Energi Global dan Politik Dinamis di Timur Tengah

Download

Minyak mentah kembali menjadi komoditas utama terhadap pasar minyak global, dan karena itu, perlu melihatnya lebih dekat untuk menilai tantangan dan peluang utamanya. Artikel ini mengulas dinamika utama minyak dan gas di Timur Tengah untuk menjelaskan bagaimana komoditas di regional tersebut membentuk citra energi global. Penulis memahami hubungan Saudi-Iran dan OPEC yang memainkan perannya dalam landskap energi yang sedang berkembang. Terakhir, perkembangan politik di wilayah yang lebih luas juga akan dibahas, termasuk Turki.

Energi Global

‘Perang atrisi’ di dalam Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) karena mempertahankan sahamnya menimbulkan sebuah pertanyaan akan masa depan organisasi itu, dan lebih luas lagi, perubahan ekonomi politik minyak Timur Tengah. Dengan produksi AS yang sedikit menjadikannya ‘aktor umum’ dalam diskusi pasar minyak internasional, dan persaingan antara Republik Islam Iran dan Kerajaan Arab Saudi membuka lembaran baru, yang tampaknya, terkait kuatnya fungsi Organisasi yang telah diatur pada saat pembentukannya. Persaingan antara Iran-Saudi, yang juga berpengaruh pada konflik di Suriah dan Yaman, merupakan perkembangan utama yang berdampak pada tatanan minyak global secara mendalam. Fungsi utama organisasi minyak bumi tersebut – penetapan harga minyak dengan penyesuaian produksi – dipertanyakan pada pertemuan OPEC 27 November 2014. Setelah pertemuan tersebut, para komentator menunjukkan adanya perubahan struktural dalam kelompok yang mengakibatkan terjadinya tarik-menarik di dalam OPEC dan kemampuan untuk mengelola pasar minyak.1)

 

Kebijakan lama yang mempertahankan harga minyak dengan menetapkan batas tertinggi jumlah produksi kelompok tersebut yang mencegah penurunan jumlah pendapatan dari perdagangan minyak internasional telah menjadi ‘senjata’ utama OPEC untuk siap mempertahankan ‘harga wajar’ minyak mentah. Memang, sejak pendiriannya dan selama ‘oil shocks’ tahun 1970an, OPEC menjadi pemain kunci dalam ekonomi politik internasional akan perdagangan minyak mentah yang menggunakan pengaruh kuota produksi, sebuah kekuatan yang bisa dibilang tidak lagi dinikmati kelompok tersebut. Krisis minyak yang kembali terjadi mendorong kelompok tersebut untuk menjangkau produsen non-OPEC guna meringankan dampak pasang surut sisi permintaan dan pasokan pasar minyak global. Pada latar belakang perubahan struktural, konsultasi yang dilakukan kelompok tersebut dengan produsen non-OPEC seperti Rusia, produsen minyak terbesar ketiga,2) menyediakan mekanisme baru tata kelola minyak. Hal itu karena posisi kepemimpinan Arab Saudi yang tidak diragukan lagi dan kemampuannya untuk mempengaruhi dinamika minyak internasional telah mencapai batasnya3) dan prospek minyak yang lebih dinamis mungkin akan muncul dalam beberapa tahun mendatang. Mengingat volatilitasnya tren pasar minyak internasional serta kemungkinan adanya perubahan pada sisi pasokan dan permintaan minyak global, maka dominasi Saudi dapat berkurang dengan datangnya para pemain pasar baru. “Aktor umum” dalam hal ini produksi Amerika Serikat yang tidak konvensional yang mana sebagian besar tidak lagi aktif, merupakan jawaban atas persaingan pasar Saudi-Iran. Permainan kecil bertahan dikarenakan kuatnya skalabilitas proyek-proyek kecil dari produsen yang terukur. Hilangnya keseimbangan produksi minyak Arab Saudi kemungkinan memperkuat posisi Iran di pasar. Bagaimanapun, kemungkinan Asia akan tetap menjadi tujuan utama ekspor Teheran.

Iran yang kembali Bergabung dengan Pasar Minyak Internasional

Dicabutnya sanksi internasional terhadap Iran pada bulan Januari 2016 membuat Iran bebas dari isolasi ekonomi dan memberi jalan untuk meningkatkan ekspor minyak mentah ke pasar minyak global. Dengan sektor energi yang dimilikinya, Iran fokus memaksimalkan ekspor minyaknya yang pastinya mempengaruhi harga minyak seiring dengan kembali bergabungnya Iran ke dalam ekonomi dunia.4)

Menurut IMF (International Monetary Fund), Prospek Ekonomi Iran cenderung positif dalam bidang ekonomi minyak dan non-minyak. Namun transisi penurunan harga minyak yang sedang berlangsung memberikan tekanan pada para pengekspor yang hanya bisa dikurangi dengan volume ekspor yang lebih tinggi agar meningkatnya pendapatan mereka dari minyak.5)

Setelah dicabutnya sanksi nuklir, Iran dianggap berpotensi meningkatkan jumlah produksi minyak dalam jangka pendek hingga menengah dengan pasokan gas alam yang terus berlanjut. Produksi minyak Iran yang kembali melambung membuat banyak analis terkejut, dan berbeda dengan apa yang diyakini selama ini, dan dilaporkan bahwa produksi Republik Islam tersebut kembali ke tingkat sebelum diterapkannya sanksi pada saat penulisan artikel ini.6)

Pasokan minyak Iran meningkat hampir 3,6 juta barel per hari (mb/d), tingkat terakhir pada bulan November 2011, yakni tingkat sebelum diperketatnya sanksi pada negara tersebut.7) Meningkatnya produksi minyak mentah Iran merupakan kecenderungan yang membuat negara itu berada dalam posisi yang sangat menarik di dalam pasar karena tingkat produksinya kembali ke tingkat sebelum diterapkannya sanksi, dan itu memperbaiki posisi ekspor Iran. Dengan ekspor sekitar 2 juta barel per hari, kini Iran berada di bawah Irak (hampir 4,5 juta barel/hari) dan Arab Saudi (hampir 10,20 juta barel/hari), menempatkannya pada posisi para pengekspor OPEC. Dalam perspektif minyak global, Iran merupakan produsen terbesar keempat setelah Irak, Arab Saudi dan Federasi Rusia. Iran menikmati portofolio konsumen yang cukup stabil, terutama di luar Eropa. Tujuan ekspor utama minyak Iran adalah Tiongkok, Jepang, dan India, negara-negara yang memperkuat permintaan substansial selama beberapa bulan terakhir.8)

Produksi dan ekspor minyak yang tidak terbatas oleh Pemerintah Iran menempatkan National Iranian Oil Company (NIOC) dalam posisi yang unik, namun pada saat yang sama, menimbulkan pertanyaan tentang batas tertinggi produksi. Pernyataan Menteri Perminyakan Arab Saudi yang baru, Khalid Al Falih menunjukkan skeptisisme terhadap kemampuan Iran untuk terus mempercepat percepatan produksi minyak.9)

Eksternalitas masih menjulang tinggi tentang agenda ekonomi Iran yang kembali bergabung. Apa yang masih dipegang oleh Iran adalah sanksi internasional yang tersisa yang mana membuat pemain utama perbankan tetap menjauh. Dengan terus berlangsungnya ‘perang atrisi’ pasar dengan Arab Saudi, Iran mencari opsi untuk melanjutkan aktivitas bisnisnya secara keseluruhan dalam sektor minyak, dan menurut para komentator masih cenderung membutuhkan waktu yang lama.10)

Kelebihan Produksi dan Kelebihan Pasokan Arab Saudi

Perundingan OPEC di DOHA tanggal 17 April 2016 bertujuan untuk mencapai kesepakatan minyak global pertama dalam 15 tahun antara negara-negara penghasil minyak utama dunia. Meskipun demikian, ternyata tujuan pertemuan tersebut tidak mencapai hasil yang meyakinkan.11) Gagalnya perundingan Doha tersebut bertepatan dengan munculnya Pangeran Mohammed bin Salman Al Saud, putra mahkota dan Menteri Pertahanan Arab Saudi, yang berperan sebagai pengambil keputusan utama tentang minyak Arab Saudi.12) Sikap Pangeran Mohammed terhadap rendahnya harga minyak dan desakan pembekuan produksi minyak secara kolektif yang juga diikuti Iran mengindikasikan kesiapan Kerajaan Saudi untuk terus meningkatkan produksi minyak mentahnya. Keputusan Arab Saudi mengakibatkan berlebihnya produksi “minyak mentah” secara terus-menerus, yang mana alasan utama tindakan Saudi tersebut adalah untuk menjadikan minyak mentahnya sebagai “senjata” yang bisa menghapus Iran dari persaingan minyak global. Akibatnya, produksi minyak mentah Arab Saudi mencapai hampir 10,2 juta barel/hari pada bulan April 2016, dan menjadikan Kerajaan tersebut sebagai produsen minyak terbesar secara global.13)

Namun paras Saudi akan minyak berubah dan adanya dorongan keyakinan dan gagasan baru Pangeran Mohammed tentang kebutuhan untuk tidak lagi bergantung pada minyak dalam perspektif jangka panjang. Sebuah blueprint perubahan ekonomi dan sosial yang lebih luas di Arab Saudi mencakup pengadaan dana kekayaan – untuk kedaulatan negara – terbesar di dunia dengan aset lebih dari $2 triliun, restrukturisasi Aramco Saudi – perusahaan energi terbesar Saudi, dan melakukan diversifikasi aset minyak bumi, dan dengan demikian, mengakhiri ketergantungan Saudi terhadap minyak sebagai sumber pendapatan negara.14)

Rencana Arab Saudi untuk mengejar modernisasi ekonomi skala besar untuk mengurangi ketergantungannya pada penjualan minyak mentah mencakup perluasan sebagian industri manufaktur, yakni dengan menggunakan bahan kimia berbasis minyak untuk menghasilkan bahan seperti plastik yang dapat digunakan dalam pembuatan produk lainnya.15)

Pergeseran politik tersebut kemungkinan besar mendapat dukungan substansial dari beberapa negara yang mengkonsumsi energi. Negara ini dikritik karena penggunaan energi yang terlalu banyak di masa lalu dan kebutuhan untuk perbaikan pasar energinya (khususnya masalah subsidi energi) belum selesai. Setelah mengatakan hal ini, tingkat konsumsi energi internal Arab Saudi dibahas dalam konteks efisiensi energi dan liberalisasi sistem secara bertahap yang sangat bergantung pada subsidi negara. Pergerakan menuju diversifikasi ekonomi seperti yang dibahas di atas merupakan langkah atas tantangan energi internal maupun eksternal dengan taraf diversifikasi, dan barangkali, liberalisasi sektor energi di masa mendatang memenuhi asumsi ambisius sebagaimana yang dikemukakan oleh para pemimpin Kerajaan.

Arab Saudi dan Yaman

Perhatian kurang tertuju pada ujung semenanjung Arab, sementara banyak fokus ditujukan pada Perang Saudara Suriah dan dampaknya secara regional dan internasional. Benturan Konflik yang terjadi di Yaman telah menjadi rebutan antara Arab Saudi dan Iran. Setelah berakhirnya Perang Sipil Yaman, sebuah koalisi negara-negara Arab yang dipimpin oleh Arab Saudi mendukung pemerintah Yaman yang diperebutkan di dalam negeri saat melakukan serangan udara terhadap pihak yang dianggapnya sebagai pemberontak bersenjata, Houthi. Hubungan Arab Saudi-Yaman memiliki sejarah yang panjang tentang dendam politik, sebuah tren yang berlanjut sampai sekarang.16)

Namun, konflik yang terakhir ini terjadi dalam waktu yang sangat kompleks. Setelah penerapan sanksi, Iran menyuarakan penolakan terhadap intervensi militer Arab Saudi di Yaman karena dapat mempengaruhi keseimbangan kekuasaan di wilayah tersebut. Koalisi yang dipimpin Arab Saudi di Yaman yang dimulai pada tahun 2015 didukung oleh sembilan negara Arab. Sejak Eni Emirat Arab (UAE) menjadi pendukung utama Arab Saudi sampai Juni 2016, negara tersebut kemudian memutuskan penghentian operasi tempur untuk memberikan tekanan pada Saudi. Berakhirnya operasi tempur Uni Emirat Arab kemungkinan akan mengubah dinamika lapangan di Yaman dan mungkin membatasi kemampuan Arab Saudi untuk menghadapi perang proksi. Setiap perubahan keseimbangan kekuatan dalam konflik tersebut menjanjikan sebuah keuntungan bagi kepentingan Republik Islam, saingan utama Arab Saudi di regional.

Politik Energi Regional dan Pemain Lainnya

Irak dan KRG

Melimpahnya minyak berdampak pada produsen yang ada di Timur Tengah. Irak, produsen OPEC terbesar kedua setelah Arab Saudi, berusaha meningkatkan produksi minyaknya sampai 6 juta barel/hari pada tahun 2020, sebuah strategi yang dipandang skeptis oleh perusahaan minyak utama yang beroperasi di negara ini. Pada tahun 2015, kemampuan Pemerintah Federal Irak untuk membayar perusahaan minyak yang terlibat dalam produksi minyak mentah di negara tersebut telah terpengaruh oleh masalah keuangan yang memburuk karena rendahnya harga minyak dan perang yang terjadi di bagian utara negara tersebut. Politik dalam negeri Irak – Konflik Pemerintah Federal dengan Pemerintah Daerah Kurdistan (KRG) dan pertikaian politik di Bagdad – memberikan tekanan terhadap strategi peningkatan produksi minyak negara tersebut.17)

Fragmentasi struktur tata kelola energi Irak tetap merupakan tantangan utama. Perselisihan yang telah berlangsung lama mengenai pembagian sumber pendapatan minyak antara Pemerintah Pusat di Baghdad dan KRG diperburuk oleh rendahnya harga minyak mentah yang berdampak pada aliran sumber pendapatan berbasis minyak dan memperpanjang kerenggangan yang terjadi antara Bagdad dan Erbil.

Agenda negara tersebut meningkatkan volatilitas tawar-menawar antara Baghdad dan Erbil, khususnya status wilayah Kirkuk yang kaya minyak, dan hal ini membuat tantangan politik dan keamanan di Irak menjadi tinggi.18) Ibukota KRG Erbil telah menyaksikan pembagian pendapatan minyak yang turun secara signifikan yang pada gilirannya bertepatan dengan pergolakan politik dan ketidakpastian di Baghdad. Titik geopolitik KRG – yang terhubung dengan Turki dan kemampuan untuk mengekspor minyak mentah secara langsung ke negara konsumen melalui Turki – memberikan keuntungan kebebasan perdagangan eksternal Erbil sambil desentralisasi dari Pemerintah Pusat di Baghdad. Ekspor minyak KRG terus berlanjut melalui jalur pipa yang melewati Turki yang menghasilkan pendapatan yang jauh lebih rendah karena harga minyak yang rendah. Pada bulan Mei 2016, KRG mengekspor minyak sekitar 0,5 juta barel/hari menggunakan pipa minyak.19) Opsi transit dan transportasi baru telah ditinjau oleh Iran dan KRG untuk memperkuat posisi terakhir mereka di pasar perdagangan minyak. Latar belakang ketidaksepakatan antara Bagdad dan Erbil adalah sebuah gagasan yang menghubungkan KRG dengan Iran Barat melalui pipa minyak khusus disusun pada tahun 2014.20)  Jika gagasan itu selesai disusun, jalur pipa tersebut akan meningkatkan dan mendiversifikasi keamanan permintaan minyak KRG dan mungkin akan memunculkan taraf persaingan vis-à-vis dengan yang dimiliki di Turki. Jalur pipa minyak membawa dimensi baru ke dalam persaingan bagaimana sumber pendapatan harus dikelola dan diatur antara otoritas regional Kurdi dan pemerintah pusat di Bagdad. Diskusi yang sedang berlangsung di mana KRG mengatakan bahwa pihaknya siap untuk mencapai kesepakatan dengan pemerintah pusat asalkan mendapat bagian 1 miliar Dollar AS per bulan. Meskipun kesepakatan semacam itu sebetulnya tidak mungkin terjadi dalam konteks politik saat ini, namun dengan mempercepat jalur pipa minyak yang diperjuangkan oleh Iran akan meningkatkan ekonomi KRG.

Turki, Israel dan Rusia

Selain negara-negara OPEC di kawasan ini, kemungkinan Turki akan kembali memasuki fase baru dalam hubungannya dengan Israel dan Rusia. Memburuknya hubungan antara Turki dan Israel terjadi sejak kedatangan partai penguasa Justice and Development (AK Parti) di Ankara. Hubungan mereka tiba-tiba memburuk setelah Pertemuan Tahunan Forum Ekonomi Dunia di Davos21) tahun 2008, dan dua tahun setelah itu, terjadi peristiwa serangan pasukan pertahanan Israel terhadap armada Gaza. Baru-baru ini, ketegangan politik antara Turki dan Rusia merupakan dilema kebijakan luar negeri Ankara. Jatuhnya pesawat militer Rusia yang ditembak oleh pasukan Turki di sekitar perbatasan Suriah-Turki pada bulan November 2015 menyebabkan dialog kebijakan Ankara-Moskow jadi terhenti – termasuk dalam bidang energi.22) Sementara mekanisme kebijakan rekonsiliasi Ankara dengan Israel dan Rusia belum dapat dibangun, namun mekanisme tersebut membuka sejumlah peluang terkait energi. Pembatalan proyek pipa gas alam Turkish Stream senilai 11 miliar USD yang dirancang untuk diversifikasi rute ekspor gas Rusia merupakan pukulan telak bagi mimpi Ankara untuk memperoleh sumber tambahan pasokannya untuk memenuhi permintaan energi yang meningkat di negara tersebut. Panasnya hubungan Rusia-Turki dengan mudahnya membalikkan kebijakan tersebut, dan sebagaimana Wakil Pemimpin Gazprom Rusia (perusahaan gas alam) mempertegas bahwa mereka siap untuk berdialog.23)

Setelah lebih dari enam tahun terjadinya perpecahan antara Israel dan Turki, tanggal 27 Juni 2016 kedua belah pihak mengumumkan kesepakatan rekonsiliasi.24) Normalisasi hubungan Israel-Turki diharapkan berkembang dalam hal keamanan energi dan diversifikasi energi, atau secara lebih luas lagi, kerja sama ekonomi dalam energi.25) Produksi lepas pantai Israel sebagian besar ditujukan untuk ekspor dan membutuhkan jaringan pipa gas jarak jauh untuk memberikan sumber daya ke pusat daerah yang membutuhkan. Jika disadari, Turkish Stream terhubung ke Rusia melalui Laut Hitam dan interkoneksi lepas pantai ke infrastruktur gas Israel meningkatkan aspirasi lama yang diimpikan Ankara untuk menjadi pusat perdagangan energi di kawasan.

Hubungan Saudi-Iran – Uji Lakmus atas Pasokan Minyak Global

Perkembangan ekonomi-politik saat ini di Timur Tengah telah berkembang seputar persaingan antara Teheran dan Riyadh. Dalam bidang perminyakan, konflik antara dua kekuatan regional tersebut pada dasarnya bersifat ekonomi. Kembali bergabungnya Iran ke dalam ekonomi global dan kesiapan negara tersebut untuk memperoleh keuntungan dari perdagangan minyak setelah pencabutan sanksi memberi tekanan pada Saudi dan juga negara-negara OPEC dan non-OPEC lainnya. Di dalam OPEC, Saudi bersikeras untuk mengurangi produksi ke tingkat yang menguntungkan, dan hal itu menyebabkan terjadinya bumerang bagi Saudi karena sulitnya memastikan anggota kelompok untuk mematuhi dan melaksanakan peraturan tersebut. Jangankan di dalam OPEC itu sendiri, fokus Saudi terhadap Iran saja tidak mungkin memberikan respon terukur terhadap pasokan minyak global. Memang, pengurangan jumlah produksi sedikit atau tidak berpengaruh, bahkan jika dipenuhi oleh Teheran, maka Saudi akan berhadapan dengan negara produsen non-OPEC, Rusia. Untuk membuat pengaruh yang signifikan, Arab Saudi harus mencapai kesepakatan dengan Rusia dan Iran dalam hal pengurangan jumlah produksi.26)

Setelah pertemuan antara Pangeran Arab Saudi Mohammed dan Presiden Rusia Putin, pada 27 Januari 2016 Menteri Energi Alexander Novak mengumumkan bahwa Rusia siap untuk membahas pemotongan pasokan pada tingkat 3-5 persen atau 300.000 – 500.000 barel per hari. Bagaimanapun, ada sedikit bukti kalau kesepakatan tersebut dapat bergerak ke arah yang lebih baik, dan seperti yang diprediksi oleh analis pasar terkemuka, kesepakatan semacam itu tidak mungkin terwujud.27)

Kesimpulan

Energi global terus dikendalikan oleh ekonomi-politik akan produksi dan perdagangan minyak. Timur Tengah terus memainkan peran yang sangat besar akan pasokan minyak mentah global, begitu pula dengan struktur di dalam OPEC. Produksi di luar kelompok tersebut telah meningkat dalam beberapa tahun terakhir dengan pasokan baru dari produksi Amerika Serikat yang tidak konvensional, sebuah tren yang tampaknya terus berdampak pada produksi konvensional. Buktinya adalah persaingan Saudi-Iran mengenai pangsa pasar setelah kembalinya Iran ke dalam perdagangan minyak internasional pada tingkat sebelum pemberlakuan sanksi. Pasar energi telah menciptakan lingkaran penuh beralih ke fundamental: yakni minyak ada di sana untuk tetap bertahan dan memainkan peran penting di era penyebaran surplus minyak yang lambat.

 

Referensi utama:

http://valdaiclub.com/a/valdai-papers/valdai-paper-53-global-energy/

 

Ketika mengambil atau mengutip segala materi baik dalam bentuk tulisan maupun hasil terjemahan dari website Eskatogi Islam ini, mohon masukkan tautan ke artikel asli.

Please share this post

Referensi   [ + ]

Terkait

Leave a Comment