Al Ihsan, Spiritualisme Islam

Download

Oleh: Sheikh Imran N. Hosein

 

Para sahabat duduk dan berbicara satu sama lain, ketika, Rasul Allah, Muhammad (صلى الله عليه وسلم) datang dan bertanya, “Apa yang kalian bicarakan?” Mereka menjawab, “Kami membicarakan akhir zaman”. Beliau menjawab, Akhir jaman tidak akan terjadi sampai……” – beliau menyebutkan sepuluh tanda dimana kita dapat menghitungnya dengan jari tangan;

  1. Dajjal, Al Masih Palsu
  2. Yajuj dan Majuj
  3. Kembalinya anak Maryam, Isa (عليه السلام) (Yesus).
  4. Dukhan- Asap
  5. Daabatul Ard- Ard/bumi sering disebutkan (dalam Qur’an), dalam kontek akhir jaman, yaitu bukan sembarang bumi/tanah, melainkan Tanah Suci (Jerusalem). Makhluk kejam yang muncul di Tanah Suci.
  6. Matahari yang terbit dari Barat
  7. Tiga kejadian anjloknya tanah, satu Timur
  8. Satu di Barat,
  9. Satu di Arabia,
  10. Api yang keluar dari Yaman, yang akan menjadi tempat berkumpul manusia.

Wahyu Al-Qur’an yang Terakhir

Rasulullah (صلى الله عليه وسلم) baru saja menyelesaikan Ibadah Haji, Haji pertama dan terakhir. Beliau memberikan Khutbah terakhir (perpisahan) dan wahyu Allah (سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى) turun kepadanya:

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي… ﴿

﴾ …وَرَضِيتُ لَكُمُ الإِسْلاَمَ دِينًا

… Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. …Q.S Al Mā’idah, 5:3

Jadi kita mengira bahwa ini adalah wahyu terakhir Al-Qur’an. Tidak! Rasulullah (صلى الله عليه وسلم) kembali ke Madinah dengan sisa hidupnya 81 hari lagi. Kemudian dua peristiwa yang ‘sangat’ penting terjadi. Pertama, turun lagi wahyu Allah (سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى) kepada Nabi Muhammad (صلى الله عليه وسلم). Berdasarkan kesaksian Abdullah bin Abbas (رضي الله عنه), yang tercatat di dalam Sahih Bukhari, ayat terakhir yang diturunkan Allah (سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى) itu terdapat dalam Surat Al Baqarah, ayat 278-81, dimana Allah (سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى) berfirman tentang pembebasan seluruh umat manusia di dunia ini dari Riba dan bahwa Allah (سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى) serta Rasul-Nya Muhammad (صلى الله عليه وسلم) menyatakan perang kepada mereka-mereka yang melakukan perbuatan Riba.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ وَذَرُواْ مَا بَقِيَ ﴿

﴾ مِنَ الرِّبَا إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ

Hai orang-orang yang beriman, takutlah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman.Q.S Al Baqarah, 2:278

Mengapa Allah (سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى) menurunkan satu wahyu lagi setelah Dia berfirman, “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu”? Jawabannya adalah karena Riba memiliki bahaya yang teramat besar bagi umat manusia di dunia. Artinya, jangan acuhkan pembelajaran dan perhatian anda dari topik ini (Riba). Saya pernah tinggal di kota New York, Ibukota Riba Dunia, dimana saya mengajarkan perihal Riba, dan akhirnya saya mengetahui, bahwa saya adalah satu-satunya orang yang mengajarkan topik ini di New York. Ketika saya menjelaskan topik ini, saya begitu terkejut karena mengetahui bahwa sedikit sekali orang-orang yang mengetahui masalah Riba. Kini mari kita beralih ke topik ceramah kita.

Al Ihsan

Pada saat 81 hari sebelum wafat, Rasulullah (صلى الله عليه وسلم) sedang duduk bersama para sahabat di Masjid Kuba. Saat itu, suatu peristiwa yang tak terlupakan, aneh, misterius dan dramatis terjadi. Seorang laki-laki yang tak dikenal memasuki Masjid. Laki-laki itu berpakaian serba putih dengan rambut dan jenggot yang tebal dan hitam. Tidak ada satu orang pun yang mengenalnya, karena itu dia tidak mungkin berasal dari Madinah. Apakah dia seorang pengembara yang berasal dari luar kota Madinah?

Jika dia berasal dari luar kota Madinah, baik itu berjalan kaki, mengendarai unta atau kuda, pasti lah ada banyak debu yang menempel pada pakaian, rambut dan jenggotnya. Namun tidak ada satupun debu yang menempel pada tubuhnya. Jadi, siapa laki-laki itu?

Pada hari itu, Islam telah menguasai seluruh wilayah Arabia dan Nabi Muhammad (صلى الله عليه وسلم) adalah kepala negara dari seluruh Arabia. Oleh karena itu, para sahabat lebih mengetatkan keamanan dan keselamatan Rasulullah (صلى الله عليه وسلم) dibandingkan sebelum Islam menguasai Arabia. Orang yang tak dikenal ini berjalan begitu saja ke arah Rasulullah (صلى الله عليه وسلم) dan melewati kerumunan para sahabat. Orang asing itu duduk tepat di hadapan Rasulullah (صلى الله عليه وسلم) bahkan lutut orang asing itu menyentuh lututnya Rasulullah (صلى الله عليه وسلم). Tapi anehnya, tak ada satupun sahabat yang berusaha menghentikan orang asing tersebut.

Lelaki yang tak dikenal itu berada dalam jarak di mana dia dapat melukai Rasulullah (صلى الله عليه وسلم) kapan saja, jika dia memang berniat melakukannya. Tapi, semua orang yang ada di dalam Masjid itu tidak dapat bergerak, sehingga suasana saat itu menjadi tegang dan tidak dapat dilupakan. Kemudian orang asing itu mulai bertanya kepada Rasulullah (صلى الله عليه وسلم)? Dia bertanya, “‘Wahai Muhammad, apakah Islam itu?”

Siapa lelaki asing ini? Dari mana dia dapat hak untuk bertanya kepada Rasulullah (صلى الله عليه وسلم) dengan pertanyaan seperti itu? Dan yang lebih anehnya lagi, Rasulullah (صلى الله عليه وسلم) tunduk begitu saja kepada orang asing itu dan menjawab pertanyaan yang diajukannya. Para sahabat kebingungan melihat keadaan demikian, dan suasana menjadi semakin tegang.

Setelah Rasulullah (صلى الله عليه وسلم) menjawab pertanyaan tersebut, orang asing itu berkata, “Engkau benar.” Orang asing itu bertingkah seakan-akan dia lebih mengetahui dari Rasulullah (صلى الله عليه وسلم). Dia mengajukan lima pertanyaan dan dijawab semuanya oleh Rasulullah (صلى الله عليه وسلم). Setelah Rasulullah (صلى الله عليه وسلم) menjawab pertanyaan terakhir, orang asing itu langsung berdiri dan tanpa basa-basi meninggalkan Rasulullah (صلى الله عليه وسلم) dan melewati para sahabat begitu saja, seakan-akan para sahabat dianggap angin lalu. Tidak ada satupun sahabat yang bisa melupakan peristiwa ini. Mereka bertanya kepada Rasulullah (صلى الله عليه وسلم) tentang identitas orang asing itu dan Beliau menjawab bahwa dia adalah Jibril (عليه السلام) yang manampakkan dirinya sebagai manusia.

Dari Abdullah bin Umar bahwa Umar bin Khattab (رضي الله عنه) berkata: Dahulu kami pernah berada di sisi Rasulullah (صلى الله عليه وسلم), lalu datang seorang laki-laki yang bajunya sangat putih, rambutnya sangat hitam, tidak tampak padanya bekas-bekas perjalanan. Tidak seorangpun dari kami yang mengenalnya, hingga dia mendatangi Rasulullah (صلى الله عليه وسلم) lalu menyandarkan lututnya pada lutut Nabi (صلى الله عليه وسلم) seraya berkata, ‘Wahai Muhammad, apakah Islam itu?’ Nabi (صلى الله عليه وسلم) menjawab, ‘Islam adalah engkau menyembah Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan suatu apapun, mendirikan sholat, menunaikan zakat, dan berpuasa di bulan ramadhan’ dia berkata, ‘engkau benar. Apakah Iman itu?’ Nabi (صلى الله عليه وسلم) menjawab, ‘Engkau beriman kepada Allah, malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, Rasul-rasul-Nya, dan hari akhir’ Dia berkata, ‘engkau benar. Apa itu Ihsan?’ Nabi (صلى الله عليه وسلم) menjawab, ‘Engkau menyembah Allah seakan-akan engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak dapat melihat-Nya, sesungguhnya Dia melihatmu’ Ia berkata lagi, ‘Benar. Kapan terjadinya hari kiamat?’ Nabi menjawab, ‘Orang yang ditanya tidak lebih mengetahui daripada yang bertanya’ Dia bertanya, ‘lalu apa tanda-tandanya?’ Nabi (صلى الله عليه وسلم) menjawab, ‘Apabila seorang budak perempuan melahirkan anak majikannya. Orang yang tidak beralas kaki berlomba-lomba membangun gedung-gedung yang tinggi.’ Kemudian dia pergi. Nabi (صلى الله عليه وسلم) bersabda, ‘panggil dia kembali’. Kemudian para sahabat mencarinya dan tidak menemukannya. Lalu Rasulullah (صلى الله عليه وسلم) bersabda, “dia adalah Jibril yang datang kepada manusia untuk mengajarkan diin mereka’

Jibril (عليه السلام) pernah muncul dalam wujud manusia ketika bertemu dengan Maryam (عليه السلام), namun saat itu tidak ada orang yang melihatnya kecuali Maryam (عليه السلام), di mana ia berkata bahwa Maryam (عليه السلام) akan mendapatkan seorang putra. Maryam (عليه السلام) berkata, “Bagaimana akan ada bagiku seorang anak laki-laki, sedang tidak pernah seorang manusiapun menyentuhku dan aku bukan (pula) seorang pezina!” (Q.S Maryam, 19:20)

Namun pada peristiwa kali ini semua orang dapat melihatnya. Mengapa Allah (سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى) melakukan hal ini? Pasti ada alasan yang kuat mengapa Allah (سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى) mengirimkan malaikat-Nya dihadapan para sahabat dalam wujud manusia dengan cara yang sangat dramatis dan tidak dapat dilupakan ini. Pasti ada latar belakang yang sangat penting dalam lima pertanyaan yang diajukan dan lima jawaban yang diberikan.

Karena kedatangannya terjadi pada saat akhir kehidupan Nabi Muhammad (صلى الله عليه وسلم), barangkali ada hubungannya dengan tantangan-tantangan di dalam kehidupan umat Islam di akhir zaman, zamannya Dajjal.

  1. Pertanyaan pertama! Apa itu Islam?
  2. Pertanyaan kedua! Apa itu Iman?
  3. Pertanyaan ketiga! Apa itu Al Ihsan?
  4. Pertanyaan keempat! Kapan hari kiamat terjadi?
  5. Pertanyaan kelima! Apa tanda-tanda hari kiamat?

Seandainya pertanyaan pertama ditanyakan ketika Rasulullah (صلى الله عليه وسلم) masih berada di Mekah, sebelum Hijrah, maka jawabannya hanyalah, ‘Islam adalah pernyataan atau deklarasi bahwa tiada Tuhan selain Allah (سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى), dan Muhammad (صلى الله عليه وسلم) adalah utusan-Nya.’ Namun pertanyaan nomor satu ini ditanyakan setelah datangnya wahyu yang memerintahkan Muslim untuk berpuasa di Bulan Ramadhan; Zakat sebagai pajak wajib setiap Muslim yang dikumpulkan oleh negara (Darul Islam); setelah ‘pembebasan kota Mekkah’ dan juga setelah Nabi Muhammad (صلى الله عليه وسلم) selesai melaksanakan ibadah Haji. Oleh karena itu, maka jawabannya adalah, “Islam adalah deklarasi bahwa tiada Tuhan selain Allah (سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى), dan Muhammad (صلى الله عليه وسلم) adalah utusan-Nya; didirikannya Sholat …” Jika kita tidak sholat, maka kita bukanlah Muslim. Allah (سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى) berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ ﴿

﴾ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.Q.S Ali Imrān, 3:102

Janganlah wafat, kecuali dalam keadaan dan kondisi yang tunduk, taat dan patuh kepada kekuasaan Allah (سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى). Bukan pada kekuasaan negara sekuler modern. Islam adalah bahwa Muslim ‘wajib’ berpuasa di Bulan Ramadhan. Islam adalah kewajiban mengeluarkan Zakat ketika negara menerapkan dan melaksanakannya. Negara di mana ‘Amirul Mu’minīn’ menjadi pemimpinnya! Negara seperti itu lah yang mengumpulkan Zakat dan membagikannya. Islam adalah kewajiban melaksanakan Haji jika memang memiliki kemampuan untuk melakukannya. Inilah jawaban atas pertanyaan pertama.

Kemudian Jibril (عليه السلام) bertanya, “Apakah Iman itu?” Rasulullah (صلى الله عليه وسلم) menjawab, “Engkau beriman kepada Allah, malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, Rasul-rasul-Nya, dan hari akhir.”

Namun di dalam Al-Qur’an, Allah (سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى) telah mengajarkan kita sesuatu tentang penghuni gurun Arabia, yaitu Suku Badui Arab, yang mana mereka membuat pernyataan yang terlalu terburu-buru:

Kami telah beriman!

Allah (سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى) berfirman:

قُل لَّمْ تُؤْمِنُوا وَلَكِن قُولُوا أَسْلَمْنَا وَلَمَّا… ﴿

﴾ …يَدْخُلِ الْإِيمَانُ فِي قُلُوبِكُمْ

…Katakanlah: “Kamu belum beriman, tapi katakanlah ‘kami telah tunduk’, karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu;… Q.S Al-Hujarāt, 49:14

Jadi, pertanyaan pertama yang diajukan Jibril (عليه السلام) berada di mulut, dan kemudian harus dilaksanakan dalam kehidupan seorang Muslim. Pertanyaan kedua, jawabannya adalah bahwa Islam yang sudah ada di mulut harus berpindah dan masuk ke dalam hati, karena di situlah tempat Islam berada. Apa yang terjadi ketika iman masuk ke dalam hati?

Pertanyaan ketiga, ‘Apa itu Ihsan?’ Apa ada sesuatu setelah Iman?

Rasulullah (صلى الله عليه وسلم) menjawab, ‘Ihsan adalah:

… أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ …

… Engkau menyembah Allah seakan-akan engkau melihat-Nya. …

Engkau harus menyembah Allah (سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى): Engkau hidup untuk Allah (سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى), seakan-akan engkau melihat-Nya. Tapi, apakah kita bisa melihat Allah (سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى)?

Ketika Musa (عليه السلام) berada di puncak Gunung Sinai, dia berkata kepada Allah (سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى):

﴾…رَبِّ أَرِنِي أَنظُرْ إِلَيْكَ… ﴿

…“Ya Tuhanku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau”… Q.S Al A’rāf, 7:143

Allah (سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى) berfirman:

﴾…لَن تَرَانِي… ﴿

…Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku,… Q.S Al A’rāf, 7:143

Musa (عليه السلام) tidak akan bisa melihat Allah (سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى) dengan mata fisik. Tapi apa maksud “Engkau menyembah Allah seakan-akan engkau melihat-Nya”?

Para sahabat pernah bertanya kepada Rasulullah (صلى الله عليه وسلم),  “Wahai Rasulullah! Dapatkah kami melihat Allah (سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى) pada Hari Akhir nanti?” Rasulullah (صلى الله عليه وسلم) menjawab, “Apakah kamu kesulitan ketika melihat matahari di siang bolong?” Mereka berkata, “Tidak, kita dapat melihat matahari di siang hari.” Lalu Rasulullah (صلى الله عليه وسلم) bertanya, “Apakah kalian kesulitan melihat bulan ketika bulan purnama?” Mereka menjawab, “Tidak!” Rasulullah (صلى الله عليه وسلم) bersabda, “Begitulah kalian melihat Allah (سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى) di Hari Akhir.”

Allah (سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى) berfirman, “Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku,” sementara Rasulullah (صلى الله عليه وسلم) bersabda, “Engkau menyembah Allah seakan-akan engkau melihat-Nya”? Apa maksudnya?. Maksudnya adalah kita tidak bisa melihat Allah (سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى) dengan kedua mata ini (mata fisik manusia). Tapi dengan mata apa kita bisa melihat Allah (سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى)? Apakah kita punya mata lain selain mata yang ada di kepala kita? Al-Qur’an memberitahu kita bahwa hati bisa melihat.

Selamat datang di ‘spiritualitas’. Inilah tujuan mengapa anda menjadi Muslim. Apakah kita punya mata selain mata di kepala kita? Apakah kita dapat mendapatkan ilmu selain dari pengamatan dan observasi eksternal? Universitas di seluruh dunia mengatakan, “Tidak! Pengamatan eksternal adalah satu-satunya sumber ilmu pengetahuan.” Harvard, Princeton, Yale, MIT, Oxford sepakat dalam hal ini. Apakah mata di kepala kita ini adalah satu-satunya mata untuk melihat dunia? Apakah telinga di kepala kita adalah satu-satunya telinga untuk mendengar suara dunia? Al Qur’an mengatakan, “Tidak!” dan Al Qur’an memberikan kita epistimologi yang berbeda dari apa yang diyakini masyarakat tak ber-Tuhan di luar sana, yang menutupi logika mereka dengan mantel yang disebut ‘sekulerisme’.

أَفَلَمْ يَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَتَكُونَ لَهُمْ قُلُوبٌ ﴿

يَعْقِلُونَ بِهَا أَوْ آذَانٌ يَسْمَعُونَ بِهَا فَإِنَّهَا لَا تَعْمَى

﴾ الْأَبْصَارُ وَلَكِن تَعْمَى الْقُلُوبُ الَّتِي فِي الصُّدُورِ

maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada.Q.S Al Hajj, 22:46

Sekarang dengan hati yang hidup, kita akan dapat memahami apa yang tidak bisa dipahami para intelektual! Apa yang tidak bisa dipahami oleh rasionalitas! Apa yang tidak bisa dipahami dengan pengamatan eksternal!

Biarkan saya ceritakan sebuah hadits:

Kaum Yahudi hidup bersama umat Islam selama 1300 tahun ketika tidak ada yang bersedia membuka pintu untuk mereka. Di Inggris, mereka dulunya dilarang untuk hidup atau menetap. Mereka juga dipersekusi hampir di seluruh permukaan bumi. Dunia Islam membukakan pintu untuk mereka dan hidup bersama kita, dengan jaminan keamanan hidup dan harta yang kita berikan. Kita mengakui agama mereka. Kira membantu mereka dalam melaksanakan hukum agama mereka. Ini lah yang kita lakukan selama 1300 tahun. Setelah semua yang telah terjadi, Nabi Muhammad (صلى الله عليه وسلم) bersabda, ada dalam hadits Shahih Bukhari dan Shahih Muslim, dan ulama sepakat bahwa hadits ini memiliki derajat – mutafaqun alai. Jadi ini hadits yang sangat kuat. Beliau bersabda:

“Kalian akan memerangi Yahudi dan kalian akan membunuh mereka hingga batu berkata: ‘Hai Muslim, ini orang Yahudi, kemarilah lalu bunuhlah’.”Shahih Muslim, kitab 54: Fitnah dan tanda kiamat. Bab 1382: Tidak akan terjadi hari kiamat hingga ketika seseorang melewati kuburan kemudian ia mengucapkan

Ketika batu mulai berbicara, dengan telinga apa kita bisa mendengar? Akankah ini pertama kalinya batu berbicara? Tidak! Batu berbicara kepada Nabi Muhammad (صلى الله عليه وسلم) di masa hidupnya. Batu-batu itu mengucapkan salam kepada Beliau. Jika kita berada di sana saat itu, akankah kita juga bisa mendengarnya? Tidak! Beliau tidak mendengar dengan telinga ini (telinga fisik di kepala). Itu lah ketika hato hidup, beriman dan tunduk pada Otoritas Tinggi Allah (سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى), dan tidak tunduk pada otoritas negara, dan ini lah ketika hadi bisa mendengar. Jadi kinj kita tahu kalau batu bisa berbicara. Ini lah nubuat Nabi Muhammad (صلى الله عليه وسلم) yang sedang terpenuhi saat ini. Batu-batu hanya berbicara di Tanah Suci. Ketika batu mulai berbicara, tidak ada satupun yang bisa menghentikannya berbicara. Pada akhirnya, tentara Muslim akan menghancurkan Negara Israel. Inilah sabda Nabi Muhammad (صلى الله عليه وسلم). Kini mari kita kembali ke Surah Al Hajj:

أَفَلَمْ يَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَتَكُونَ لَهُمْ قُلُوبٌ ﴿

يَعْقِلُونَ بِهَا أَوْ آذَانٌ يَسْمَعُونَ بِهَا فَإِنَّهَا لَا تَعْمَى

﴾ الْأَبْصَارُ وَلَكِن تَعْمَى الْقُلُوبُ الَّتِي فِي الصُّدُورِ

maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada.Q.S Al Hajj, 22:46

Baca juga: Pengetahuan dan Diri Manusia

Inilah spiritualitas Islam. Dan sayangnya, sudah dilabeli dengan pengertian baru, oleh seseorang, di suatu tempat, di masa lalu. Pengertian baru itu adalah Tasawwuf. Kami sangat berharap pengertian baru ini tidak pernah muncul. Hidup dan tugas kami akan lebih mudah, karena Tasawwuf dan Al Ihsan memiliki arti yang sama. Allah (سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى) sendiri yang mengemukakannya kepada kita, Al Ihsan, dan seharusnya kita menggunakan pengertian yang diberikan Allah (سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى) di dalam Al Qur’an:

وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا ﴿

﴾ وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ

Dan orang-orang yang berjuang untuk mencapai (fīnā) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang Muhsiniin (yang berbuat Al Ihsan).Q.S Al Ankabūt, 29:69

Sehingga definisi Al Ihsan adalah:

Bahwa kamu menyembah (tunduk dan patuh) kepada Allah (سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى), seakan-akan kamu melihatNya dengan mata internalmu. Ini adalah sebuah peringatan, bahwa anda tidak akan mengerti dan memahami Al Qur’an dan Akhir Zaman jika anda tidak dapat melihat dengan hati anda. Anda tidak akan mengerti dan memahami serangan-serangan yang dilakukan Dajjal. Apa yang Allah (سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى) katakan terhadap orang-orang yang buta internalnya? Dia memiliki jenggot yang panjang, melakukan shalat tepat waktu, dan setia pada istrinya, namun mata internalnya buta. Apa yang Allah (سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى) katakan terhadap orang seperti ini?

Allah (سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى) berfirman di dalam Al Qur’an:

﴾…وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِّنَ الْجِنِّ وَالإِنسِ ﴿

Dan sungguh Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia …Q.S Al A’rāf 7:179

Mayoritas manusia dan jin akan dimasukkan ke dalam api neraka, karena mereka tidak berhasil melewati ujian di Akhir Zaman. Mengapa mereka dimasukkan ke api neraka?

لَهُمْ قُلُوبٌ لاَّ يَفْقَهُونَ بِهَا… ﴿

وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لاَّ يُبْصِرُونَ بِهَا

﴾ …وَلَهُمْ آذَانٌ لاَّ يَسْمَعُونَ بِهَا

… mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami, dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat, dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar. …Q.S Al A’rāf 7:179

Mereka adalah orang-orang yang internal (hati)nya buta dan kurang dari mobilisasi spiritual. Apa yang Allah (سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى) katakan tentang mereka?

أُوْلَـئِكَ كَالأَنْعَامِ… ﴿

﴾ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُوْلَـئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ

… Mereka itu bagaikan binatang ternak!

Tidak! Mereka bahkan lebih buruk lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.Q.S Al A’rāf 7:179

Untuk tujuan apa kita membutuhkan pandangan internal, sebuah kemampuan untuk mendengar dan memahami? Dengan kata lain, mengapa kita membutuhkan spiritualisme? Sebelum kita menjawab pertanyaan itu, kami akan menceritakan cerita yang lain.

Anda masih ingat Musa (عليه السلام)? Setelah menyeberangi Laut Merah, Musa (عليه السلام) dan Bani Israel telah berada di Gurun Sinai. Karena belum menetap mereka tidak dapat membangun Masjid sehingga mereka menggunakan tenda yang disebut Tabernakel (Tempat Ibadah Portabel Yahudi). Musa (عليه السلام) melakukan Khutbah di Tabernakel itu. Sebuah ceramah yang mengesankan. Seseorang datang kepadanya dan mengatakan, “Khutbahmu bagus sekali Musa, engkau pasti orang yang paling pintar di dunia!” Seharusnya Musa (عليه السلام) menjawab, “Alhamdulillah (segala pujian hanyalah kepada Allah (سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى)!)” Seharusnya Musa (عليه السلام) mengatakan, ‘Pengetahuanku ini dari Allah (سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى)!’ Seharusnya dia mengatakan:

﴾ وَفَوْقَ كُلِّ ذِي عِلْمٍ عَلِيمٌ… ﴿

… dan di atas tiap-tiap orang yang berpengetahuan itu ada lagi Yang Maha Mengetahui.Q.S Yusuf, 12:76

Dia seharusnya mengenal Allah (سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى) sebagai sumber dari segala ilmu. Namun dia tidak mengatakannya. Universitas Harvard, Yale, Princeton dan universitas lokal di tempat anda tidak mengatakannya demikian. [Untuk memberikan pelajaran kepada kita] Musa (عليه السلام) berkata, ‘Ya! Saya memang orang paling pintar di dunia ini.’ Musa (عليه السلام) mengatakan apa yang dikatakan oleh semua lulusan S3, ‘Ya! Saya memang orang paling pintar di dunia.’

Ketika anda melakukannya demikian, anda mensekulerisasi ilmu pengetahuan dan pendidikan. Anda mengeluarkan Allah (سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى), dari proses pembelajaran dan pemahaman. Ketika anda melakukan itu dan tidak mengakui Allah (سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى), sebagai sumber dari segala ilmu, Allah (سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى) akan menutup penglihatan interrnal anda. Sehingga Musa (عليه السلام) untuk sementara waktu menjadi buta internal, dan Allah (سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى), mengatakan kepadanya, “Ada hambaKu yang benama Khidr yang lebih pintar dari kamu Musa!” Musa (عليه السلام) menjawab, “Aku ingin bertemu dengannya.”

Jawaban Allah (سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى) ada dalam Surah Al Kahfi. Allah (سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى) memberikan Musa (عليه السلام) petunjuk untuk berjalan ke arah dimana dua lautan saling bertemu atau Majmaul Bahrain dan dia akan menemukan Khidr (عليه السلام). Imam Badawi, ahli tafsir Al Qur’an menafsirkannya dengan benar, dia mengatakan bahwa dua lautan yang bertemu adalah ‘lautan ilmu yang didapat secara internal atau pandangan intuisi spiritual’ dan ‘lautan ilmu yang didapat secara eksternal atau pengamatan eksternal/pengamatan ilmiah’. Ketika dua lautan ini bertemu menjadi satu di dalam diri seorang manusia, seperti di dalam diri guru saya, Maulana Fazlur Rahman Anshari (رحمه الله) [keturunan dari sahabat Rasulullah (صلى الله عليه وسلم) yang bernama Al Anshari yang rumahnya di Madinah menjadi tempat tinggal Rasulullah (عليه السلام)] dan juga berada di dalam diri gurunya yaitu Maulana Abdul Alim Siddik (رحمه الله) [keturunan dari Abu Bakar Siddik (رضي الله عنه)], maka anda akan mendapati orang yang terpelajar. Hanya orang-orang seperti mereka lah yang dapat membaca tanda-tanda dari Allah (عليه السلام) di Akhir Zaman. Lulusan Harvard tidak dapat memahaminya, oleh karena itu, ini lah fungsi dari spiritualisme.

Pertanyaan keempat: “Kapan terjadinya hari kiamat?” Rasulullah (صلى الله عليه وسلم) menjawab, “Orang yang ditanya tidak memiliki pengetahuan mengenai hal ini sama seperti orang orang yang menanyakannya.” Ini berarti bahwa hal ini bukanlah hal yang harus kita perhatikan karena hanya Allah (سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى) lah yang mengetahuinya. Ini juga berarti bahwa, mereka yang tidak beriman akan menanggapi hal ini dengan berbeda daripada orang-orang yang beriman.

Orang-orang yang beriman selalu beranggapan bahwa kiamat itu dekat, sedangkan yang tidak beriman selalu beranggapan bahwa kiamat itu jauh. Sehingga ada psikologi religius di dalam pertanyaan ini, sebuah psikologi religius yang sangat penting. Mindset dan tingkah laku orang-orang yang beriman berbeda dengan orang-orang yang tidak beriman.

Sekarang kita masuk ke pertanyaan yang kelima. “Apa tanda-tanda dari Hari Akhir?” Jawaban pertanyaan ini ada di awal bab ini. Semua jawaban mengenai hal ini memiliki hubungan dengan Dajjal, sehingga kunjungan Jibril (عليه السلام), memberikan kita (umat Islam) pesan yang sangat penting, bahwa anda tidak akan memahami Dajjal-Al Masih Palsu; bahwa anda tidak akan dapat memahami dunia di zamannya Dajjal-Al Masih Palsu, kecuali dan sampai anda diberkati untuk memiliki penglihatan spiritual. Rasulullah (صلى الله عليه وسلم) memberikan dua jawaban; dua tanda dari akhir zaman. Beliau berkata bahwa anda akan menyaksikan penggembala kambing yang bertelanjang kaki [ini berarti orang-orang intelektual yang memiliki pemikiran seperti penggembala kambing yang telanjang dan bertelanjang kaki] berlomba-lomba mendirikan gedung-gedung tinggi – dalam artian orang- orang pintar dan intelektual yang memiliki pemikiran seperti penggembala kambing yang miskin, di mana mereka mengukur keberhasilan dengan ketinggian gedung yang bisa mereka bangun. Seseorang tidak perlu pintar untuk mengetahui bahwa kemajuan itu tidak diukur dengan banyaknya gedung-gedung tinggi yang menghiasi langit.

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ… ﴿

﴾ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

…Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takut kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.Q.S Al Hujarāt. 49:13

Mungkin ada sekelompok orang yang hidup di rumah-rumah bambu, namun di dalam hati mereka, mereka memiliki rasa takut kepada Allah, sedangkan orang-orang yang tinggal di atas gedung-gedung tertinggi di dunia ini, yang menganggap diri mereka maju dan yang lainnya terbelakang, namun mereka tidak memiliki rasa takut kepada Allah (سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى) di dalam hati, menurut penggaris/ukuran yang digunakan oleh Al-Qur’an, orang yang tinggal di rumah bambu itu lebih mulia daripada orang yang tinggal di gedung tinggi. Penyalahgunaan prinsip-prinsip ekonomi juga terlibat dalam hal ini. Saat mereka membangun proyek gedung pencakar langit ini, orang yang bekerja untuk mereka, dibayar dengan gaji UMR dan bahkan kurang dari UMR. Apa itu gaji minimum? Gaji minimum adalah bungkus daun pisang yang menutupi perbudakan ekonomi yang datang bersama Riba. Pasar di dalam Islam adalah pasar yang bebas dan adil. Tidak ada harga tetap di dalam pasarnya Muhammad (صلى الله عليه وسلم)!

Seorang laki-laki (Yahudi) datang kepada Rasulullah (صلى الله عليه وسلم) dan berkata, “Wahai utusan Allah, harga-harga melambung tinggi, turunkan harga (tetapkanlah kebijakan pengendalian harga)!” Rasulullah (صلى الله عليه وسلم) menjawab, “Tidak!” Orang itu pergi dan kemudian datang lagi, sampai tiga kali, dan Rasulullah (صلى الله عليه وسلم) tetap menjawab, “Tidak!” dan pada kesempatan ketiga beliau menambahkan, “Kita bisa berdo’a kepada Allah (سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى), untuk mengatur (keadaan alam) supaya ketersediaan komoditas meningkat sehingga harga bisa turun.”

Kebijakan pengendalian harga saat ini diterapkan di seluruh dunia untuk komoditas primer dan gaji buruh, sehingga buruh dapat dikenakan gaji minimum. Gaji minimum yang mereka dapat didesain agar mereka tidak bisa mencukupi kebutuhan primer keluarga mereka, padahal kebutuhan itu Allah (سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى) ciptakan dengan melimpah. Jawaban yang selalu kita dengar adalah, “Kita tidak bisa membayar lebih, kita tidak memiliki uangnya!” Mereka memiliki uang untuk membuat gedung pencakar langit namun mereka tidak memiliki uang untuk membayar gaji buruh yang adil dengan cara menghapuskan semua kebijakan harga tetap dan menjaga pasar yang bebas dan adil beroperasi. Ketika pasar yang adil dan bebas berjalan, dan gaji buruh turun dengan drastis, maka para buruh atau budak-budak ini dapat melihat dengan mata kepala mereka sendiri, bahwa ini adalah perbudakan, dan mereka akan beramai-ramai menjatuhkan sistem eksploitatif ini. Ini adalah tanda pertama yang berhubungan dengan Riba.

Tanda yang kedua: “Apabila seorang budak perempuan melahirkan anak majikannya” Bagaimana bisa pembantu wanita melahirkan anak untuk majikan laki-laki apalagi majikan wanitanya? Dalam memahami hal ini, anda harus memiliki pandangan eksternal yang dipadukan dengan pandangan internal. Bayangkan seluruh umat manusia di bumi ini berada di sebuah kapal pesiar. Karena Riba, salah satu kelompok (minoritas) dari umat manusia berada di Kelas Pertama dengan Tiket Kelas Satu yang ‘permanen’ (bagi mereka dan seluruh keturunannya). Inilah yang dilakukan Riba (suatu cara dalam mendesain ekonomi sedemikian sehingga bangsawan dan aristokrat dapat hidup nyaman, kaya dan nikmat secara kekal, abadi dan selamanya – Riba adalah transaksi yang tidak bisa rugi atau untung terus selamanya). Ketika ekonomi dijalankan dengan Riba, yang kaya akan kaya permanen dan yang miskin akan miskin permanen dalam penjara kemiskinan. Kekayaan tidak lagi berputar di dalam roda ekonomi. Seperti itulah keadaan dunia saat ini dengan ekonomi kapitalisnya. Yang kaya kini menjadi kaya permanen dan semakin kaya, dan yang miskin kini miskin permanen dan semakin miskin dan sengsara, jumlah mereka terus bertambah secara eksponensial. Inilah Riba.

Salah satu bentuk riba adalah simpan pinjam dengan bunga. Allah (سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى) mengharamkannya. Rasulullah (صلى الله عليه وسلم) mengutuk empat orang yang terlibat dalam riba dan keempatnya sama besar dosanya. Mereka yang memakan Riba – simpan uang, dan dapat bunga. Mereka yang termakan Riba – pinjam uang dengan bunga untuk beli mobil, beli rumah, kuliah atau naik Haji. Mereka yang mencatat transaksi itu dan dua orang saksi.

Kembali ke kapal pesiar tadi, semua manusia ada di kapal itu, dan 10 sampai 15% minoritas berada di kelas satu dengan kenyamanan tak terhingga, seperti berada di surga saja, air minum jernih dan dingin, perawatan kesehatan termahal. “Kalau kita tidak membawanya ke rumah sakit, dia pasti mati!” Begitulah kira-kira perawatan kesehatan di Akhir Zaman.

Sedangkan mayoritas manusia lainnya berada di bawah geladak, menderita dan sengsara, hidup bersama tikus-tikus, meminum air kotor (air kemasan adalah air kotor yang di daur ulang), makan makanan berkimia dari benih-benih rekayasa ilmiah, minum susu dan makan daging dari hewan ternak yang hormonnya telah dimodifikasi. Sehingga wanita ini berada di sini, di bawah geladak, dari segala macam penilaian yang ada, dia adalah pembantu atau budak wanita.

Inilah wanita yang dimaksud oleh Rasulullah (صلى الله عليه وسلم). Ibu kita, saudara perempuan kita, dan anak kita ada di bawah geladak itu, karena inilah zaman Riba.

Budak wanita ini berada di bawah geladak, sedangkan yang berada di atas, di bagian kelas satu ada hal aneh yang menimpa wanita yang berada di sana. Sebuah filosofi feminisme baru telah merasuki dan menguasai mereka. Allah (سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى) mengajarkan kita dalam Surah Al Lail 92:1-3 , Allah (سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى) berfirman:

﴾ وَاللَّيْلِ إِذَا يَغْشَى ﴿

﴾ وَالنَّهَارِ إِذَا تَجَلَّى ﴿

﴾ وَمَا خَلَقَ الذَّكَرَ وَالْأُنثَى ﴿

Demi malam apabila menutupi (cahaya siang),

dan siang apabila terang benderang,

dan penciptaan laki-laki dan perempuan,

Q.S Al Lail, 92:1-3

Siang memiliki fungsinya sendiri dan malam juga memiliki fungsinya sendiri. Daya tarik (chemistry) antara siang dan malam akan terjadi jika siang dan malam menjalankan fungsi dan peranan mereka yang berbeda satu sama lain. Sebuah daya tarik menarik yang sangat kuat! Ketika siang mendekati malam anda akan melihat daya tarik itu pada warna langit saat matahari terbenam. Seakan-akan tidak sabar dan berlari kencang mengejar malam. Dan ketika waktu telah habis bagi siang yang telah melewati malam hari bersama malam (matahari berada di balik bumi), maka siang kemudian meninggalkan malam (pada peristiwa matahari terbit) di mana siang mengucapkan ‘selamat tinggal’ kepada malam. Lihatlah ke angkasa, anda akan tahu bahwa malam tidak mau ditinggalkan siang, malam menahan siang dan perlahan-lahan siangpun pergi.

Sebuah daya tarik yang sangat kuat sekali antara pria dan wanita ketika siang tetap menjadi siang dan malam tetap menjadi malam. Ketika siang melakukan fungsinya sebagai siang dan malam melakukan fungsinya sebagai malam, dan jika anda masih belum dapat memahaminya, Allah (سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى) menjelaskannya pada ayat selanjutnya.

﴾ إِنَّ سَعْيَكُمْ لَشَتَّى ﴿

sesungguhnya usaha (fungsi) kamu memang berbeda-beda.Q.S Al Lail, 92:4

Jika anda bermain-main dengan perbedaan fungsi ini, maka anda akan mendapatkan malapetaka. Zamannya Dajjal adalah zaman di mana kaum terakhir yang keluar bersama Dajjal adalah wanita, sehingga pria harus mengikat istrinya, saudara wanitanya, dan anak wanitanya di rumah agar tidak terkena cuci otak Dajjal. Memang apa inti dari Revolusi Feminisme atau kampanye Persamaan Gender? Supaya wanita tidak dibatasi dalam mengambil alih peranan dan fungsi pria, bahwa wanita memiliki kebebasan untuk memiliki peranan dan fungsi dari pria.

Jadi kini wanita melakukan apa yang dilakukan pria, melakukan fungsi dan peranan yang diciptakan untuk pria di angkatan darat, laut, udara, di perkantoran, dan juga di jalan – jalan sebagai buruh kasar. Apa yang terjadi ketika malam hendak menjadi siang? Yang pertama, wanita bekerja full time di luar rumah. Tidak selalu di dalam kantor yang kondusif dengan perkawinan. Ketika anda pergi kerja, anda berpakaian menarik dan berdandan agar anda menarik dan dihargai. Ada pria yang memiliki mata yang takut kepada Allah (سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى), namun ada juga sebagian dari mereka yang ‘buaya’. Sehingga istri anda digigit buaya di kantor atau anda yang menjadi buaya di kantor dan perceraian menyusul kemudian.

Hati pria dan wanita terluka dan tersakiti saat perceraian terjadi, namun yang menjadi korban utama dalam perceraian adalah anak-anak, hatinya sakit dan hidupnya juga sakit! Jutaan anak-anak Amerika dan Eropa menjadi korban perceraian dan jumlahnya selalu meningkat. Apa yang terjadi dengan anak-anak ini? Mereka tumbuh dan berkembang dengan perilaku yang menjunjung kekerasan sebagai ekspresi apa yang terjadi di dalam hati mereka.

Sehingga anda akan menemukan senjata tajam di sekolah (tawuran), mereka menggunakan narkoba untuk mengobati rasa sakit yang terlalu berat untuk mereka rasakan.

Mereka mengkonsumsi narkoba, dan ketika mereka memasuki masa puber, mereka mencari cinta yang tidak mereka temukan di rumah kepada teman dekatnya. Gadis 14 tahun melakukan dua kali aborsi dan mereka sebut itu kemajuan.

Kembali ke topik, anda akan memahami bagaimana budak wanita melahirkan anak bagi majikan wanitanya. Ketika malam hendak menjadi siang, wanita mengambil alih peranan dan fungsi pria dan mulai berpakaian seperti pria. Dia harus berperilaku seperti pria di kantor, seperti menaikkan volume suaranya, berjalan tegap dan gagah, dan dalam prosesnya dia menghancurkan sifat feminismenya sendiri. Allah (سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى) menerangkan sifat feminisme di dalam Al Qur’an. Musa (عليه السلام)  lari dari Mesir ke suatu tempat dan ada dua orang gadis berada di sana. Dua orang gadis itu mengambil air di sumur dan setelah pulang ayah mereka mengutus salah satu dari mereka untuk mengundang Musa (عليه السلام) datang ke rumah mereka untuk makan bersama. Allah (سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى) menjelaskan bagaimana dia enggan dan sungkan, dan tersipu malu ketika bertemu Musa (عليه السلام). Gadis ini benar-benar sebuah malam yang sesungguhnya, berjalan menunduk melihat ke tanah dan mengumpulkan segala kekuatan karena hendak bertemu seorang pria. Persamaan gender menghilangkan sifat feminim wanita, menghilangkan rasa sungkan dan malu, menghilangkan perasaan ‘menjaga kehormatan’ dan tingkah laku.

Apa yang terjadi ketika wanita kehilangan sifat feminimnya? Apa yang terjadi ketika siang tidak tertarik kepada malam? Bukan apa yang ‘akan’ terjadi tetapi apa yang ‘sudah’ terjadi saat ini? Siang tidak lagi menikah dengan malam, sehingga homoseksual dan lesbian adalah produk dari Persamaan Gender. Kita kembali lagi kepada topik kita.

Pembantu wanita dipinjam rahimnya untuk melahirkan bayi majikan wanitanya! Pembantu wanita di bawah dek kapal dan majikan wanita, yang sudah termakan Persamaan Gender berada di atas dek kapal, di kabin kelas satu. Ketika malam berusaha untuk menjadi siang, maka pada kenyataannya malam tidak akan menjadi malam. Sehingga wanita tidak hanya kehilangan sifat feminimnya namun juga kehilangan kesuburannya. Sehingga dia tidak bisa melahirkan anak. Ketika Persamaan Gender sudah mengakar, tingkat kelahiran menurun drastis (depopulasi). Sehingga pasangan suami istri yang berkarir datang ke klinik kesuburan untuk mendapatkan keturunan, karena sang istri telah kehilangan kesuburannya.

Menurunnya populasi manusia tidak hanya terjadi karena Persamaan Gender, alasan lainnya adalah karena pencemaran lingkungan. Pencemaran lingkungan berdampak pada pria.

Mengapa pria kehilangan rambut dan akhirnya botak? Badan wanita lebih rapuh terhadap pencemaran lingkungan dan polusi, sehingga dampaknya lebih banyak kepada wanita ketimbang pada pria.

Rasulullah (صلى الله عليه وسلم) juga menyebutkan salah satu tanda akhir zaman adalah bahwa seorang pria akan menafkahi 50 wanita. Beliau tidak mengatakan bahwa seorang pria akan menikahi 50 wanita. Apakah ada perubahan misterius pada sperma pria? Sehingga jumlah kelahiran bayi laki-laki menurun seiring dikonsumsinya makanan rekayasa genetik (makanan produk dari pabrik) dan banyaknya pencemaran lingkungan sampai nanti akhirnya seorang pria akan menafkahi 50 wanita.

Wanita kaya ini bepergian dengan tiket kelas satu namun dia tidak bisa hamil sedangkan wanita dengan tiket ekonomi yang berada di bawah dek tidak bisa mengikuti arus Persamaan Gender karena dia terlalu miskin untuk mendapatkan pendidikan tinggi sehingga rahim dia masih subur. Rahimnya kini disewakan dan menjadi pabrik di mana sperma dan ovum pasangan yang menyewanya melalui klinik kesuburan dapat dimasukkan ke dalam rahimnya. Budak wanita ini mengandung anak kelas satu di rahimnya dan selama 9 bulan dia akan diperlakukan seperti putri raja, makan makanan organik kelas satu dan meminum air murni yang bebas kimia, dan tidur di hotel bintang lima. Rasulullah (صلى الله عليه وسلم) menjawab pertanyaan Jibril (عليه السلام) 1400 tahun yang lalu bahwa anak kelas VIP dilahirkan oleh ibu kelas ekonomi. Inilah arti dari budak wanita yang melahirkan anak majikannya.

Dajjal adalah dalang dari ekonomi Riba, Revolusi Feminisme atau Persamaan Gender dan pencemaran lingkungan. Kelima pertanyaan tadi mengajak kita untuk menjadi Muslim sebenarnya atau ‘Muslim full time’ dengan penuh ikhlas dan tawakkal.

Kini hati dapat melihat. Mengetahui Sistem Moneter Internasional menggunakan penglihatan spiritual (internal) dan digabungkan dengan penglihatan eksternal (ilmu pengetahuan) akan memberitahukan anda, bahwa anda sekarang hidup di akhir zaman. Fungsi spiritualisme adalah bukan untuk dapat melakukan perjalanan metafisika ke dunia lain, atau mengharapkan kekayaan instan di dunia ini, maupun melakukan mukjizat dan hal-hal supranatural lainnya. Tujuan dari spiritualisme adalah memberikan Muslim sebuah kemampuan untuk melihat tanda-tanda Allah (سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى) di akhir zaman.

﴾ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَا ﴿

Jika engkau tidak dapat melihat-Nya, sesungguhnya Dia melihatmu

Selesai!

Baca juga: Sistem Moneter Internasional: Uang Kertas dan PetrodollarPengetahuan dan Diri Manusia

Tentang Penulis:

Tulisan ini diambil dari ceramah Sheikh Imran N. Hosein yang telah ditranskribkan, “Ihsaan – The Spiritual Essence of Islam. Beliau dilahirkan di Kepulauan Karibia, di Trinidad, pada tahun 1942 dari orang tua yang leluhurnya berasal dari India dan berpindah ke sana sebagai pekerja kontrak. Beliau adalah lulusan Aleemiyah Institute di Karachi dan telah menyelesaikan studi di berbagai institusi pendidikan tinggi termasuk the University of Karachi, the University of West Indies, Al-Azhar University, dan mendapat gelar master studi Hubungan Internasional di Swiss. Dia bekerja selama beberapa tahun sebagai petugas di Kementrian Luar Negeri pemerintah Trinidad and Tobago namun berhenti dari pekerjaan tersebut pada tahun 1985 untuk mendedikasikan hidupnya demi kepentingan Islam. Beliau tinggal di New York selama sepuluh tahun bekerja sebagai Direktur Studi Islam di Komite Gabungan Organisasi Muslim New York. Beliau memberikan kuliah tentang Islam di berbagai universitas, pendidikan tinggi, gereja, sinagog, Lembaga Pemasyarakatan, pertemuan komunitas, dll di Amerika Serikat dan Kanada. Beliau juga ikut serta mewakili Islam dalam sejumlah dialog antar agama dengan sarjana-sarjana Kristen dan Yahudi di AS. Beliau pernah menjadi Imam di Masjid Dar al-Qur‟an di Long Island, New York. Beliau juga pernah menjadi Imam sholat Jumat dan menyampaikan khotbah Jumat di masjid di markas Perserikatan Bangsa-Bangsa di Manhattan sebulan sekali selama sepuluh tahun berturut-turut.

Dia adalah mantan Rektor Aleemiyah Institute of Islamic Studies di Karachi, Pakistan, Direktur Penelitian dalam Kongres Dunia Muslim di Karachi, Pakistan, Direktur Institusi Islam untuk Pendidikan dan Penelitian di Miami, Florida, dan Direktur Da‟wah untuk Tanzeem-e-Islami Amerika Utara.

Dia sering melakukan tur keliling dunia untuk memberikan kuliah sejak lulus dari Aleemiyah Institute of Islamic Studies pada 1971 saat berusia 29 tahun. Dan dia juga telah menulis lebih dari selusin buku tentang Islam yang selalu diterima masyarakat dengan rasa hormat. Sesungguhnya, buku „Jerusalem dalam al-Qur‟an – Pandangan Islam tentang Takdir Jerusalem‟ menjadi internasional best-seller yang telah diterjemahkan dan diterbitkan dalam berbagai bahasa.

Selama tiga puluh empat tahun dia mendedikasikan diri demi Islam sejak lulus dari Aleemiyah Institute of Islamic Studies pada tahun 1971 sebagai lulusan yang mendapatkan “Dr. Ansari Gold Medal for High Merit” (Medali Emas Dr. Ansari sebagai Penghargaan Tinggi), tidak ada bukti bahwa kuliah dan ceramahnya pernah menyesatkan orang dalam aksi teroris. Apakah sarjana Islam ini mendapat petunjuk yang benar atau sesat, adalah hal yang ditentukan oleh orang-orang Muslim yang dengan ikhlas dan sungguh-sungguh mengikuti petunjuk al-Qur’an dan Sunah Nabi Muhammad (صلى الله عليه وسلم). Hal tersebut tidak bisa ditentukan oleh mereka yang non-Muslim atau orang-orang Muslim yang melanggar perintah Tuhan dalam al-Qur’an (al-Maidah, 5:51) yang melarang umat Muslim bersahabat dan beraliansi dengan aliansi Kristen-Yahudi (Gerakan Zionis, Inggris-AS-NATO-Israel) yang sekarang menguasai dunia.

 

  • Ketika mengambil atau mengutip segala materi baik dalam bentuk tulisan maupun hasil terjemahan dari website Eskatogi Islam ini, mohon masukkan tautan ke artikel asli.
Please share this post

Terkait

Leave a Comment