskan hegemoni global mereka setelah Uni Soviet runtuh.

Pada akhirnya CIA dan Pentagon menemukan “gambaran musuh” baru yang mengganti Komunisme Soviet setelah peristiwa 11 September 2001, dan Washington menyalahkan Osama bin Laden dan jaringan Al Qaeda-nya, tak peduli benar atau tidak. Dengan segera, Washington menyatakan “war on terror”, dan menjadikannya sebagai dalih untuk memperluas pangkalan militer dan hegemoninya di seluruh dunia.

Pada akhirnya pasukan militer AS punya alasan untuk menginvasi Irak yang kaya minyak pada tahun 2003. Dalam invasi tersebut, Washington melepaskan teror yang sungguh kejam dan menghasut warga Sunni Irak melawan Syiah Irak. Selain invasi, rekrutmen anggota baru Al Qaeda di Irak meningkat secara dramatis. Pada saat yang sama, CIA juga menjalankan operasinya mulai dari Uzbekistan sampai Xinjiang di Tiongkok bagian Barat, di mana ada aktivitas minyak dan gas utama Tiongkok. Mereka merekrut anggota Jihadis baru dengan ilusi pendirian kembali Khilafah Utsmaniyah dan melepaskan teror serta kekacauan di seluruh Asia Tengah yang kaya akan mineral, dan akhirnya membuka jalan bagi perusahaan Barat untuk memanfaatkannya.

Aksi bakar-diri Mohamed Bouazizi

Mulai dari Desember 2010, Washington sudah melepaskan ambisi ganas mereka dengan menyebarkan bentuk radikal politik Islam. Di Tunisia, Washington menggunakan aksi-bakar diri yang dilakukan oleh seorang pemuda Tunisia, Mohamed Bouazizi, serta elemen penting seperti CIA, Kementerian Luar Negeri AS, Yayasan Open Society milik George Soros, Freedom House, NED, dan NGO lainnya yang terhubung dengan CIA untuk melepaskan gelombang Revolusi Warna Arab atau disebut Arab Spring. CIA dan Kementerian Luar Negeri AS menerapkan strategi perubahan rezim dengan menggunakan Twitter, Facebook, dan aktivis muda (nan lugu) yang dilatih Washington beberapa bulan sebelumnya.1)

Ketika jutaan orang naif, mahasiswa, dan buruh yang jadi korban harapan palsu dilimpahkan di Tahrir Square di Kairo, di Tunisia, negara-negara Islam Afrika Utara dan Timur Tengah, maka pada saat itu lah Washington dan CIA menyokong “aset” mereka, yakni Ikhwanul Muslimin, untuk mendirikan rezim baru yang mereka percaya dapat dikendalikan.

Beberapa negara Islam yang kaya akan minyak berencana untuk merdeka dari bank-bank dan perusahaan migas Inggris dan Amerika. Mesir dengan Hosni Mubarak-nya, Libya dengan Khadafi-nya, dan Tunisia dengan Ben Ali-nya sempat bergabung untuk menciptakan Persatuan Bank Islam yang bebas bunga (bebas Riba) dan mata-uang berbasis emas, dan tentu saja hal ini sangat mengancam dominasi Dolar AS, Wall Street dan London. Apalagi Tiongkok sudah menginvestasikan milyaran Dolar ke Sudan, Irak, Libya dan tempat-tempat lain di Timur Tengah agar Washington tidak bisa memblokir pasokan minyak yang dibeli Tiongkok.

Bagaimanapun, mimpi buruk Washington dan sekutu NATO dan Tel Aviv-nya mulai muncul dalam “Arab Spring”. Ikhwanul Muslimin yang didukung CIA melalui Mohammed Morsi digulingkan oleh kudeta militer yang didukung rakyat Mesir dan didanai oleh Monarki Saudi. Sementara konflik Libya berubah menjadi konflik suku dan kekayaan minyaknya menyusut.

Mengapa Saudi ikut membantu dalam menggulingkan Mohammed Morsi?

Karena apabila Morsi dengan Ikhwanul Muslimin-nya menjadi penguasa di Mesir, maka Terusan Suez di semenanjung Sinai akan ditutup, dan kapal-kapal minyak dari Saudi ke Eropa tidak bisa lewat, dan terpaksa harus memutar benua Afrika menuju Eropa yang akan meningkatkan biaya ongkos kirim (ongkir). Sementara Qatar akan diuntungkan sebab Qatar memiliki cadangan gas bumi yang besar yang mampu menggoda Eropa hanya dengan membangun jalur pipa yang melewati Suriah. Apalagi Qatar adalah negara yang sangat dekat dengan Ikhwanul Muslimin, dan cadangan minyak Saudi kian menipis. Paham? Coba lihat peta di bawah ini untuk lebih jelasnya.

Garis biru adalah rute kapal minyak menuju Eropa melalui Terusan Suez. Sedangkan garis merah adalah rute jalur pipa gas dari Qatar menuju Eropa melewati Kuwait, Irak, Suriah dan Lebanon.
Ladang Minyak dan Gas Utama Qatar

Namun tampaknya para pembuat skenario di Washington – Pentagon, markas pusat CIA di Langley, Kementerian Luar Negeri AS dan Gedung Putih Obama – tidak punya rencana-B. Rencana-A mereka adalah melepaskan para Jihadis dan aksi teror yang dilatih dan dibiayai CIA. Hanya itu rencana mereka.

ISIS?

ISIS, sebuah organisasi teror yang mengatasnamakan Islam memperoleh kemenangan militer yang luar biasa pada musim semi 2014. Dilengkapi dengan senjata dan kendaraan modern, ISIS berhasil merebut kota Mosul yang strategis, Kirkuk, dan menyapu habis mulai dari perbatasan Suriah-Irak hingga perbatasan Suriah-Turki.

Organisasi ISIS menjadi trending topic ketika video YouTube pemenggalan seorang Jurnalis yang bernama James Foley. Dan peristiwa ini menciptakan gelombang besar aksi militer NATO yang dipimpin AS di Irak dan Suriah. Namun kemudian, ternyata video itu terbukti palsu secara forensik karena menggunakan aktor profesional.2)

ISIS, yang kemudian disebut IS, diciptakan sebagai proyek bersama CIA dan Mossad untuk menggabungkan tentara bayaran psikotik yang menyamar sebagai Jihadis Islam yang berkumpul dari seluruh dunia – Chechnya, Irak, Afghanistan, Arabi Saudi, dan bahkan dari provinsi Xinjiang – dalam sebuah operasi yang disebut oleh CIA sendiri sebagai Operasi Hornet’s Nest. Ketika beberapa ahli jurnalis Israel menyebut singkatan “ISIS” sebagai Israeli Secret Intelligence ServiceJihadis dengan cepat memproklamirkan nama baru di YouTube dengan nama Negara Islam (Islamic State) atau IS yang sepertinya sebagai upaya untuk menutupi kejanggalan.3)

Abu Bakr al-Baghdadi menunjuk dirinya sendiri sebagai pemimpin ISIS dan mengaku-ngaku “keturunan langsung” Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi wassalam, dan mengaku sebagai Khalifah semua Muslim di seluruh dunia.

Al Baghdadi, yang artinya “seseorang dari Baghdad”, yang mengaku keturunan Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi wassalam dan mengaku sebagai Khalifah, padahal itu semua hasil rekayasa CIA dan Mossad, dan didanai oleh Qatar dan negara Sunni lainnya, termasuk Turki-nya Erdogan, dan ini semua bertujuan untuk mengumpulkan banyak pasukan dari seluruh dunia.

Ada seseorang narasumber terpercaya yang dekat dengan milyarder Saudi dan mantan Perdana Menteri Lebanon Saad Hariri, dan dia mengatakan bahwa lampu hijau terakhir terkait rencana konflik Suriah diberikan dalam pertemuan rahasia Atlantic Council’s Energy Summit di Istanbul, Turki pada tanggal 22-23 November 2013. Atlantic Council merupakan salah satu lembaga think tank AS yang paling berpengaruh terkait kebijakan luar negeri AS dan NATO.

Narasumber tersebut juga mengatakan bahwa kunci utama dalam koordinasi aksi militer ISIS adalah Duta Besar AS untuk Turki Francis Ricciardone, “Sejauh yang saya tahu, tidak akan ada pergerakan tanpa Ricciardone” kata Hariri yang akrab dengan Narasumber tersebut.4)

Asal-usul ISIS dapat dilacak secara langsung ke proyek Mujahidin Afghan CIA tahun 1980-an, di mana CIA melatih “aset”-nya, Osama bin Laden, serta rekan Yordania-nya Abu Musab al-Zarqawi, dan mereka ini melancarkan operasi CIA terbesar dalam sejarah yang mengusir Tentara Merah Soviet keluar dari Afganistan.

Setelah tahun 1989, al-Zarqawi pindah ke Irak. Di sana dia ditugaskan oleh pengasuh CIA-nya untuk membentuk jaringan Al-Qaeda di Irak, bibit langsung lahirnya ISIS. Pertama, dia dan jaringannya melawan pemerintahan Partai Baath sekuler Saddam Hussein. Kemudian, setelah tahun 2003, Al Qaeda cabang Irak mencoba melakukan teror dengan melancarkan serangan terhadap pasukan AS yang ada di Irak, serta melakukan teror terhadap warga Syiah, demi pembenaran bagi pangkalan militer AS yang permanen di Irak. Untuk hal ini, mereka gagal ketika pemerintah Syiah Nouri al-Maliki memerintahkan Washington untuk memindahkan pasukan AS keluar dari Irak.

Akibatnya, dengan keluarnya Al Qaeda dari Irak, CIA dan Pentagon membuat mesin teror baru yang lebih besar. Tujuannya adalah untuk menciptakan prasyarat yang diperlukan untuk membawa pasukan militer AS kembali ke Irak, ke Suriah, Lebanon dan sekitarnya, dan untuk menyingkirkan Assad di Damaskus.

Para pejuang utama ISIS dilatih oleh CIA dan Komando Pasukan Khusus AS di sebuah kamp rahasia di Yordania pada tahun 2012, menurut informan Yordania dan sumber lainnya. Intelejen AS, Turki, dan Yordania menjalankan basis pelatihan untuk pemberontak Suriah di kota Safawi, wilayah utara Yordania, dekat perbatasan Suriah dan Irak. Arab Saudi dan Qatar, dua kerajaan Teluk terlibat dalam pendanaan perang melawan Presiden Suriah Assad, dan membiayai pelatihan ISIS di Yordania.5) Laporan lain juga mengatakan bahwa sebagian petempur ISIS juga dilatih di kamp rahasia di Libya serta di pangkalan NATO di Turki yang dekat dengan perbatasan Suriah.

Kontes geopolitik antara AS-Rusia dan semakin melebar melibatkan Tiongkok adalah tujuan akhir neo-konservatif terkemuka di CIA, Pentagon, dan Kementerian Luar Negeri AS. Pada 7 November 2015, Menteri Pertahanan Amerika Ash Carter menyampaikan pidato penting yang menyebut Tiongkok dan Rusia. Dia menyatakan, “Sikap provokatif Moskow dengan nuklirnya menimbulkan pertanyaan tentang komitmen pemimpin Rusia terhadap stabilitas strategis … Kami tidak berusaha menjadikan Rusia musuh. Tetapi jangan salah; Amerika Serikat akan membela kepentingannya, dan sekutunya, tatanan internasional yang berprinsip … ” Dia menambahkan, “Dalam menghadapi provokasi yang dilakukan Rusia dan peningkatan kekuatan Tiongkok, kita harus punya pendekatan inovatif untuk melindungi Amerika Serikat dan memperkuat tatanan internasional itu sendiri.” 6) Salah satu “Pendekatan inovatif” yang dimaksud adalah Terorisme Islam radikal.

Pada awal 1990-an, selama pembubaran Uni Soviet, CIA mengangkut ratusan Mujahidin berkebangsaan Saudi dan veteran perang rahasia Afghanistan tahun 1980-an untuk melawan Tentara Merah Soviet. Mujahidin ini dikirim ke Chechnya untuk mengacaukan Federasi Rusia yang baru didirikan. Tujuan mereka terutama untuk menyabotase jalur pipa minyak Rusia yang langsung dari Baku di Laut Kaspia sampai Rusia. James Baker III dan teman-temannya di Anglo-American Big Oil punya rencana lain. Rencana itu disebut pipa BTC (Baku–Tbilisi–Ceyhan), yang dimiliki oleh konsorsium minyak Inggris-AS, jalaur pipa yang melalui Tbilisi hingga Turki yang merupakan anggota NATO, tanpa perlu melewati wilayah Rusia.

Pada tahun 2014 setelah upaya berdarah yang gagal selama tiga tahun menggulingkan Bashar al-Assad, serangan teroris ISIS di Suriah dan Irak, dengan mudahnya para elang gundul neo-konservatif AS berdalih bahwa apa yang mereka lakukan adalah sebagai bentuk perang proksi melawan Rusia, Iran, dan Tiongkok yang menjadi sekutu strategis Bashar al-Assad di Suriah. Para penguasa Kerajaan Arab yang paranoid seperti Arab Saudi dan Qatar – dibantu oleh Presiden Turki Erdogan yang bermimpi mengembalikan Turki ke kejayaan Utsmaniyah yang telah hilang – melakukan pekerjaan kotor di Suriah untuk Washington dan Tel Aviv.

Pada satu tingkat, perang yang dilakukan ISIS adalah perang memperebutkan minyak, gas, dan saluran pipa demi mengontrol kekayaan minyak yang luas di Irak dan Suriah, serta untuk menolak dan mengabaikan jalur pipa gas Rusia South Stream dari Rusia ke Eropa melalui Ukraina. Pada tingkat yang lebih dalam, perang ISIS merupakan bagian dari strategi global yang lebih besar untuk mengalahkan satu-satunya perlawanan yang efektif terhadap penciptaan fasisme universal abad ke-21, kembali ke masa kelam Abad Pertengahan tetapi kali ini dalam skala dunia, “satu dunia” yang akan dikendalikan oleh keluarga Barat yang sangat kaya yang agendanya adalah kontrol penuh atas dunia dan pengurangan populasi global melalui rekayasa genetika, perang dan terorisme.

Pilihan rute jalur pipa gas South Stream

Perang Washington melawan Suriah dan perang yang diciptakan AS di Ukraina adalah dua front dalam satu perang. Perang melawan Rusia, dan pada saat yang sama, perang melawan Tiongkok. Kedua kekuatan Eurasia ini adalah negara-negara utama dari BRICS dan Organisasi Kerjasama Shanghai Eurasian, yang mewakili pusat gravitasi sebagai satu-satunya penyeimbang efektif atas barbarisme fasis global baru, sebuah barbarisme Pentagon yang disebut Full Spectrum Dominance dan oligarki Amerika David Rockefeller menyebutnya sebagai New World Order.

Akar Kemarahan Arab

Untuk memahami amarah para psikopat, Jihadis dan ISIS, kita harus menyelidiki akar sejarah mereka. Dimulai dari Perang Dunia Pertama, ke Perjanjian Sykes-Picot, dan ke akar sejarah kemarahan Arab. Jika kita kaji secara teliti, maka kita akan melihat kembali ke Mesir pada 1920-an dan terciptanya sekte Islam Sunni yang dikenal sebagai Ikhwanul Muslimin yang didirikan Hasan al-Banna. Dan pengkajian tersebut akan mengarah pada evolusi Ikhwanul Muslimin dan aliansi kotor mereka dengan berbagai intelijen non-Muslim, mulai dari MI6-Inggris sampai Heinrich Himmler dan SS Nazi, akhirnya, CIA yang dimulai pada tahun 1950-an.

Pada awal tahun 2015, ketika perang yang dilakukan Washington di Ukraina tersendat, dan ketika Washington kalah dalam perang di Suriah, dan ketika agenda Kekaisaran Islam Utsmaniyah baru di Turki melalui organisasi Jamaah Fethullah Gulen menghadapi ancaman eksistensi dari mantan sekutunya, Presiden Turki Erdogan, maka semakin jelas lah kalau taktik yang dilakukan Washington menggunakan Islam fundamentalis politik telah gagal mengamankan hegemoni global Amerika yang runtuh di mana-mana.

Para oligarki Amerika yang mengendalikan Washington melalui kelompok pemikir berpengaruh dan media utama mereka — nama-nama seperti Gates, Rockefeller, Soros, dan Bush, keluarga yang memiliki kompleks industri militer Amerika — menjadi putus asa. Dalam keputusasaan mereka yang semakin besar, mereka mengancam “perang dunia” baru, menggunakan musuh lama mereka, Rusia, sebagai alasannya. Secara harfiah, seperti pepatah kuno yang diungkapkan Euripides, “Mereka yang ingin dihancurkan para dewa pertama-tama akan dibuat gila.”Pada minggu-minggu awal tahun 2015, negara Adikuasa Tunggal, Hegemon global, para Oligarki Amerika tidak hanya kalah, tetapi juga menjadi gila. Dunia mulai lepas dari genggaman mereka.

 

Catatan Admin:

  • Tulisan ini diambil dari buku yang berjudul, “The Lost Hegemon; Whom the Gods would Destroy” yang ditulis oleh F. William Engdahl yang merupakan peneliti ekonomi, sejarawan, dan jurnalis freelance. Namun, ada beberapa kata atau kalimat yang ditambah oleh admin agar mudah dipahami oleh para pembaca.
  • Ketika mengambil atau mengutip segala materi baik dalam bentuk tulisan maupun hasil terjemahan dari website Eskatogi Islam ini, mohon masukkan tautan ke artikel asli.

Please share this post

Referensi   [ + ]

Terkait

Leave a Comment