Bagian I: Konteks Teoretis

Download

Sebelumnya baca: (Pendahuluan) Hybrid Wars: Pendekatan Adaptif Tidak Langsung untuk Perubahan Rezim

1. Konteks Geopolitik

Kebijakan luar negeri Amerika Serikat terhadap Rusia di zaman sekarang lahir dari teori geopolitik. Dan geopolitik menjadi alasan utama dalam pembentukan kebijakan kedua negara tersebut, di mana Rusia berada di belahan bumi yang berlawanan dengan Amerika Serikat. Kedua negara ini juga merupakan Kekuatan Besar yang mampu mempengaruhi negara lainnya, meskipun Amerika Serikat lebih berpengaruh. Dan pengaruh tersebut digunakan Amerika Serikat untuk membangun sebuah pendekatan baru di sebagian besar wilayah Eurasia yang ditujukan untuk Rusia dan Kekuatan Besar lainnya, dan inilah strategi yang menjadi inti dari Hybrid Wars. Namun, untuk mengetahui inti dari strategi ini, terlebih dahulu kita perlu melakukan peninjauan yang lebih luas tentang pilar-pilar geopolitik. Tanpa memahami prinsip-prinsip teoretis yang digunakan untuk membuat kebijakan saat ini, kita tidak mungkin dapat memahami seberapa pentingnya teori baru dan agenda strategis Amerika Serikat.

1.1 Mahan dan Mackinder
Laksamana Muda Alfred Thayer Mahan

Alfred Thayer Mahan yang merupakan seorang perwira Angkatan Laut Amerika Serikat dianggap sebagai leluhur pemikiran geopolitik yang mempengaruhi dan memainkan peran penting dalam kebijakan Amerika saat ini. Dia menerbitkan “The Influence of Sea Power Upon History” pada tahun 1890 dan fokus pada pentingnya strategi angkatan laut dalam proyeksi pengaruh global.1) Konsep utama di balik karyanya tersebut adalah bahwa pengendalian strategis atas area tertentu di laut dapat mengontrol dan memiliki pengaruh di tempat lain. Konsepnya tersebut telah mempengaruhi angkatan laut di seluruh dunia, terutama kekuatan angkatan laut Amerika dalam merumuskan strategi globalnya.

Sir Halford John Mackinder Privy Council

Sebagai tanggapan atas risalah Mahan tersebut, Halford Mackinder menulis artikel yang berjudul “The Geographical Pivot of History” pada tahun 1904.2) Halford Mackinder sendiri adalah seorang berkebangsaan Inggris yang ahli dalam geografi, akademisi, dan polisi yang dianggap sebagai salah satu pendiri geopolitik dan geostrategi. Artikelnya fokus pada pengaruh kekuatan di wilayah daratan bumi, dan menegaskan bahwa kontrol atas ‘Heartland’ (yang ia identifikasi sebagai bagian dari Rusia dan Asia Tengah) adalah prasyarat yang diperlukan untuk mengendalikan “pulau dunia” Eurasia.

Saat itu Mackinder meyakini bahwa ketika Eropa memperluas kekuasaannya ke India, Afrika dan wilayah jajahan lainnya, Rusia (yang berbasis di Eropa Timur dan Asia Tengah) malah memperluas kekuasaannya ke arah selatan dam timur, dan mengorganisir hamparan luas yang memiliki sumber daya alam dan manusia yang melimpah. Dia memprediksi bahwa wilayah yang luas tersebut sesegera mungkin akan dibangun jaringan kereta api, sehingga wilayah tersebut akan mengalami peningkatan mobilitas dan jangkauan strategis untuk pertama kalinya dalam sejarah. Oleh karena itu, Mackinder mengidentifikasi Heartland sebagai inti politik di Eurasia. Dia menempatkan wilayah Jerman, Austria, Turki, Timur Tengah, India dan Cina – yang berbatasan dekat dengan kawasan inti – ke dalam ‘Inner Crescent’ yang mengelilingi Heartland atau negara inti.

Mackinder melihat bahwa baik itu aliansi Russo-German atau kekaisaran Sino-Japanese berhasil menaklukkan Rusia, maka mereka akan mampu bersaing memperebutkan Hagemoni Dunia. Selain itu, “laut terdepan akan menjadi sumber daya alam tambahan bagi benua yang sangat besar itu”, dan hal ini akan menciptakan kondisi geopolitik yang diperlukan dalam menghasilkan sebuah kekuatan besar yang sangat berkuasa baik di darat maupun di laut.

Sejak perang Rusia-Jepang tahun 1904-1905 sampai pendirian organisasi militer NATO tahun 1949, kebijakan luar negeri Inggris sangat jelas didasarkan pada analisis Mackinder. Kebijakan tersebut ditujukan untuk mencegah, dengan cara apapun, bersatunya kekuatan-kekuatan yang berpusat di Rusia yang mampu menandingi hegemoni global Inggris Raya.

Tahun 1919, Mackinder mengajukan diktum geopolitiknya untuk dimasukkan ke dalam sebuah tugas yang disiapkan untuk para perunding Inggris yang menghadiri pertemuan Versailles. Dia berpandangan bahwa Inggris harus memiliki strategi yang dapat mencegah, dengan cara apapun, bertemunya kepentingan negara-negara Eropa Timur – Polandia, Cekoslowakia, Austria-Hungaria – dan Rusia yang menjadi pusat ‘Heartland’ Eurasia. Diktum geopolitik Mackinder tersebut adalah:

“Siapa yang menguasai Eropa Timur akan menguasai Heartland; Siapa yang menguasai Heartland akan menguasai Pulau Dunia (Eurasia); Siapa yang menguasai Pulau Dunia akan menguasai Dunia.”3)

Apa yang penting di sini adalah bahwa kedua ahli geostrategis tersebut memberikan pandangan yang berbeda tentang bagaimana kekuasaan dikerahkan ke seluruh dunia. Meskipun demikian, dalam konteks tulisan ini, manfaat utama dari Mahan adalah dia telah mempengaruhi Mackinder, yang pada gilirannya memanfaatkan beberapa konsep kekuatan laut dalam teorinya tentang pulau dunia dan Heartland di Eurasia. Dikombinasikan dengan analisisnya tentang peran Eropa Timur, kontribusi teoretis Mackinder meningkatkan peran Rusia dalam kancah geopolitik global dan menjadikan Rusia sebagai target utama dari orang-orang yang ingin mendominasi dunia.

1.2 Prometheisme

Tahap pemikiran geopolitik selanjutnya juga berkaitan dengan Rusia, dan pemikiran geopolitik ini berasal dari pemimpin Polandia Josef Pilsudski dengan strategi Prometheismenya. Pilsudski percaya bahwa jika orang-orang non-Rusia yang hidup di Kekaisaran Rusia (dan selanjutnya Uni Soviet) dapat dipengaruhi secara eksternal untuk memberontak dan menentang pemerintah Uni Soviet, maka seluruh negara bagian dapat terpecah menjadi banyak entitas etnis yang dapat dieksploitasi oleh Polandia melalui sistem aliansi.4) Meskipun dia tidak berhasil mencapai tujuannya tersebut, namun Pilsudski memiliki pengaruh yang kuat terhadap agenda geopolitik yang menargetkan Rusia di masa selanjutnya. Dia merintis gagasan bahwa destabilisasi strategis di kawasan yang mengelilingi Rusia dapat merambat hingga ke inti Rusia, dan konsep ini dapat dilihat sebagai asal-usul gagasan Balkan Eurasia yang sangat berpengaruh dari rekan sekampungnya, Zbigniew Brzezinski.

1.3 The Rimland dan Shatterbelt

Tahun 1944 Nicholas Spykman kembali ke gagasan Inner Crescent yang dikemukakan oleh Mackinder dan mengembangkannya dengan mengganti namanya menjadi Rimland. Dia melihat wilayah ini sebagai suatu yang lebih penting daripada Heartland karena potensi industri dan tenaga kerjanya, serta warisan dari kekuatan revisionis yang agresif (Napoleon Perancis dan Jerman dalam dua Perang Dunia).5) Hal ini memperbaiki tesis Mackinder tentang Eropa Timur dan Heartland menjadi “Siapa yang menguasai Rimland akan menguasai Eurasia; Siapa yang menguasai Eurasia akan menguasai Dunia.”

Saul Cohen mengambil langkah lebih jauh lagi dengan melakukan perbandingan lintas wilayah negara-negara di sekitar Rimland untuk menciptakan apa yang disebutnya sebagai Shatterbelts.6) Dia mengartikan ini sebagai “kawasan yang besar dan strategis yang ditempati oleh sejumlah negara dan terjebak di antara konflik kepentingan dari Negara-negara Kekuatan Besar”, dan wilayah itu meliputi Sub-Sahara Afrika, Timur Tengah, dan Asia Tenggara. Karena karakteristik wilayah yang beragam, dia memperkirakan bahwa tiga kawasan ini lebih membenci terlibat konflik daripada di tempat-tempat lain di dunia.

1.4 Balkan Eurasia
Zbigniew Brzezinski

Zbigniew Brzezinski, mantan Penasihat Keamanan Nasional untuk Jimmy Carter dan bapak pendiri Mujahidin Palsu,7) menulis sebuah buku yang berjudul “The Grand Chessboard: American Primacy dan Imperatif Geostrategisnya” pada tahun 1997.8) Dalam bukunya yang terkenal itu, ia menguraikan bagaimana AS bisa mempertahankan dominasi unipolarnya di seluruh Eurasia, khususnya dengan memanfaatkan sesuatu yang ia sebut sebagai “Balkan Eurasia”. Dia mengartikannya sebagai berikut:

“Balkan Eurasia terdiri dari lingkaran lonjong (Eropa bagian tenggara, Asia Tengah, dan sebagian Asia Selatan, area Teluk Persia, dan Timur Tengah)… tidak hanya entitas politiknya yang tidak stabil, tetapi wilayah itu menggoda dan mengundang negara tetangga yang lebih kuat untuk berbuat kekacauan, masing-masing bertekad untuk menentang dominasi kawasan tersebut. Ini merupakan kombinasi lazim dalam kekosongan kekuasaan dan daya hisap yang membenarkan sebutan ‘Balkan Eurasia’”

Brzezinski pada dasarnya memperluas gagasan Rimland/Shatterbelt dan mencakup Republik bekas Soviet yang baru merdeka di Asia Tengah dan Kaukasus. Dan hal ini dapat menyulut api etnis, atau dia menyebutnya sebagai “ethnic cauldron”, tepat di depan pintu Rusia. Kemudian dia meminjam strategi Pilsudki tentang lingkaran destabilisasi strategis dan menerapkannya di Balkan Eurasia sebagai metode untuk melemahkan pusat Rusia dan mempertahankan hegemoni Amerika. Ini juga dibayangkan sebagai pencegahan atas kolusi (persekongkolan rahasia) kekuatan benua yang dapat mengancam Amerika dalam menguasai Eurasia.

Tak heran mengapa para separatis Islam pro-Barat memberontak tahun 1994 di Chechnya dan ingin merdeka dari Rusia setelah keruntuhan Uni Soviet. Perang Chechnya tersebut adalah upaya untuk melemahkan wilayah Rusia jika dilihat dari kacamata militer. Di Afganistan, Oktober 2001 Amerika memulai kampanye Perang Melawan Terorisme di negara itu setelah serangan 11 September. Bagaimanapun, hal tersebut merupakan upaya AS dalam mempertahankan hegemoninya di Balkan Eurasia.

1.5 Rangkuman Konteks Geopolitik

Konsep Balkan Eurasia dari Brzezinski merupakan puncak pemikiran geopolitik Amerika. Jika Mackinder membentuk istilah pulau dunia dan menempatkan Rusia sebagai Heartland-nya, Spykman dan Cohen menguraikan kerentanannya, dan Pilsudski secara inovatif untuk memecahnya, maka Brzezinski menggabungkan semua ajaran tersebut dalam mengidentifikasi imperatif geostrategis  yang membuat Amerika unggul. Dalam rangka untuk melemahkan Rusia secara permanen dan menguasai Heartland, maka Rusia harus menjadi target dalam metode destabilisasi Pilsudki dengan memilih daerah di dalam Shatterbelt.

Gagasan tersebut tidak memerlukan pertumbuhan separatisme di dalam Rusia itu sendiri seperti yang direncanakan Pilsudski (meskipun ini juga akan memberikan jalan untuk mencapai tujuan-tujuan Amerika), tetapi sebaliknya untuk mencakup semua gagasan  akan kekacauan di kawasan yang mengelilingi Rusia dan memaksimalkannya untuk tujuan strategis. Logikanya adalah jika wilayah yang mengelilingi Rusia berada dalam kondisi kacau dan tetap seperti itu (atau paling tidak dapat diisi dengan pemerintah yang anti-Rusia secara permanen, yang mana kondisi internalnya sangat tidak stabil), maka Rusia akan buyar dalam keseimbangannya dan tidak mampu menghalangi rencana Amerika untuk mendominasi Eurasia. Jika kekacauan semakin melebar dan mendekati daerah inti Rusia, maka itu akan lebih baik bagi Amerika.

Saat ini, karena dunia semakin tumbuh menjadi multipolar dan Rusia telah memperbaiki kemampuannya untuk mempertegas eksistensinya (begitu pula dengan Tiongkok dan Iran yang semakin kuat), maka Amerika Serikat harus menempuh metode destabilisasi secara tidak langsung. Kampanye Amerika “Shock and Awe” tahun 2003 di Irak atau Perang NATO di Libya tidak mungkin diterapkan di Kazakhstan dan Ukraina, karena keadaan internasional yang berubah dan biaya yang mereka tanggung sangat banyak. Bagaimanapun, yang bisa terjadi adalah kampanye sabotase geopolitik tidak langsung dengan kedok gerakan “pro-demokrasi” atau perang saudara yang didukung secara eksternal.

Sesuatu yang baru dalam pendekatan ini adalah kemudahan dalam membuat kericuhan dan menciptakan kekuatan sentripental yang dapat memecah belah masyarakat suatu negara yang ditargetkan. Katakanlah, untuk mencapai kesuksesan, tidak perlu menggulingkan suatu pemerintahan – dan yang harus terjadi adalah masyarakat jadi terpecah belah dan kericuhan dalam masyarakat dapat dipastikan terjadi. Dengan begitu, sebagaimana yang ditulis oleh Brzezinski, hal tersebut akan menciptakan kebuntuan geopolitik, dan pada akhirnya akan menjadi tantangan besar bagi negara yang ditargetkan secara tidak langsung (Rusia) untuk mengambil tindakan melewati perbatasan secara langsung ke wilayah yang tidak lagi stabil. Mau tidak mau negara yang ditargetkan secara tidak langsung akan menghadapi jalan buntu, dan menempatkan mereka ke dalam strategi bertahan. Sebagai contoh, Rusia tidak lagi bisa melakukan apa pun terhadap negara tetangganya, Ukraina yang telah dikendalikan AS, baik secara geopolitik, hubungan internasional, ekonomi, dll.

2. Teori Militer

Sekarang saatnya untuk menjelaskan sebuah teori militer tertentu yang menyokong peperangan tidak langsung. Penting untuk dipahami bagaimana dan mengapa para pembuat kebijakan Amerika menerapkan konsep ini agar kita memiliki pemahaman yang lebih baik tentang teori Hybrid War.

2.1 Peperangan Generasi Keempat

Fourth-generation warfare (4GW) atau Peperangan Generasi Keempat adalah konflik yang garisnya tidak jelas antara perang dan politik, pejuang dan rakyat sipil. Istilah ini digunakan pertama kali tahun 1989 oleh sebuah tim analis Amerika Serikat, termasuk seorang paleo-konservatif William S. Lind, dalam sebuah artikel di Marine Corps Gazette9)  untuk menggambarkan peperangan generasi baru yang lebih terdesentralisasi, lebih cair dan lebih asimetris dari perang sebelumnya.

Dalam istilah peperangan generasi modern, generasi keempat menandakan hilangnya monopoli negara-bangsa terhadap pasukan tempurnya, dan kembali ke mode konflik yang pada umumnya terjadi di zaman pra-modern. Apabila seseorang melihat banyaknya aktivitas aktor non-negara sejak berakhirnya Perang Dingin,10) prognosa Lind mungkin ada benarnya. Perang dengan tipe seperti ini juga sesuai dengan gaya Perang Non-Konvensional, yang artinya adalah kebangkitan perang tipe Non-Konvensional itu bisa dilihat sebagai konsekuensi langsung dari Perang Generasi Keempat. Lind juga memprediksi bahwa akan ada peningkatan pada aspek perang informasi dan operasi psikologi, yang secara sempurna terikat dengan modus operandi Revolusi Warna. Dia menulis:

“Operasi psikologi mungkin menjadi operasi dominan dan senjata strategis dalam bentuk intervensi media/informasi … Berita televisi mungkin menjadi senjata operasional yang sangat kuat daripada divisi lapis baja.”

Dengan demikian prakiraan Lind sangat jelas. Mereka memprediksi kemunculan Perang Non-Konvensional yang lebih populer serta kampanye informasi anti-pemerintah yang sangat masif. Dia juga menulis bahwa “perbedaan jelas antara ‘penduduk’ dan ‘militer’ mungkin hilang”, dan ini ternyata juga menjadi ciri khasnya. Secara khusus, nanti akan terlihat bagaimana penduduk sipil diajak untuk berperan secara de-facto sebagai militer selama Revolusi Warna dan bagaimana militer menggunakan dukungan rakyat selama Perang Non-Konvensional. Dengan cara ini, Hybrid Wars merupakan lambang dari Perang Generasi Keempat.

Ciri-ciri dan unsur peperangan generasi keempat adalah:

  • Berdampak sangat kompleks dan jangka panjang
  • Terorisme (taktik)
  • Menyerang kultur musuh secara langsung, termasuk genosida terhadap warga sipil
  • Bersifat transnasional, tidak mengenal medan perang yang pasti, tidak membedakan sipil dan militer, tidak mengenal masa perang dan gencatan senjata, serta tidak ada garis depan yang definitif
  • Perang psikologis yang sangat canggih, terutama melalui manipulasi media dan lawfare (perang hukum, yang terdiri dari kata law dan warfare)
  • Semua tekanan digunakan – politik, ekonomi, sosial dan militer
  • Terjadi dalam konflik yang berintensitas rendah, yang melibatkan aktor-aktor dari semua jaringan
  • Basis non-nasional atau transnasional – sangat terdesentralisasi
  • Melibatkan organisasi dan jaringan transnasional, nasional dan sub-nasional untuk menyampaikan pesan kepada publik suatu negara yang menjadi sasaran
  • Berukuran kecil, menyebarkan jaringan komunikasi dan dukungan keuangan
  • Informasi adalah unsur utama dalam setiap strategi
  • Secara strategis mematahkan keinginan atau membingungkan para pembuat keputusan
  • Non-kombatan jadi dilema taktis
  • Kurangnya hierarki
  • Menggunakan taktik pemberontakan sebagai taktik subversi, terorisme dan gerilya.
  • Melibatkan dua aktor atau lebih dengan kekuatan yang tidak seimbang dan mencakup spektrum perang yang luas

Beberapa generasi peperangan sebelumnya:

  • Generasi pertama: Perang linier front to front yang mengandalkan kekuatan fisik manusia. Lind menjelaskan bahwa Perang Generasi Pertama dimulai setalah Perdamaian Westfalen tahun 1648 yang mengakhiri Perang Tiga Puluh Tahun. Ciri-ciri: 1) Formal, tertib, dan rapi yang ditandai dengan kultur militer yang berbeda (seragam dan pangkat) dengan sipil, 2) Ditentukan oleh jumlah dan keahlian pasukan, 3) Linier. Contoh: Perang Napolen, dll
  • Generasi kedua: Perang linier generasi kedua yang sebagian besar mengandalkan tembakan meriam tidak langsung. Ciri-ciri: 1) Massed firepower, 2) Serangan yang terkendali secara terpusat, terperinci dan teratur bagi infanteri, tank dan artileri, 3) Artileri sebagai penakluk, kavaleri sebagai penyerang dan infanteri sebagai pengambil alih wilayah. Contoh: Perancis pada perang dunia pertama
  • Generasi ketiga: Perang dengan manuver, yang didasarkan atas daya tembak dan menghabiskan tenaga lawan. Ciri-ciri: 1) Mengutamakan kecepatan, spontanitas, kekuatan mental serta fisik pasukan, 2) Ketertiban menentukan hasil yang akan dicapai, 3) inisiatif lebih penting daripada ketaatan. Contoh: Blitzkrieg Jerman pada perang dunia kedua
2.2 Lima Cincin

Seorang Kolonel Angkatan Udara AS John Warden mencetuskan konsep strategis Lima Cincin (the Five Rings). Konsep ini menyatakan bahwa ada lima pusat gravitasi utama yang sama-sama memiliki kekuatan yang berlawanan.11) Setiap tingkat sistem atau “cincin” dianggap sebagai salah satu pusat gravitasi musuh. Maksud dari konsep lima cincin ini adalah untuk menyerang tiap-tiap cincin demi melumpuhkan kekuatannya. Untuk mengoptimalkan serangan, si penyerang harus menyerang cincin sebanyak mungkin dengan penekanan khusus terhadap inti atau pusat cincin, yaitu Leadership.  Hal ini akan menyebabkan kelumpuhan total pada sistem musuh.

Warden menulis bahwa musuh seperti sebuah sistem, artinya semua bagian saling terhubung hingga ke beberapa derajat. Semakin dekat serangan terhadap inti atau pusat cincin, semakin kuat pula serangannya. Misalnya, menyerang System Essentials, maka akan berefek pada semua cincin di bagian luarnya. Sebaliknya menyenyuh Fielded Military hanya akan membuat serangan terisolir di bagian cincin itu saja.

Konsep ini sangat penting dalam Perang Non-Konvensional dan Revolusi Warna, dua pilar Hybrid Wars. Apabila sudah sampai pada Perang Non-Konvensional, unit-unit tempur akan berusaha menyerang setiap cincin, tapi lebih fokus pada tiga pusat cincin (Population, Infrastructure dan System Essentials) demi efektivitas. Tentu saja Fielded Military dan Leadership juga ikut diserang.

Lima Cincin di dalam Revolusi Warna berbeda lagi, dan ada dua set cincin yang berbeda untuk setiap target: society (masyarakat) dan individu. Cincin society digunakan dalam Revolusi Warna apabila society atau suatu negara sudah jadi target destabilisasi. Set cincinnya seperti berikut:

Society

Tujuan diaktifkannya Revolusi Warna adalah untuk merebut kekuasaan dan menggulingkan kepemimpinan. Sangat efektif melaksanakannya, karena akan menggiring massa menjadi satu kerumunan yang besar (sebuah konsep yang akan dijelaskan di Bagian atau Seksi Tiga) dan menggerakkan kerumunan tersebut ke tempat institusi publik yang mewakili pemerintah dan membuat pemerintah kewalahan. Dengan demikian unsur-unsur pada cincin bagian luar akan bersatu (atau yang penting, menciptakan kesan demikian) dalam rangka untuk menyerang langsung inti cincin, dan memperdaya yang bagian cincin lainnya. Jika Military/Police datang untuk melindungi inti Leadership dan berhasil menggagalkan serangan, maka tahap selanjutnya adalah meluncurkan Perang Non-Konvensional, tak peduli jika dalam skala kecil seperti yang terjadi di Ukraina (tidak skala penuh seperti di Suriah).

National Elites adalah cincin terdalam ketiga karena mereka punya kekuatan untuk mempengaruhi media dan massa tapi biasanya tidak berefek pada militer ataupun kepolisian. Media nasional dan internasional punya berbagai tingkat kepentingan tergantung negara yang menjadi target, tapi keduanya punya efek terhadap populasi (massa). Media (international) yang anti-pemerintah dapat membuat pihak berwenang merasa tidak nyaman dan ragu-ragu membela diri dari upaya kudeta Revolusi Warna, tapi itu bukanlah faktor penentu dalam upaya penggulingan pemerintah.

Target Revolusi Warna yang kedua adalah individu, dan “gerakan” yang dibentuk akan berusaha untuk menggoreng isu untuk menarik simpati individu lain sebanyak mungkin sebelum terjadinya destabilisasi. Setiap set dalam cincin individu ini bisa berbeda-beda tergantung kultur dan demografi di negara yang ditargetkan Salah satu set cincin individu yang paling umum ada dalam kultur Barat, sbb:

Adult Individual (Western)

Dalam contoh di atas, keluarga adalah inti dari kehidupan suatu individu di Barat, jadi jika kampanye informasi psy-op (operasi psikologi) dapat menyasar sensitivitas dalam meyakinkan orang untuk bergabung ke dalam “gerakan” yang dibentuk, maka peluangnya akan meningkat. Demikian pula jika gerakan memikat perasaan patriotik tapi mayoritas populasi tidak memiliki perasaan yang kuat pada gagasan tersebut, maka tidak akan berhasil. Artinya adalah bahwa dalam setiap Revolusi Warna, yang harus pertama kali dilakukan adalah mengumpulkan data tentang demografi negara target dan kemudian membentuk atau menyesuaikan set cincinnya dan meletakkan unsur yang paling rentan pada posisi inti. Misalnya mayoritas populasi dalam suatu negara lebih rentan terhadap isu agama, maka Religion diletakkan pada posisi inti lingkaran cincin.

2.3 Pendekatan Tidak Langsung dan OODA Loop

Salah satu karakter Perang Generasi Keempat yang paling jelas adalah karakternya yang bersifat tidak langsung. Baik dengan perang asimetris ataupun operasi psikologi, target biasanya tidak diserang secara langsung. Semua konsep pendekatan tidak langsung disusun jauh sebelum munculnya Perang Generasi Keempat pada tahun 1954 oleh B. H. Liddell Hart. Dalam sebuah karya yang berjudul “The Strategy of Indirect Approach”, dia menulis tentang perlunya mendekati target melalui metode yang tak diduga-duga dan tidak langsung.12) Karyanya termasuk:

“Dalam strategi, babak yang paling lama cenderung menjadi arah terpendek. Semakin jelas kenyataannya bahwa pendekatan langsung terhadap objek mental seseorang, atau objek fisiknya, biasanya menghasilkan hasil yang negatif … perubahan keseimbangan psikologis dan fisik musuh merupakan langkah awal yang sangat penting dalam suksesnya upaya menggulingkan target (musuh) … Perubahan ini dihasilkan dengan cara pendekatan tidak langsung, disengaja atau tak disengaja yang bersifat strategis. Mungkin bentuknya bervariasi …”

Revolusi Warna adalah serangan tidak langsung terhadap pemerintah negara yang dijadikan target karena tidak ada kekuatan luar konvensional yang digunakan, dan hal yang sama juga berlaku pada Perang Non-Konvensional. Bukannya mengirim pasukan penghancur secara langsung ke dalam peperangan melawan negara atau militernya, Revolusi Warna dan Perang Non-Konvensional secara tidak langsung melancarkan perang dengan menyasar berbagai bagian Lima Cincin secara selektif. Hal ini membuat setiap elemen cincin menjadi kabur dan sulit diprediksi oleh target.

Ketidakpastian menjadi kelemahan bagi konsep OODA Loop John Boyd. Meskipun awalnya OODA Loop dikonseptualisasikan untuk membantu pilot pesawat tempur, penulis dan ahli strategi Robert Greene percaya bahwa Loop juga berlaku untuk semua bidang kehidupan.13) Karena itu, konsep OODA ini juga diterapkan oleh individu, perusahaan,  militer, kepolisian, dan bidang pemerintah lainnya. Gagasan OODA adalah bahwa keputusan dibuat setelah individu mengamati situasi, meninjau sendiri, memutuskan, dan kemudian bertindak (OODA: Observe, Orient, Decide, and Act). Ketidakpastian yang terkait dengan pendekatan tidak langsung mengganggu lingkaran OODA yang dimiliki target karena menciptakan kebingungan, sehingga menghambat kemampuan mereka untuk membuat keputusan yang tepat dan bertindak dengan benar. Revolusi Warna membuyarkan kemampuan polisi dan militer karena manifestasinya dirancang untuk muncul dalam keadaan tak terduga, dan Perang Konvensional diuntungkan dengan sifat seperti ini. Di sisi lain, ketika Revolusi Warna mencoba menarik individu untuk ikut serta di masa depan, maka Revolusi Warna memberikan pesan sesederhana mungkin untuk memaksimalkan serangan terhadap OODA Loop target.

Diagram OODA Loop
2.4 Teori Chaos (Khaos: Kekacauan/Kerusuhan)

Salah satu teori militer yang paling bisa diterapkan dalam Hybrid Wars adalah teori khaos. Steven Mann seorang ahli kebijakan luar negeri AS menulis sebuah artikel yang berjudul “Chaos Theory and Strategic Thought” pada tahun 1992.14) Bagaimanapun harus dikatakan bahwa pemahaman Mann akan khaos mungkin berbeda dari para pembaca. Dia memandang khaos sebagai sesuatu yang identik dengan “dinamika nonlinear” dan menerapkannya pada “sistem yang mana terdapat pergeseran besar di dalamnya” (misalnya masyarakat dan peperangan). Meskipun khaos tampak tidak teratur, Mann berpendapat bahwa sekali-kali khaos dapat dilihat memiliki kemiripan urutan pola di antara beberapa khaos yang terjadi di dunia, terutama dalam “sistem lemah yang rentan terhadap khaos”.

Steven Mann

Dia berteori bahwa khaos tergantung pada beberapa variabel awal, dan juga dia berpendapat bahwa “sekali kita sampai pada deskripsi akurat akan lingkungan kita, kita berada dalam posisi menciptakan strategi yang menguntungkan kepentingan kita.” Variabel-variabelnya adalah:

  • Bentuk awal dari sistem
  • Struktur dasar dari sistem
  • Perpaduan di antara para aktor
  • Energi konflik dari masing-masing aktor.

Variabel-variabel ini sama-sama diterapkan dalam Revolusi Warna dan Perang Non-Konvensional. Sebagai contoh, bentuk awal situasi sosial dalam negara yang ditargetkan untuk Revolusi Warna sama pentingnya dengan bentuk awal situasi fisik, militer dan infrastruktur untuk Perang Non-Konvensional. Hal yang sama berlaku untuk dua variabel lainnya.

Hal yang paling menarik adalah ketika khaos sampai pada variabel terakhir, yakni energi konflik dari masing-masing aktor. Mann menulis bahwa “untuk merubah energi konflik penduduk negara yang ditargetkan – untuk mengurangi atau mengarahkannya dengan cara yang menguntungkan tujuan keamanan nasional kita – kita harus merubah software-nya. Seperti yang ditunjukkan oleh para hacker, cara yang paling agresif untuk merubah software-nya adalah dengan sebuah ‘virus’, dan ideologi apa yang bisa berperan sebagai virus dalam software yang dimiliki manusia?” Meskipun dia mengacu pada apa yang dia sebut sebagai “pluralisme demokratis dan mengutamakan hak asasi manusia” versi Amerika, namun hal itu berlaku dalam banyak konteks.

Sederhananya, Revolusi Warna dapat menyesuaikan pesan yang dibuat dalam menciptakan ‘virus’ khususnya sendiri, tergantung pada peradaban/kultur dan cara terbaik dalam menembus Lima Cincin kondisi sosial masyarakat dalam negara yang ditargetkan. Virus yang “menginfeksi” setiap individu akan bekerja untuk merubah sentimen politik mereka, dan sekali virus itu mendapati satu korban, maka individu tersebut akan “menyebarkan” ide-ide barunya secara aktif ke yang lain, yang dapat mengarah ke “pengaruh politik”. Hal ini akan dibahas lebih lanjut pada Bagian/Seksi Tiga dan penciptaan “kerumunan” via perang jaringan (sosial), tapi setidaknya pada saat ini penting untuk menyebutkan segi strategis karena relevansinya.

Penyatuan prinsip-prinsip khaos ke dalam Hybrid Wars merupakan aspek yang menentukan dari Perang Generasi Keempat. Selain itu, karena sifat nonlinier, variabel-variabel khaos sangat erat hubungannya dengan sifat yang tidak langsung dan membuat target (pada awalnya) tidak memiliki kemampuan dalam memprediksi, membolak-balikkan OODA Loop seperti yang dibahas sebelumnya. Pada tingkat geopolitik, khaos telah menyokong konsep Balkan Eurasia dari Brzezinski, sehingga dapat dilihat bahwa khaos memiliki efek dalam Hubungan Internasional serta sosiologi dan ilmu militer. Hal ini membuat khaos jadi serba guna dan sangat memperluas wilayah penerapannya.

Ketika khaos dilancarkan dalam Hubungan Internasional sebagai bagian dari strategi yang lebih besar, maka khaos dapat dikatakan sebagai khaos yang “konstruktif”15), “kreatif”16), atau “terkendali”17). Bentuk khaos seperti ini telah digunakan untuk menggambarkan peristiwa Arab Spring (intinya menjadi panggung Revolusi Warna, seperti yang dijabarkan dalam PowerPoint di Konferensi Moskow tahun 2014 tentang Keamanan Nasional18)) dan destabilisasi Suriah dan Irak yang digerakkan oleh pihak luar dan aktor non-negara. Pada intinya, Hybrid Wars adalah khaos yang dikendalikan. Dimulai dari virus yang membolak-balikkan sistem sosial negara yang ditargetkan, dan jika kerumunan terbentuk (seperti kelompok anti-pemerintah yang berkumpul) dan garda depan gadungan Perang Non-Konvensional (misalnya gerakan nasionalis sayap Ukraina yang disebut sebagai Pravy Sector/Right Sector) tidak dapat merebut kekuasaan secara paksa atau mengintimidasi pemerintah untuk mundur, maka Perang Non-Konvensional dapat dimulai. Tahap terakhir, mulainya Perang Non-Konvensional merupakan kontribusi pelengkap baru bagi Revolusi Warna yang menciptakan Hybrid Wars. Hal ini dikaji dari kegagalan Revolusi Warna di Belarus, Uzbekistan, dan tempat lainnya di mana upaya kudeta dimulai tanpa perencanaan Perang Non-Konvensional. Dibungkus dalam satu paket (seperti yang terlihat di Suriah dan pada tingkat tertentu di Ukraina), kombinasi Revolusi Warna dengan Perang Non-Konvensional (Hybrid Wars) adalah khaos yang sistemik.

2.5 Lead From Behind

Seperti yang dijelaskan pada pendahuluan sebelumnya, batasan-batasan tertentu di dunia internasional menghalangi gerak Amerika Serikat dalam menerapkan kekuatan di dunia. Sebagai contoh, kebangkitan Rusia dan paritas nuklirnya dengan AS membuat Pentagon tidak dapat meluncurkan invasi regime change begitu saja di Ukraina dan Kazakhstan. AS memformulasikan kebijakan Lead From Behind untuk mengatasi masalah tersebut. Kebijakan ini didefinisikan sebagai “bantuan militer AS secara hati-hati yang mana pihak lain memainkan terompetnya”19) Ini adalah strategi perang baru bagi AS, yang mana AS tidak mau terlibat aktivitas militer secara langsung. Hal ini tergantung pada sekutunya di kawasan yang digunakan sebagai proksi untuk tujuan geostrategis dan geopolitik AS ke depannya melalui perhitungan asimetris Perang Generasi Keempat. Meskipun awalnya dipahami untuk menggambarkan posisi Amerika yang berhubungan dengan Perancis dan Inggris dalam Perang Libya, namun Polandia dan Turki juga dapat digambarkan sebagai sekutu Lead From Behind dalam destabilisasi Ukraina dan Suriah.20) Di saat Perancis dan Inggris terlibat langsung dalam perang konvensional di Libya, sementara Polandia dan Turki melakukan pendekatan Perang Generasi Keempat, karena sensitivitas negara (AS dan sekutunya) yang mereka bantu dalam destabilisasi negara target. Sebagai argumentasi dalam membuktikan teori Hybrid Wars, selanjutnya Lead From Behind harus diartikan sebagai pendekatan Perang Generasi Keempat dari Polandia dan Turki.

Zbigniew Brzezinski di Afghanistan

Strategi regime change konvensional (di Panama, Afghanistan, Irak) dapat terjadi di dunia unipolar, namun di saat unipolar memudar, AS terpaksa mengaktifkan kembali pola Lead From Behind yang pertama kali dimainkan selama Perang Soviet-Afganistan. Indikasi pertama kalau AS menggunakan strategi ini adalah di saat Perang Libya yang dimulai tahun 2011. Selanjutnya disusul oleh pidato terakhir Menteri Pertahanan AS Robert Gates, di mana dia memohon pada sekutu NATO untuk bertindak lebih banyak membantu AS dalam mengatasi tantangan global.21) Dengan demikian sudah menjadi sangat jelas kalau AS tidak lagi sesemangat “going it alone22) seperti sebelumnya, atau tidak lagi memberikan ultimatum “anda bersama kami atau melawan kami.”23)

Wilayah Ukraina dan Polandia yang berbatasan langsung

Tanda-tanda kalau kekuatan Amerika makin menurun dibandingkan Kekuatan Besar lainnya diperlihatkan sendiri oleh Dewan Intelijen Nasional (NIC: pusat pemikiran jangka menengah dan jangka panjang dalam komunitas intelijen Amerika Serikat) pada akhir tahun 2012. Dalam terbitannya “Global Trends 203024), tertulis tentang bagaimana AS akan menjadi “pertama di antara yang sederajat” karena “‘momen unipolar’ telah berakhir, dan ‘Pax Americana’ – era kekuasaan Amerika dalam politik internasional yang dimulai tahun 1945 – segera melemah.”25) Jelas bahwa di bawah kondisi yang kompetitif seperti itu, unilateralisme yang agresif akan sulit diterapkan tanpa risiko konsekuensi kolateral. Akibatnya, AS terpaksa menambahkan penerapan strategi Lead From Behind ke dalam agenda utama militernya.

Wilayah Suriah dan Turki yang berbatasan langsung

Terakhir, Presiden Obama menerapkan pola Lead From Behind ke dalam kebijakannya ketika dia berbicara di West Point pada akhir Mei 2014. Dalam pidatonya, dia mengatakan bahwa “Amerika memimpin di panggung dunia … tapi militer AS tidak bisa bertindak sendirian – atau bahkan terutama – komponen kepemimpinan kita dalam setiap hal. Hanya karena kita punya palu yang terbaik bukan berarti setiap masalah sama dengan sebuah paku.”26) Pernyataan Obama tersebut dapat ditafsirkan bahwa AS secara resmi tidak lagi menggunakan doktrin unilateral “go it alone” kecuali dalam keadaan tertentu.27) Pada poin ini, terlihat jelas bahwa AS secara definitif memaparkan niatnya untuk menjual posisinya sebagai “polisi dunia” demi menjadi otak Lead From Behind. Lebih lanjut lagi, apa yang dibayangkan AS tentang transformasi sosial dan politik yang luas dari Arab Spring membuat AS tidak lagi bisa bersikap unilateral. Karena itu, tahun 2011 secara resmi menjadi akhir bagi momen unipolar dan dimulainya era Lead From Behind, yang merupakan proses adaptasi militer AS ke dunia multipolar.

NATO VS Russia

Lead From Behind diterapkan pada Revolusi Warna dan Perang Non-Konvensional, meskipun lebih sering digunakan untuk Perang Non-Konvensional. Berkaitan dengan Revolusi Warna, AS mengatur dari balik layar dengan mempabrikasi seluruh destabilisasi dan menggunakan proksinya yang ada di lapangan untuk melaksanakannya. Selain itu, penting bagi pemerintah yang pro-AS untuk berbatasan langsung dengan negara yang ingin dikudeta rezimnya agar dapat menyalurkan bantuan material ke para penyelenggara dan partisipan. Sebagai contoh, Turki yang berbatasan langsung dengan Suriah menjadi tempat bagi penyaluran bantuan material (Senjata, dll) serta menjadi pintu masuk bagi para jihadis palsu dari mancanegara menuju lapangan jihad yang fatamorgana. Keadaan seperti ini juga bisa berfungsi untuk menekan dan mengintimidasi pemerintah negara target untuk tidak memanfaatkan haknya secara penuh dalam mempertahankan diri dari upaya kudeta, dan dengan “skenario yang tepat” (misalnya: false flag serangan senjata kimia), keadaan seperti ini bisa memberikan jalan bagi intervensi militer secara terbuka dari Pendekatan Adaptif (apalagi jika negara yang berbatasan langsung dengan negara target itu merupakan anggota NATO atau mitra dekat NATO). AS juga bisa memanfaatkan sekutunya untuk menyalurkan material yang diperlukan untuk mengubah Revolusi Warna menjadi Perang Non-Konvensional. Adapun yang terakhir, yang bisa disaksikan secara jelas dalam kasus peran Turki dan Yordania terhadap Suriah, AS menggunakan mitra Lead From Behind sebagai tempat pelatihan bagi pemberontak anti pemerintah28) dan sebagai tempat pengiriman senjata29).

2.6 Rangkuman Teori Militer

Untuk merangkum semua hal dari bagian/seksi ini, John Warden mengajukan gagasan Lima Cincin untuk mengkonsepkan cara terbaik untuk menyerang sebuah musuh. Semakin terpusat lingkaran cincin yang ditargetkan, semakin efektif pula serangannya dikarenakan pusat gravitasinya. Konsep dari Warden tersebut dapat mentransplantasikan dunia militer menjadi sosial untuk penerapan kampanye informasi Revolusi Warna. Ada perbedaan cincin untuk menerapkan konsep politik ke dalam demografi masyarakat umum dan individu yang spesifik, tergantung peradaban/kultur yang ada di dalam negara target. Bagaimanapun, dengan semua cincin itu, cara yang terbaik adalah mengikuti pendekatan tidak langsung Liddel Hart yang mengobrak-abrik OODA Loop yang sangat penting.

Barangkali inovasi yang paling penting dalam peperangan dan terlebih dalam Hybrid Wars adalah Teori Khaos. Dinamika non-linear yang dijelaskan Steven Mann adalah gambaran dari Perang Generasi Keempat, yakni keadaan di lapangan saat ini yang tak tahu ujung akhirnya karena khaos yang terjadi sangat sistematis. Sesuai dengan sifatnya, Teori Khaos berusaha untuk memanfaatkan hal-hal yang kelihatannya tidak dapat diprediksi, sehingga membuat khaos itu memiliki sifat yang tidak langsung dan sepenuhnya mampu menetralkan OODA Loop. Khaos akan jadi konstruktif/kreatif/terkendali apabila ada upaya untuk menggunakan sifat-sifat ini demi tujuan strategis. Revolusi Warna dan Perang Non-Konvensional benar-benar sesuai dengan prinsip ini, sehingga membuat dua strategi ini lebih efektif daripada taktik regime change sebelumnya.

Terakhir, AS telah merintis strategi baru untuk melancarkan perang di dunia multipolar, yakni Lead From Behind. Strategi ini memberikan jalan kepada AS untuk mengalihkan operasi destabilisasi ke sekutunya di kawasan yang berpikiran sama jika prosesnya terlalu mahal atau sensitif secara politik bagi AS apabila melakukannya secara unilateral dan secara langsung. Pada dasarnya perang berbentuk proksi, yang mana AS mengendalikan sumbangsih para sekutunya dari jauh. Strategi baru ini masih seumur jagung dan masih berkembang, namun keikutsertaan Turki dan Yordania dalam Krisis Suriah memberikan sebuah pola yang kuat untuk diikuti dalam memperkirakan arah masa depannya. Selain itu, Polandia ikut membantu dalam mengisi peran struktur selama Kudeta EuroMaidan, namun sejak operasi regime change berhasil dilakukan dalam waktu yang singkat, potensi dalam mendestabilisasi tetangganya tidak terwujud.

3. Full Spectrum Dominance (Mendominasi Segala Bidang)

Pada tanggal 30 Mei tahun 2000, Pentagon menerbitkan sebuah dokumen strategis yang berjudul “Joint Vision: 202030). Secara gamblang dokumen itu bertujuan untuk mencapai Full Spectrum Dominance, (berkuasa dalam segala bidang) yang diartikan sebagai “Persuasif dalam perdamaian; Tegas dalam peperangan; Unggul dalan bentuk konflik apapun”. Departemen Pertahanan Amerika Serikat menguraikan tujuannya tersebut dengan menambahkan bahwa “kemampuan pasukan AS, beroperasi sendiri atau dengan sekutu, untuk mengalahkan musuh dan mengendalikan setiap situasi dalam berbagai operasi militer.”31) F. William Engdahl menulis sebuah buku tahun 2009 tentang perihal ini, di mana dia membuktikan bahwa prioritas utama Amerika Serikat adalah untuk memperoleh dominasi penuh atas ruang lingkup militer konvensional, senjata nuklir, retorika hak asasi manusia dan norma-norma lain, geopolitik ruang angkasa, dan komunikasi.32) Singkatnya, Amerika Serikat tidak hanya ingin mendominasi bola bumi, tapi alam semesta. Semua hal dan apapun itu harus bisa digunakan sebagai senjata atau memiliki semacam signifikansi di medan perang atau kesadaran dari para aktornya, dan Engdahl dengan teliti mendokumentasikan peningkatan strategi Pentagon ini, yang mana dapat dikendalikan oleh mereka. Dia juga menguraikan beberapa metode  termasuk Revolusi Warna, yang digunakan AS dalam upaya untuk mengendalikan Rusia dan Tiongkok.

3.1 Full Spectrum Dominance dan Revolusi Warna

Buku Engdahl tersebut membahas tentang Revolusi Warna dalam satu bab dan bagaimana Revolusi Warna terstruktur secara institusional. Dia juga menyediakan tinjauan detail terkait sejarah Revolusi Warna, penggunaan Organisasi Non-Pemerintah sebagai organisasi terdepan, dan menyebarkannya untuk mengamankan kepentingan energi geostrategis Amerika. Karena itu, para pembaca harus menjadikan karyanya sebagai referensi untuk memperoleh wawasan yang sangat berharga tentang aspek-aspek tersebut. Meskipun demikian, buku Engdahl tidak membahas bagaimana Revolusi Warna dipadukan dengan Perang Non-Konvensional yang menjadi strategi Full Spectrum Dominance.

Mantra Full Spectrum Dominance seperti “persuasif dalam perdamaian, tegas dalan perang, dan unggul dalam bentuk konflik apapun” membentuk tulang punggung Revolusi Warna. Revolusi Warna dimulai dengan kampanye informasi yang menyasar populasi negara target. Kampanye informasi tersebut harus bersifat persuasif dalam menjangkau targetnya seluas mungkin (misalnya, dalam beberapa kasus, mungkin lebih strategis kalau hanya mencapai demografi tertentu agar mereka ‘bangkit’ dan memperburuk fraktur etnis yang ada dalam masyarakat). Ini lah variasi Lima Cincin dari Warden yang relevan dalam menjangkau society dan individu. ‘Sindiran atau ucapan tidak langsung’ dapat dimanfaatkan dalam memberikan pendekatan tidak langsung dan efektif dalam menembus cincin, namun hal ini akan di bahas dalam bagian dua.

Inti dari Revolusi Warna bermuara pada dominasi sosial. Gerakan yang dihasilkan mampu memanfaatkan individu dalam jumlah yang besar untuk menghadapi pemerintah secara terbuka dan berusaha untuk menggulingkannya. Untuk mengumpulkan anggota baru, teknik ideologi, psikologi dan informasi harus dikerahkan. Meskipun ide “gerakan” yang mendominasi lebih disukai, itu bukanlah jadi masalah. Tidak perlu menggapai sebagian besar populasi negara atau ibukota yang ditargetkan agar Revolusi Warna sukses. Apa yang harus dilakukan adalah mengumpulkan banyak orang untuk menciptakan tantangan bagi hubungan masyarakat dan keamanan yang mempertahankan pemerintahan. Kisaran individu yang dibutuhkan agar berhasil melaksanakan Revolusi Warna dapat berfluktuasi, tergantung negara yang ditargetkan, karakteristik kepemimpinan, kekuatan pemerintahan dan aparat keamanan. Dominasi sosial dapat dicapai sekali massa yang kritis dikerahkan melawan otoritas berwenang dan memberikan tantangan khaos yang memang menjadi tujuan gerakan tersebut. Dengan demikian, Revolusi Warna mencoba untuk memperoleh dominasi atas aspek-aspek tak berwujud seperti masyarakat, ideologi, psikologi, dan informasi.

3.2 Full Spectrum Dominance dan Perang Non-Konvensional

Tujuan Full Spectrum Dominance Perang Non-Konvensional lebih mirip dengan tujuan militer konvensional daripada Revolusi Warna. Bedanya, Perang Non-Konvensional lebih tidak teratur, bersifat tidak langsung, dan non-linear dari pada perang biasa, dan karena itu Perang Non-Konvensional punya batas-batas tertentu apakah bisa mendominasi atau tidak. Karena itu, lebih tepat dikatakan bahwa tujuan Perang Non-Konvensional yang berkaitan dengan Full Spectrum Dominance adalah untuk memperoleh sebanyak mungkin dominasi fisik Lima Cincin negara yang ditargetkan, sebelum melakukan intervensi langsung dari luar atau mengubahnya menjadi perang konvensional. Dengan cara ini, Perang Non-Konvensional menginginkan dominasi atas aspek nyata di medan perang namun tidak dengan cara yang sama dengan perang konvensional.

Bagaimanapun, bukan berarti Perang Non-Konvensional kurang berkualitas daripada perang konvensional dalam ranah Full Spectrum Dominance. Bahkan sebaliknya, Perang Non-Konvensional memiliki beberapa keunggulan strategis yang sangat penting. Sebagai contoh, pasukan konvensional negara target benar-benar tidak pernah bisa yakin sejauh mana mereka dapat mengendalikan dan melindungi beberapa wilayah atau infrastruktur dari serangan, sehingga menambah ketidakpastian kapan dan di mana harus menyebarkan unit mereka. Pada akhirnya hal ini akan mempengaruhi keputusan OODA Loop, sehingga mengacaukan tindakan yang menentukan dan mengganggu efektivitasnya.

3.3 Dominasi Dinamika Khaos

Setiap dua bagian di atas, terlihat bagaimana Revolusi Warna dan Perang Non-Konvensional memegang peran spesifik dalam semua strategi Lead From Behind. Bahkan Revolusi Warna dan Perang Non-Konvensional saling melengkapi, sebagaimana Revolusi Warna mencari dominasi tak berwujud dan Perang Non-Konvensional digunakan untuk mencapai bentuknya yang nyata. Kedua strategi ini merupakan produk langsung dari Perang Generasi Keempat, dan karena itu keduanya memiliki benih-benih khaos yang ditanam di dalamnya. Juga telah dijelaskan sebelumnya bahwa khaos yang konstruktif/kreatif/terkendali merupakan salah satu alat yang dapat digunakan untuk mendorong objek-objek kebijakan luar negeri tertentu atau strategi besar (misalnya Balkan Eurasia), karena itu cocok bagi AS untuk mendominasi dengan cara yang sama seperti ruang angkasa, komunikasi, dll.

Jadi, Hybrid Wars, kombinasi antara Revolusi Warna dan Perang Non-Konvensional, cocok dengan pola pikir Full Spectrum Dominance dengan membuat dinamika khaos menjadi kekuasaan. Orang-orang yang berada di balik Revolusi Warna dan Perang Non-Konvensional dapat mengendalikan inisiatif serangan kudeta terhadap negara yang ditargetkan, dengan demikian menempatkan negara tersebut pada posisi bertahan. Khaos yang berasal dari Revolusi Warna dan Perang Non-Konvensional menyebar ke seluruh “sistem” musuh (seperti yang dianggap oleh Warden)33) dan berperan sebagai sebuah “virus” seperti di dalam komputer, sesuai dengan logika Steven Mann, dengan harapan terakhir bahwa virus itu akan benar-benar merusak dan memerlukan “reboot system” (perubahan rezim) untuk menghapus ancaman. Perang Non-Konvensional memberikan unsur kekhawatiran yang sangat besar, yang berfungsi sebagai kekuatan pengganda dalam memperparah dampak khaos dari operasi destabilisasi regime change.

3.4 Rangkuman Full Spectrum Dominance

Sebagai bagian dari strategi resmi Pentagon, militer AS bergerak untuk mendominasi setiap segi kemampuan perang yang ada. Hybrid War menjadi paket hibrida yang unik dalam dominasi tak berwujud dan nyata atas varibel medan perang, yang dengan sendirinya diwujudkan dalam cara yang kebanyakan bersifat tidak langsung. Secara keseluruhan, Hybrid War ini merupakan “khaos terstruktur” yang dapat digunakan sebagai senjata untuk mencapai akhir kebijakan luar negeri tertentu. Dan hal ini dapat berfungsi sebagai strategi dan senjata, melipatgandakan efektivitasnya dalam pertempuran proksi dan sama-sama mendestabilisasi target.

4. Kesimpulan

Teori geopolitik yang paling penting yang mempengaruhi Hybrid War adalah gagasan Brzezinski tentang Balkan Eurasia. Hybrid War dan Balkan Eurasia saling melengkapi sejak kedua konsep ini menggunakan khaos yang terarah. Karena itu, jika Balkan Eurasia adalah strateginya, maka Hybrid War adalah taktik untuk mencapainya. Teori militer membenarkan efektivitas metode tidak langsung dalam Hybrid War. Teori-teori itu juga menunjukkan bahwa Hybrid War berasal dari Teori Khaos dan dapat menjadi contoh pertama dalam penerapannya. Pola Lead From Behind adalah struktur baru yang digunakan AS dalam melancarkan Hybrid Wars dan mendestabilisasi batas luar Eurasia yang tidak stabil melalui perang proksi. Terakhir, gagasan Full Spectrum Dominance merupakan objek terakhir dari semua strategi dan rencana militer AS. Hybrid War adalah bagian asimetris yang unik dalam Full Spectrum Dominance yang bisa menjadi ringkasan terbaik sebagai persenjataan dan upaya mengendalikan khaos.

Selanjutnya baca: Bagian II: Penerapan Revolusi Warna (Cooming Soon)

Catatan Admin:

  • Tulisan ini diambil dari buku yang berjudul, “Hybrid Wars: The Indirect Adaptive Approach to Regime Change” yang ditulis oleh Andrew Korybko yang merupakan analis politik, jurnalis, dan kontributor reguler untuk beberapa jurnal online, serta anggota dewan ahli untuk the Institute of Strategic Studies and Predictions di People’s Friendship University of Russia. Namun, ada beberapa kata atau kalimat yang ditambah oleh admin agar mudah dipahami oleh para pembaca.
  • Ketika mengambil atau mengutip segala materi baik dalam bentuk tulisan maupun hasil terjemahan dari website Eskatogi Islam ini, mohon masukkan tautan ke artikel asli.
Andrew Korybko
Andrew Korybko bersama Pejabat Pertahanan Pakistan
Please share this post

Referensi   [ + ]

Terkait

Leave a Comment