Yerusalem dan Bani Israel dalam Al Qur’an

Download
  1. Tahun 1881 terjadi imigrasi Yahudi besar-besaran ke Palestina. Saat itu orang Yahudi kabur dari program pembantaian di Eropa Timur.
  2. Tahun 1896 jasad Fir’aun ditemukan. “Maka pada hari ini Kami selamatkan jasadmu (Fir’aun) agar engkau dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang setelahmu, tetapi kebanyakan manusia tidak mengindahkan tanda-tanda (kekua­saan) Kami” Q.S Yunus, 10:92. Tanda-tanda yang dimaksud adalah agenda zionis ini.
  3. Tahun 1897, Kongres Zionis Pertama diadakan dan menghasilkan gerakan politik zionisme yang ingin mendirikan Negara Israel di Palestina (Tanah Suci).
  4. Tahun 1904-1914 terjadi lagi imigrasi Yahudi besar-besaran ke Palestina setelah terjadinya program pembantaian Kishinev. Sekitar 40.000 orang Yahudi berpindah ke Palestina.
  5. Tahun 1914 Perang Dunia I terjadi. Tentu saja bukan suatu yang kebetulan, dan telah direncanakan.
  6. 2 November 1917, Menteri Luar Negeri Britania Raya, Arthur Balfour, mengeluarkan pernyataan yang dikenal sebagai Deklarasi Balfour, yaitu deklarasi yang mendukung pendirian negara Yahudi di tanah Palestina.
  7. Desember 1917 Britania Raya berhasil merebut sebagian kawasan Palestina.
  8. Tahun 1919-1923 terjadi lagi imigrasi 40.000 Yahudi ke Palestina.
  9. Tahun 1924-1929 terjadi lagi imigrasi 82.000 Yahudi ke Palestina.
  10. Tahun 1929-1939 ketika NAZI bangkit di Jerman. Terjadi lagi imigrasi Yahudi yang jauh lebih besar dari sebelumnya. Jumlah orang Yahudi di Palestina mencapai 450.000 orang pada tahun 1940.
  11. Tahun 1945, Britania Raya menarik diri atau lepas tangan dari sengketa Palestina dan menyerahkan permasalahan tersebut kepada PBB. PBB kemudian membagi Palestina menjadi dua bagian, satu negara Arab dan satunya lagi negara Yahudi. Yerusalem dijadikan sebagai kota Internasional, dengan kata lain kota yang bisa dimasuki oleh siapa pun.
  12. 14 Mei 1948 orang Yahudi mendirikan negara Israel dengan ibu kota Tel Aviv. 1 Mei 1949 negara Israel diakui.
  13. 6 Desember 2017, Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu bertemu di Gedung Putih. Dalam pertemuan itu, Trump mengumumkan bahwa Amerika Serikat mengakui Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel, dan akan memindahkan kedutaannya dari Tel Aviv ke Yerusalem. Keputusan kontroversi Trump ini memicu banyak aksi protes di penjuru dunia.
Previous Image
Next Image

info heading

info content


Pertanyaannya:

  1. Mengapa harus Yerusalem?
  2. Mengapa Inggris dan Amerika Serikat selalu mendukung agenda Israel? Mengapa Amerika Serikat yang mayoritas penduduknya beragama Kristen selalu mendukung Israel yang mayoritas penduduknya beragama Yahudi? Bukankah sejak dulu Yahudi dan Kristen selalu bermusuhan? Padahal orang Yahudi menganggap orang Kristen sebagai “kafir” karena menyembah Trinitas, bukan menyembah satu Tuhan. Sedangkan orang Kristen membenci Yahudi karena telah membunuh Yesus?
  3. Siapa arsitek yang merancang itu semua?

Untuk mengetahui jawabannya, pertama kali kita harus menuju Al-Qur’an, karena Al-Qur’an mampu menjelaskan “semua hal – segala sesuatu”.

… dan Kami turunkan kepadamu Kitab (Al-Qur’an) (untuk) menjelaskan segala sesuatu … Q.S An Nahl, 16:89

Kata Israel berasal dari nama Nabi Ya’qub (عليه السلام). Sejarah Bani Israel tidak lepas dari tiga sosok nabi, yakni Nabi Ibrahim (عليه السلام), Nabi Ishaq (عليه السلام), dan Nabi Ya’qub (عليه السلام). Bani Israel sendiri memiliki dua belas suku. Dua belas suku ini berasal dari dua belas putra Nabi Ya’qub (عليه السلام). Dua belas putra tersebut adalah Rubin, Simeon, Lawy, Yahudah, Zebulon, Yisakhar, Dan, Gad, Asyer, Naftali, Nabi Yusuf (عليه السلام), dan Bunyamin.

Ketika Nabi Yusuf (عليه السلام) menjadi elit negara atau bendaharawan di Mesir, kaum Yahudi hidup dengan sejahtera dan aman. Tapi, setelah Nabi Yusuf (عليه السلام) wafat, kaum Yahudi hidup sengsara apalagi di zamannya Fir’aun. Ketika kaum Yahudi ditindas terus-menerus oleh Fir’aun, Allah (سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى) mengutus seorang nabi, yakni Musa (عليه السلام) untuk menyelesaikan masalah antara Fir’aun dan kaum Yahudi.

Karena Fir’aun keras kepala dan makin kejam, Nabi Yusuf Alaihis Salam bersama kaum Yahudi kabur dari Mesir ke wilayah Timur, ke arah Palestina. Setelah sampai dan hidup beberapa waktu, Nabi Musa (عليه السلام) memerintahkan Bani Israel merebut suatu negeri yang ada di sana. Dari sini lah asal usul klaim Bani Israel kalau tanah Palestina telah dijanjikan Allah Subhanahu wa ta’ala untuk Bani Israel. Ketika diperintahkan, Bani Israel tidak berani, tidak bermental, dan sangat takut. Beberapa lama setelah wafatnya Nabi Musa (عليه السلام), Bani Israel berhasil menghancurkan negeri itu dan merebut tanahnya.

Setelah wafatnya Nabi Musa (عليه السلام), Bani Israel merubah ajaran kitab Taurat yang diturunkan melalui Nabi Musa (عليه السلام). Dan tak berapa lama, kaum yang ganas menyerang dan mereka terpaksa melarikan diri. Padahal jumlah Bani Israel jauh lebih banyak. Kemudian Bani Israel berdo’a dan meminta kepada Allah Subhanahu wa ta’ala agar diutus seorang pemimpin yang akan memimpin mereka merebut Tanah Suci itu kembali.

Beberapa tahun kemudian diutuslah Nabi Daud (عليه السلام) yang akan memimpin Bani Israel merebut kembali Tanah Suci. Lalu Nabi Daud (عليه السلام) mendirikan Kerajaan Israel. Ketika Nabi Daud (عليه السلام) wafat, tahta kerajaan diserahkan kepada anaknya, Nabi Sulaiman (عليه السلام). Di masa Nabi Sulaiman (عليه السلام) ini lah Bani Israel berada di era keemasan karena Kerajaan Israel saat itu menjadi negara superpower yang tak satupun dapat menandinginya. Zaman Emas.

“Dia (Sulaiman) berkata: ‘Ya Tuhanku, ampunilah aku dan anugerah­kanlah kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki oleh siapapun setelahku. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Pemberi’ ”Q.S Saad, 38:35

Setelah Nabi Sulaiman (عليه السلام) wafat, kerajaan Israel melemah dan terpuruk. Tahun 587 pasukan Babilonia yang dipimpin Nebukadnezar mengepung Yerusalem, kemudian membakar kota itu, membunuh penduduknya, menghancurkan Masjid yang dibangun Nabi Sulaiman (عليه السلام), dan membawa orang-orang terbaik dari umat Yahudi untuk dijadikan budak di Babilonia.

Salah satu sebab mereka dihukum demikian adalah karena mereka mengubah Taurat untuk menjadikan halal yang telah diharamkan Allah (سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى). Mereka menulis ulang Taurat sehingga menghalalkan tindakan mereka memberikan pinjaman uang dengan bunga kepada orang-orang non-Yahudi sementara tetap melarang hal tersebut kepada sesama umat Yahudi:

“Janganlah engkau meminjamkan dengan bunga kepada saudaramu (sesama Yahudi), baik uang maupun bahan makanan atau apa pun yang dapat dibungakan. Dari orang asing (bukan Yahudi) boleh engkau memungut bunga, tetapi dari saudaramu janganlah engkau memungut bunga ….”Ulangan - Deuteronomy, 23:19-20

Pada peristiwa kedua, mereka lagi-lagi diusir dari Tanah Suci karena mereka membunuh para Nabi (lihat al-Qur’an, al-Baqarah, 2:61). Mereka membunuh Zakariah (عليه السلام) di Masjid, dan anaknya, Yahya (John) as, dibunuh dengan tipu daya. Nabi Isa (Jesus) Alaihis Salam menyebutkan pembunuhan para Nabi dan mengutuk kejahatan yang kejam ini:

“Sebab itu hikmat Allah berkata: Aku akan mengutus kepada mereka Nabi-nabi dan Rasul-rasul dan sebagian dari antara Nabi-nabi dan Rasul-rasul itu akan mereka bunuh dan mereka aniaya, supaya dari angkatan ini dituntut darah semua Nabi yang telah tertumpah sejak dunia dijadikan, mulai dari darah Habil sampai kepada darah Zakariah yang telah dibunuh di antara mezbah dan Rumah Allah. Bahkan, Aku berkata kepadamu: Semuanya itu akan dituntut dari angkatan ini.”Lukas - Luke, 11:49-51

Kemudian Bani Israel meratapi kesedihan di sungai di Babi­lonia, bahwa zaman keemasan mereka telah hancur lebur, dan mer­eka diperbudak oleh Babilonia. Kemudian para Nabi (عليه السلام) (diantaranya Nabi Daniel) telah memberi kabar kepada Bani Israel kalau Allah (سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى) berjanji untuk mengutus seseorang yang akan menjadi Nabi mereka, yang dikenal sebagai ‘Al Masih’, dan akan memerintah dunia dari tahta kerajaan Nabi Daud (عليه السلام) dan Sulaiman (عليه السلام) di Yerusalem. Pada intinya, hal ini sama dengan nubuat kembalinya Masa Keemasan Sulaiman (عليه السلام).

“Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita; lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebutkan orang: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai. Besar kekuasaannya, dan damai sejahtera tidak akan berkesudahan di atas takhta Daud dan di dalam kerajaannya, karena ia mendasarkan dan mengokohkannya dengan keadilan dan kebenaran dari sekarang sampai selama-lamanya. Kecemburuan TUHAN semesta alam akan melakukan hal ini.”Yesaya - Isaiah, 9:5-6

Bani Israel merasa gembira mendengar berita tersebut. Nabi yang dijanjikan tersebut adalah Nabi Isa (عليه السلام) atau Al Masih putra Maryam. Saat Nabi Isa (عليه السلام) diutus dan mengaku sebagai Nabi, Bani Israel menolaknya (ada sebagian yang menerimanya), sebab mereka berpikiran bahwa – Naudzubillah min Dzalik – tidak mungkin Al Masih yang dijanjikan dilahirkan dari seorang wanita –maaf – pezina, dan mereka menganggap dia (Isa (عليه السلام)) adalah anak di luar nikah, Naudzubillah min Dzalik.

Mereka hingga detik ini masih beranggapan kalau Al Masih belum diutus, dan mereka dengan sombongnya berkata ‘kami telah membunuh Isa Putra Maryam, Rasul Allah …

“dan (Kami hukum juga) karena ucapan mereka, ‘Sesungguhnya kami telah membunuh Al Masih, Isa Putra Maryam, Rasul Allah, …’”Q.S An Nisaa’, 4:157

Saat mereka melihat dia ‘mati’ di tiang salib di depan mata mereka, mereka kemudian menyimpulkan bahwa dia adalah Al Masih palsu. Mereka yakin kalau dia tidak mungkin Al Masih asli sebab Taurat menyatakan siapapun yang mati disalib berarti orang yang ‘dikutuk’ oleh Allah (سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى). Padahal mereka sama sekali tidak membunuh (menyalib) Nabi Isa (عليه السلام), melainkan mereka telah ditipu oleh Allah (سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى).

Jadi, pada poin ini harus diingat baik-baik bahwa Bani Israel sampai saat ini masih menantikan Al Masih yang dijanjikan.

Setelah itu, Allah (سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى) kembali menghukum mereka untuk kedua kalinya. Kaisar Romawi Hadrian kemudian membangun kembali sebuah kota di dekat reruntuhan Yerusalem pada tahun 70 M, dan diberi nama Aelia Capitolina. Hadrian kemudian menempatkan patung-patung dewa dan kuil Romawi di Yerusalem, tapi bangsa Yahudi yang masih tersisa menentangnya, peristiwa ini disebut pemberontakan Bar Kokhba. Hadrian kemudian murka dan membasmi Yudaisme di Yerusalem, Romawi kembali mengusir kaum Yahudi. Selama ribuan tahun mereka berdiaspora ke seluruh dunia tanpa ada negeri yang mereka kuasai, dengan kata lain mereka hanya ‘menumpang’ di negeri orang.

Ketika Nabi terakhir diutus yaitu Nabi Muhammad (صلى الله عليه وسلم), Bani Israel tidak mampu mengenalinya sebab umat Yahudi dengan sombongnya beranggapan bahwa tidak mungkin Nabi dilahirkan dari keturunan selain Bani Israel, sementara dia (Nabi Muhammad (صلى الله عليه وسلم)) keturunan dari bangsa Arab.

Setelah beberapa bulan berlalu sejak kedatangan Nabi Muhammad (صلى الله عليه وسلم) di Madinah, umat Yahudi tidak hanya menolak kenabiannya dan menolak al-Qur’an sebagai Firman Allah, tapi juga berkonspirasi menghancurkan Islam. Pada saat itulah Allah (سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى) memerintahkan Nabi Muhammad (صلى الله عليه وسلم) merubah kiblat ke Mekkah (Ka’bah), yang sebelumnya menghadap ke Yerusalem. Perubahan kiblat ini mendapat kecaman dari umat Yahudi, ini penghinaan bagi mereka yang menolak Islam, sebab mereka menganggap Yerusalem sebagai pusat dunia. Bagaimanapun, yang berhak menentukan arah kiblat bukanlah mereka, melainkan Allah (سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى).

“Orang-orang yang kurang akal diantara manusia akan berkata, ‘Apakah yang memalingkan mereka (muslim) dari kiblat yang dahulu mereka (berkiblat) kepadanya?’ Katakanlah (Muhammad), ‘Milik Allahlah timur dan barat; Dia memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki ke jalan yang lurus’”Q.S Al Baqarah, 2:142

Pertanyaan tadi:

  1. Mengapa harus Yerusalem?
  2. Mengapa Inggris dan Amerika Serikat selalu mendukung agenda Israel? Mengapa Amerika Serikat yang mayoritas penduduknya beragama Kristen selalu mendukung Israel yang mayoritas penduduknya beragama Yahudi? Bukankah sejak dulu Yahudi dan Kristen selalu bermusuhan? Padahal orang Yahudi menganggap orang Kristen sebagai “kafir” karena menyembah Trinitas, bukan menyembah satu Tuhan. Sedangkan orang Kristen membenci Yahudi karena telah membunuh Yesus?

Siapa arsitek yang merancang itu semua?

Pertanyaan pertama sudah terjawab. Jawaban pertanyaan kedua silahkan baca Ya’juj dan Ma’juj (Gog and Magog). Untuk pertanyaan ketiga, silahkan baca Al Masih Ad Dajjal.

Proyek Kuil Sulaiman. Kuil ini hendak dibangun di atas Dome of Rock dan Masjid Al Aqsa, dengan kata lain Masjid Al Aqsa harus diruntuhkan. Proyek Kuil Sulaiman ini dibangun dibangun demi menyambut kedatangan sang pemimpin Bani Israel yang dijanjikan, Al Masih Ad Dajjal.

 

Sumber:

Sheikh Imran N. Hosein – Yerusalem dalam Al-Qur’an

Yerusalem dalam Al-Qur’an
Please share this post

Terkait